Ijtihad Kolektif di Akar Rumput yang Mendebarkan

Yang harus dipertimbangkan adalah jangan sampai tampat ibadah dijadikan kambing hitam jika terjadi bahaya dan kerusakan yang lebih besar di kemudian hari.


Foto: Suasana salat Jumat pada 20 Maret di Laboratorium Agama Masjid UIN Sunan Kalijaga dengan menerapkan penjarakan antarjamaah

Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah ditutup oleh Kerajaan Saudi, sebagai ‘khadim al-haramain‘ (pelayan dua tanah Haram), pada 5 Maret 2020, dan diikuti oleh penutupan Masjid Al-Aqsa di Yerusalem pada 14 Maret. Masjid-masjid lain di dunia Arab juga banyak yang ditutup. Masjid-masjid di Uni Emirat Arab pada 17 Maret. Masjid al-Azhar juga ditutup sejak 21 Maret, walau fatwa Imam Besar Al-Azhar tentang bolehnya meninggalkan salat Jumat dan jamaah sudah keluar seminggu sebelumnya. Kebijakan yang sama diambil oleh Turki, Lebanon, Iraq, Jordan dan Malaysia. Lama penutupan bervariasi, dari dua dan empat minggu, sampai tidak terbatas, yakni sampai dianggap aman. Saudi mengambil kebijakan terakhir ini.

Indonesia agak berbeda. Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa pada 16 Maret tentang bolehnya meninggalkan salat Jumat karena wabah Covid-19. Tepatnya: “Dalam kondisi penyebaran Covid-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan salat Jumat di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi normal kembali dan wajib menggantikannya dengan salat zuhur di tempat masing-masing.”

Baca juga: Covid-19 dan Tantangan Masyarakat Muslim Indonesia

Fatwa ini tidak segera ditindaklanjuti oleh takmir-takmir dengan penutupan masjid-masjid, barangkali karena “kondisi penyebaran Covid-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa” itu belum mereka lihat di daerah mereka. Masjid Istiqlal memang tidak menyelenggarakan salat Jumat pada 20 Maret, tetapi muncul persoalan karena tetap diselenggarakan salat Duhur berjamaah. Belakangan diklarifikasi bahwa itu terjadi karena ‘dipaksa’ oleh para jamaah yang terlanjur datang. Takmir tidak mempunyai pilihan lain.

Tetapi memang situasi masing-masing wilayah dan daerah di Indonesia tidak sama. Ada yang masuk zona merah dan kuning, tapi ada juga zona hijau. Takmir-takmir di daerah-daerah yang masuk dalam zona hijau masih menganggap aman untuk salat Jumat dan jamaah di masjid. Bahkan yang ditentukan sebagai zona kuning pun tidak mudah bagi takmir untuk menutup masjid. Di sinilah pentingnya identifikasi zona itu, agar ulama, tokoh agama dan para takmir dapat menentukan sikap mereka terhadap kegiatan peribadatan di masjid.

Di Yogyakarta sudah di-release data pasien dengan pengawasan (PDP) dan asal desanya, tapi belum ada informasi kategorisasi zona. Namun demikian, dalam minggu ini beberapa masjid di Yogyakarta ditutup, walau sebagian besar belum. Masjid UGM tidak menyelenggarakan salat Jumat pada 20 Maret, tetapi masjid UIN masih menyelenggarakan. Sekitar 10 masjid di Kotagede dikabarkan telah ditutup.

Masjid kampungku, Kadipolo Berbah, belum ditutup. Ada 1 masjid jami’, 1 masjid kecil (setara mushalla), tempat saya menjadi ketua takmir, dan 1 mushalla Banat (khusus perempuan);Salat Jumat masih berjalan walau khutbah dan salat diselenggarakan secara singkat dalam waktu sekitar 15 menit. Mulai subuh 25 Maret ini penjarakan 1 meter antarjamaah mulai ditetapkan. Sejumlah jamaah, sekitar 50%, sudah memilih salat jamaah di rumah. Wacana penutupan baik untuk salat Jumat maupun jamaah sudah muncul. Tinggal menunggu waktu saja.

Baca juga: Hubungan Sesama Manusia pada masa Wabah Virus Corona dalam Perspektif Hadis

Di sinilah dinamika ijtihad ulama, kiai, tokoh agama dan takmir masjid di akar rumput yang mendebarkan. Tentu bukan ijtihad dalam menentukan hukum boleh tidaknya meninggalkan salat Jumat dan jamaah di masjid, karena sudah ada fatwa MUI dan tausiyah ormas-ormas Islam. Tetapi ijtihad dalam menentukan dan memutuskan masjid ditutup dan tidak menyelenggarakan salat Jumat dan jamaah. Ini faktanya tidak mudah.

Satu sisi jamaah masih ada yang menuntut diadakan salat Jumat dan jamaah, dan pada sisi lain harus waspada pada kondisi darurat wabah. Dinamika ini terlihat juga, misalnya, saat takmir masjid di Bandung beberapa saat lalu memasang spanduk penutupan masjid dari kegiatan salat Jumat, ada sejumlah orang yang menurunkannya.

Dari video yang beredar terdengar komentar bahwa sebagian massa mencurigai penutupan itu karena faktor politik. Saya melihat mereka ini orang-orang yang mencintai agamanya, dan mungkin saja sudah tahu fatwa keagamaan tentang wabah, namun diliputi curiga politik, sisa-sisa politik elektoral. Belakangan tiga pelaku penurunan baliho meminta maaf kepada publik dan umat Islam. Hal-hal semacam ini menandai dinamika di akar rumput.

Baca juga: Wabah Corona dan Imaji Religiositas yang Timpang

Tentu sedih melihat penutupan masjid dari aktivitas salat Jumat dan jamaah. Tetapi, beragama harus dengan ilmu dan akal sehat. Apalagi, agama sendiri membuka pintu kemudahan (rukhsah) saat terdapat kesulitan, dan pintu dharurah saat terdapat bahaya (darar) atau potensi dharar yang besar. Potensi dharar itu sudah jelas ada, karena ini adalah pandemi, tapi ulama, tokoh agama dan takmir masjid/mushalla di level bawah masih melihat perkembangan day-to-day. Ada dilema dan kegamangan di sana.

Di sinilah, ulama, tokoh agama dan takmir masjid/mushalla mesti bijak dan waspada, dan pada saatnya harus membuka pintu darurat itu, yakni dengan cara menutup masjid dan mushalla. Apalagi jika pemerintah telah menetapkan suatu daerah masuk dalam zona kuning, apalagi zona merah. Hal itu perlu dan niscaya dilakukan, agar tidak terjadi bahaya dan kerusakan yang lebih besar.

Memang muncul komentar akhir-akhir ini mengapa pasar, kafe, dan mall masih buka, sementara masjid dan mushalla tutup. Ini menimbulkan semacam kecemburuan. Bahkan ada yang memolitisasi bahwa ini adalah upaya-upaya untuk menumbuhkan fobia masjid.Untunglah banyak ulama yang segera menolak logika ini. Kita Tidak perlu memperdebatkan ini, serahkan urusan ini pada pemerintah.

Baca juga: Refleksi Isra Miraj di Tengah Pandemi Covid-19

Tapi memang pemerintah harus memastikan ekonomi rakyat tidak (terlalu) terpukul, tetapi juga tidak boleh menganggap remeh kerumunan di pasar, kafe, mall dan tempat-kempat keramaian lain. Kebijakan yang tepat harus juga diambil, belajar pada kegagalan Italia dan keberhasilan Tiongkok. Kampanye untuk tinggal dan bekerja di rumah harus tetap dilakukan. Yang penting, umat beragama tetap dapat melakukan ibadah di rumah untuk sementara waktu.

Yang harus dipertimbangkan adalah jangan sampai tampat ibadah dijadikan kambing hitam jika terjadi bahaya dan kerusakan yang lebih besar di kemudian hari. Kita belajar dari apa yang terjadi pada sebuah rumah ibadah di Korea Selatan yang menyebabkan tertularnya ratusan jemaatnya. Konon 60% dari 4000 lebih orang yang positif corona adalah anggota sekte agama ini. Pemimpin sektenya meminta maaf kepada publik, tetapi semuanya telah terjadi. Ini tidak boleh terjadi dalam Islam.

Dalam hal ini, semua ulama, tokoh agama, dan takmir, dan semua kita, mesti berpegang pada kaidah fiqhiyah: “Daf’u l-mafasid muqaddamun ‘ala jalbi l-mashalih (Menghindari kerusakan lebih diutamakan daripada mencari kemaslahatan). Selain itu, tentu saja kita berpegang pada hadis Rasulullah: “La dharara wala dhirar“, jangan ada bahaya, dan jangan pula menyebabkan adanya bahaya. Di sini umat Islam dan umat beragama harus berada di garda depan, apalagi yang berjuang di akar rumput.[]

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
4
Cakep
Kesal Kesal
1
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
7
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
7
Wooow
Keren Keren
5
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Moch Nur Ichwan
Dr. Moch Nur Ichwan, MA adalah dosen tetap dan Wakil Direktur Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, setelah sebelumnya menjadi Kordinator Program Doktor Pascasarjana dan menjadi Ketua Prodi Agama dan Filsafat Program Magister (2011-2014). Dia mendapatkan gelar PhD-nya dalam bidang Studi Agama dan Politik Islam dari Tilburg University (November 2006), MA dalam bidang Studi Islam dari Leiden University (1999), dan S.Ag dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1995).

Comments 1

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals