Mengapa Kita Dihidupkan?

Hidup di dunia ini bukan hanya untuk makan, minum dan kawin saja. Sekali lagi, tidak.


Dahulu waktu saya berumur 8 tahun, saya pernah bertanya kepada Ayah (kakek) saya, “Ayah, untuk apa yah kita hidup?” Kakek langsung tersenyum setelah mendengar pertanyaan saya itu, kemudian dia berkata, “Anakku, pertanyaanmu itu sungguh bagus sekali, tapi kamu nda usah terlalu memikirkannya yang penting bagi kamu itu harus rajin sholat dan membaca quran saja yah?” sambil mengusap kepala saya.

Waktu itu saya berpikir kalau Ayah tidak menjawab pertanyaan saya. Seiring berjalannya waktu, akhrinya saya baru menyadari ternyata Ayah saya sudah menyinggung tujuan hidup di dunia ini.

Ketahuilah…

Hidup di dunia ini bukan hanya untuk makan, minum dan kawin saja. Sekali lagi, tidak. Kalau memang demikian, apa bedanya dengan binatang?

Allah Swt telah lama memberikan arahannya, Firman Allah Swt.

“Fa aqim wajhaka lid dini hanifa, fithratallahi al lati fatharan nasa ‘alaiha, laa tabdiila li khalqillah, dzalikad dinul qayyimu wa laakinna aksaran nasa laa ya’lamun”

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum : 30)

Mengetahui tujuan hidup saja tidaklah cukup, sebagai orang yang beriman kita telah diberikan tugas mulia dan dituntut untuk memenuhi tugas tersebut.

Tugas apakah itu? Allah langsung menjawab dengan Firmannya:

“Wa maa khalaqtal jinna wal insa illa liya’budun”

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)

Suatu tujuan tidak akan tercapai kecuali dengan mengerjakan tugas tersebut dengan sebaik-sebaiknya. Dan kita tahu bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara bukan selamanya. Jadi, jangan pernah lupa dengan tugas hidup yang telah diberikan. Seriuslah! Seperti kita fokus dalam mengerjakan suatu tugas penting. Kenapa? Karena tak satupun di antara kita yang dapat hidup abadi. Kehidupan pasti akan menemukan titik akhir. Allah Swt berfirman :

“Afahasibtum annamaa khalaqnakum ‘abasaw waannakum ilayna laa turja’un. Laa ilaha rabbul ‘arsyil kariim.

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia”. ( QS. Al-Mu’minun 115-116)

Selanjutnya, jangan pernah kita mengira apapun yang pernah dan apa yang kita lakukan selama berada di dunia ini dibiarkan begitu saja tanpa ada balasan setimpal. Ingat! Bahkan sekecil atom pun akan dimintai pertanggungjawaban oleh-Nya. Allah Swt berfirman :

“Ayahsabul insanu ay yutraka suda”

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” ( QS. Al-Qiyamah : 36 ).

Kembali ke permasalahan awal. Persoalannya sekarang adalah pada tugas kita. Kerjakan tugas utama tersebut dengan sebaik-baiknya, lalu sempurnakan. Itu saja. Oleh sebab itu, setiap orang yang mengaku bahwa dirinya muslim hendaklah dia berusaha dengan maksimal untuk merealisasikan pengabdiannya kepada Sang Khalik di manapun dan dalam kondisi apapun itu.

Pada setiap gerak dan diam kita, ucapan dan tingkah laku kita, bahkan sampai kepada getaran hati kita yang teramat dalam sekalipun, hendaklah selalu berarti di sisi-Nya. Jangan biarkan satu nafas pun yang keluar dengan sia-sia. Dengan begitu kita senantiasa mendapat pahala dan ridha-Nya

IBADAH = PAHALA, itulah janji Allah Swt.

Abdullah bin Abdul Aziz al-Li mengatakan, “Kita diciptakan sebagai manusia dengan tabiat dan karakter yang khusus. Artinya gabungan dua makhluk Allah; Malaikat dan Iblis. Malaikat orientasinya selalu pada aspek spiritual, tunduk dan ingin selalu dekat di sisi-Nya. Sementara Iblis identik dengan kesombongan dan kerusakan serta kedurhakaan. Maka, setiap manusia berbeda tingkah laku lahir dan batinnya. Dilihat siapa di antara dua sifat makhluk tersebut yang mendominasi dalam jiwanya. Hina atau mulia sejalan dengan karakter dan tabiat setiap kita.”

Abdullah bin Wahhab r.a berkata, “Semua kenikmatan dunia hanya satu kenikmatan, kecuali kenikmatan ibadah. Ibadah mempunyai tiga kenikmatan: (1) Ketika sedang beribadah, (2) Ketika sedang diingatkan untuk beribadah, dan (3) Ketika mendapatkan pahalanya di akhirat kelak.” (Ibnu al-Kharrath, ash-Shalah wa at-Tahajjud)

Saatnya kita semua berusaha sedini mungkin mengembalikan tujuan hidup kita dengan tujuan yang sesungguhnya. Beribadah semata kepada Allah Swt.

Wallahu a’lam.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
2
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ahmad Mushawwir
Ahmad Mushawwir, adalah seorang Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta juga Penerima Beasiswa Santri Berprestasi disana. Ia juga Merupakan Asisten Dosen Prodi Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2018-2019. Pernah Menjadi Presenter di Internasional Seminar of Gender in Commemorating 51 Anniversary of UIN Imam Bonjol Padang 2017.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals