Gadget dalam Genggaman Kita atau Kita dalam Genggaman Gadget?

Ingat! orang yang ketinggalan zaman memang kelihatannya bodoh. Namun orang yang tergerus arus zaman jauh lebih bodoh.


Suatu malam, dalam sebuah kelas menulis kecil-kecilan yang kebetulan pematerinya Mas Dona, CEO artikula.id, ada salah satu temanku, sebut saja  Ucok, ia bertanya cara menghindari godaan gadget yang mengganggunya saat membaca dan menulis.

Mungkin temanku yang manis itu memiliki masalah kecanduan gadget. Entah itu dari sosial medianya, karena dengar-dengar ia sedang LDR-an dengan pacarnya. Atau mungkin dari game online, sebab aku juga sering memergokinya main game saat berak. Maklum generasi micin.

Btw, tidak dapat dipungkiri, di era yang kebanyakan orang menyebutnya four point zero atau apa itu, banyak masyarakat yang kecanduan gadget. Baik yang tua apalagi yang muda, di warung kopi atau di mana pun, bahkan dalam kondisi apa pun. Mereka tidak pernah lepas dengan benda genggaman tersebut. Seperti temanku si Ucok tadi, yang berak saja masih setia dengan gamenya. Demi apa coba? Demi rank dalam game yang sama sekali emaknya tidak akan pernah bangga, meski terbaik nomer 1 se-planet.

Sebenarnya gadget memiliki banyak manfaat bagi kehidupan, salah satunya, dapat mendekatkan yang jauh. Seperti kisah asmara Ucok dengan kekasihnya. Meski terpisah oleh jarak, tapi kemesraan dapat terus tersalurkan. Dengan gadget mereka tetap bisa berkomunikasi dan saling tatap muka. Hal ini membuktikan bahwa gadget dapat meringankan beban seseorang. Apalagi beban seorang bucin. Beban rindu misalnya hehehe.

Selain itu, gadget juga memiliki pengaruh sebaliknya, yakni dapat menjauhkan yang dekat. Lagi-lagi hal ini dibuktikan oleh ulah lucu temanku, siapa lagi kalau bukan si Ucok.

Aku sering ngopi dengannya, tapi ia tidak pernah lepas dari gadgetnya. Bahkan saat aku bicara A I U E O panjang kali lebar kali tinggi pun ia tetap asik sendiri dengan kekasihnya yang jauh entah di mana itu. Lalu ngapain ia ngajak aku ngopi. Toh buat apa fisik kita dekat, tapi masih ada gadget yang menjadikan sekat. Unfaedah.

Sekarang pertanyaannya, apakah kita yang sedang menggenggam gadget, atau justru tanpa sadar kitalah yang sedang dalam genggamannya? Atau mungkin di saat kita menggenggamnya, saat itu juga kita dalam genggamannya. Ah, entahlah.

Yang terpenting sekarang, jangan sampai kita konyol seperti cerita si Ucok tadi, hehehe. Berak kok masih sempat main gadget. Bayangkan saja, di dalam kamar mandi sambil teriak-teriak “maniac, ayo savage ayo savage”, kan gila. Bahkan taik yang keluar pun akan tertawa melihatnya. Wkwkwk.. 

Apa yang terjadi pada si Ucok pasti juga dialami kebanyakan orang. Karena gadget, tak ubahnya narkoba, yang memberi candu kepada para pemakainya. Orang yang sudah kecanduan memang sangat sulit untuk berhenti. Namun siapa yang salah? Orang tuanya? Lingkungannya? Atau salah negara? Atau jangan-jangan ini semua salah si Ucok?
Ah, nampaknya sangat tidak perlu kita menyalah-nyalahkan. Sebab suatu persoalan tidak akan pernah selesai hanya dengan menyalahkan. Lebih baik cari solusi.

Orang yang kecanduan gadget memiliki sebab yang berbeda-beda. Ada yang candu karena suka main game, ya seperti si Ucok tadi. Ada juga yang karena sosial media dan lain sebagainya. Namun sebagai makhluk berpikir, seharusnya kita mampu memanfaatkan gadget untuk hal-hal yang lebih positif. Dan tentunya kita juga harus mampu mengerti kapan dan di mana saja waktu yang tepat untuk menggunakannya. Jangan sampai di setiap waktu, dan di setiap tempat, sehingga tanpa sadar menjadi budak android.

Ingat! orang yang ketinggalan zaman memang kelihatannya bodoh. Namun orang yang tergerus arus zaman jauh lebih bodoh.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
2
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
1
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
28
Suka
Ngakak Ngakak
2
Ngakak
Wooow Wooow
7
Wooow
Keren Keren
7
Keren
Terkejut Terkejut
4
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals