Islam Sebagai Wujud Perdamaian

Islam datang dengan prinsip-prinsip kasih sayang, perdamaian, persamaan, keadilan, dan persaudaraan. Serta menghargai setiap perbedaan keyakinan dalam beragama.


Kondisi agama saat ini kian memprihatinkan khususnya Islam. Hal ini bisa kita lihat peledakan Bom Bunuh diri di Kabul Afghanistan waktu perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, tepatnya pada hari Rabu tanggal 21 November 2018 yang menewaskan sebanyak 43 orang dan 82 mengalami luka-luka akibat ledakan bom tersebut. Ashraf Ghani preseiden Afghanistan mengatakan “Ini kejahatan tak termaafkan, Rabu 21 November sebagai hari berkabung Nasional”.

Kejadian tersebut menginstrumenkan bahwa Islam sering digadang-gadang sebagai wajah agama yang penuh kekerasan. Islam sudah kehilangan relevansi pemaknaan Islam sendiri, yang mana Islam yang seharusnya diartikan sebagai Agama perdamaian malah sebaliknya sebagai wajah agama yang manakutkan dengan kejadian disharmornis yang telah terjadi.

Baca juga: Kontroversi Jihad: Modernis Vs Fundamentalis

Kejadian na’as tersebut tidak hanya terulang satu dua kali, akan tetapi akan terus berkelanjutan, terjadinya bom bunuh diri yang aktornya itu adalah orang Islam sendiri. Banyak dari saudara kita yang telah menjadi korban seseorang yang kurang tepat dalam memahami Agama. Dengan dalih Jihad fi sabilillah atau berjuang dijalan Allah dengan menggunakan kekerasan atau tindakan disharmonisasi kepada sesama makhluk yang telah diciptakan dengan fungsi dan tujuan yang sama yaitu membangun peradaban yang makmur.

Loading...

Akan tetapi hilanglah tujuan tersebut seketika apabila diaplikasikan dengan cara yang salah, apalagi menggunakan Ayat Al-Qur’an sebagai tombak ujungnya untuk mencapai tujuanya.

Terma khusus yang digunakan para muslim ekstrimis yaitu jihad. Secara terminologis jihad ialah mengoptimalkan usaha dengan mencurahkan segala potensi dan kemampuan baik perkataan, perbuatan, ataupun apa saja yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. M Quraish Shihab menjelaskan tentang jihad yaitu cara untuk mencapai tujuan dan metodenya di sesuaikan dengan tujuan yang ingin di capainya. Namun ketika terjadi salah pemaknaan terhaadap jihad maka suatu hal yang terjadi adalah peperangan, kekerasan, dan terorisme.

Jihad atau para pemikir Barat mengenalnya dengan perang suci, digambarkan dengan suatu kejadian untuk menegakkan agama dengan ajaran-ajaran yang sesuai dengan syariat Islam. Namun di situ bagaimana proses seseorang untuk memahami dan memakanai agama Islam secara benar, maka hal yang tidak mungkin terjadi adalah kekerasan lewat terorisme dan pengeboman.

Dalam sejarah panjangnya Islam memang terpecah-pecah di mulai dari kepemimpinan Sayyidina Ustman yang telah terjadi beberpa konflik, dan puncaknya setelah kepemimpinan sayyidina Ali. Berangkat dari rasa kekecewaan terhadap Sayyidina Ali, maka terpecah belah menjadi beberapa firqah dari pengikut Ahl bait yaitu Syiah, Khawarij yang merupakan kelompok yang mersakan kekecewaan terhadap Sayyidna Ali dan Ahl sunnah wal jamaah sebagai penjaga segala yang telah dijalankan nabi Muhammad SAW.

Tinjauan Al-Qur’an mengenai pertama kali diizinkanya jihad terdapat dalam Q.S Al-Hajj ayat 39-40 yang artinya: “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”

Marilah kita tinjau ulang surat yng pertama kali turun untuk diizinkanya berperang. Secara tersurat dan tersirat dalam Al-Qur’an surat Al-hajj ayat 39-40 yang mengandung nilai atau pesan utama.

Baca juga: Jihad Membela Negara: Perspektif Tafsir Maqashidi

Pertama, penghapusan penindasan dalam sejarahnya nabi Muhammad dan para sahabat dan pengikutnya disakiti dan di tindas.

Kedua penegakkan kebebasan beragama, yang mana pada masa lampau kaum kafir makkah tidak memberikan kebebasan kepada masyarakat dalam memilih agama bahkan di paksa untuk masuk agama yang notabenya menyembah berhala. Sehingga diriwayatkan pada tahun ke-6 H para kaum kaffir melanggar dari perjanjian hudaibiyah dan pada tahun ke-7 H melakukan komunikasi diplomatis dan kedua belah pihak sepakat bahwa muslim boleh melakukan ibadah ritual keagamaan.

Ketiga penegakkan perdamaian, yaitu sebagai pesan utama dari sebuah pembolehan perang ketika kemenangan di capainya.

Islam datang dengan prinsip-prinsip kasih sayang, perdamaian, persamaan, keadilan, dan persaudaraan. Serta menghargai setiap perbedaan keyakinan dalam beragama. Islam hadir untuk menyelamatkan, membela, dan mneghidupkan kedamaian. Karena bagaimana pun juga islam adalah wajah agama yang Rahmatan lil ‘alamin, yaitu dengan kasih sayang seluruh umat manusia. Seperti halnya nabi membangun persaudaraan kaum anshar dan kaum muhajirin.

Sehingga dengan kuatnya perdaudaraan tersebut melahirkan kedamaian dalam umat islam maupun non-Islam baik dalam segi sosial dan budayanya. Seperti yang dikatakan Zayed Yasin, seorang ahli rekayasa biomedis dan mantan ketua Havard Islamic Society, “pada tingkat yang paling dasar, jihad adalah suatu perjuangan terus menerus agar menjadi pribadi yang baik dan bermoral”. Jika kita terus terfokus pada media yang terus menyeru jihad yang berimplikasi pada peperangan dan kekerasan maka pertama yang harus kita ketahui adalah makna jihad itu sendiri.

Artikel lainnya: Urgensi Jihad dalam Islam dan Perdamaian

Loading...

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
2
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
6
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
M. Hasan Abdillah
M. Hasan Abdillah. Mahasiswa di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dan sebagai karyawan di salah satu toko di yogyakarta. Aktiv di beberapa organisasi internal maupun yang eksternal, salah satunya yaitu KMNU ( Keluarga Mahasiswa Nahdlotul Ulama) dan yang internal UKM Jamiatul Qurro Wal Huffadz Al Mizan pada divisi Tafsir. juga aktiv mengajar di salah satu TPA yang ada di yogyakarta. Saya tinggal di Kauman Yogyakarta.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals