Tentang Kasih, Tentang Sayang

Kenapa Barat yang Kafir itu jadi lebih unggul daripada Timur yang Muslim? Bukankah mestinya Kaum Muslim lebih layak memperoleh itu?


Apa arti kasih? Apa makna sayang? Apa perbedaan antara diksi kasih dan lema sayang?

Sejauh ini, kalau Anda berkenan mengecek Kamus Besar Bahasa Indonesia, Anda tak akan menemukan penjelasan signifikan. Di situ, diksi kasih diterjemahkan sebagai sayang. Dan sebaliknya, lema sayang diberi makna kasih.

Pendek cerita, kedua kata tersebut merupakan sinonim. Salah satu dari keduanya dapat dipakai untuk merujuk pada pengertian yang sama secara bergantian, meski dalam beberapa penggunaan, makna kedua kata bisa jadi tak kongruen. Kekasih bisa diartikan kesayangan, tetapi “aku sayang padamu” belum tentu bermakna “aku kasihan kepadamu”.

Hubungan makna dari kedua diksi ini memang rumit. Sehingga ketika kedua lema digabung menjadi “kasih sayang”, atau diucapkan kata “kasih dan sayang”, maknanya jadi semakin ambigu. Seperti terjadi pengulangan yang tidak diperlukan.

Pengulangan macam inilah yang disebut banyak orang sebagai redundansi. Dan, celakanya, kita telah memproduksi dan menelan mentah-mentah beberapa banyak istilah yang redundan. Kita menerima istilah-istilah itu begitu saja, tanpa mempertanyakan keabsahannya (paling tidak kejelasan maknanya) sama sekali.

Ambil contoh kata “ilmu pengetahuan”. Istilah ini dibangun dari dua diksi, “ilmu” dan “pengetahuan”. Ilmu terambil dari lafazh arab “‘alima”, yang berarti “tahu atau mengetahui” (to know). Sementara “pengetahuan” berasal dari kata dasar “tahu” (to know juga).

Dari situ Anda lantas tahu, istilah ilmu pengetahuan  akhirnya secara gampang dapat diterjemahkan dengan “tahunya tahu” atau “mengetahui pengetahuan” atau “tahu tahu”, dan pelbagai variasinya. Dus, redundan!

Tapi, sementara kita mengerti maknanya yang aneh itu, “ilmu pengetahuan” dipakai sebagai terjemahan dari diksi inggris science. Tak kurang gila, di tempat lain dalam bahasa Indonesia, science sendiri juga memiliki padanan berupa serapan “sains”.

Nah, lalu apa sebetulnya manfaat istilah “ilmu pengetahuan” ini? Selain redundan, ia juga sudah punya diksi terjemah-nya sendiri, yakni Sains, kan?

Pertanyaan yang serupa pernah diajukan saat orang membaca basmalah. Apa guna penyebutan ar-rahman ar-rahim kalau memang kedua kata itu berakar pada kata yang sama, kata rahmah?

Imam Al-Thabari menjawab bahwa meskipun memiliki akar yang serupa, keduanya bukan kembar identik. Jawaban seperti ini sangat mungkin lahir dari sang Imam sebab, di beberapa tempat, beliau menyatakan betapa tidak ada yang mulghah (hampa makna) dalam kalam Allah. Huruf seremeh wawu pun pasti mengandung maksud makna. Padahal sejumlah mufassir percaya bahwa beberapa wawu dalam al-Quran merupakan wawu ziyadah (tambahan) dan karena itu wujuduhu ka ‘adamihi (ada atau tidaknya tak akan memberi pengaruh pemaknaan apapun).

Untuk itu, untuk menggali makna ar-rahman ar-rahim, Imam Al-Thabari mengutip sebuah hadits. Nabi bersabda, “Sesungguhnya Isa bin Maryam pernah bersabda, ‘(yang dimaksud) ar-rahman adalah Allah Dzat yang Maha Pengasih di dunia dan di akhirat (Rahmanud dunya wal akhirah), dan ar-rahim adalah Allah Dzat yang Maha Pengasih (Rahimul akhirah).

Beliau menambahkan argumentasi dengan mengutip pendapat Imam al-‘Arzami, “Ar-rahman ar-rahim adalah Ar-Rahman bermakna Allah pengasih (rahman) bagi semua makhluk dan Ar-Rahim berarti Allah pengasih (rahim) khusus bagi kaum yang beriman.”

Al-Hasil, dari sini kemudian diperoleh pengertian bahwa yang berlaku di dunia adalah kasih sayang Allah (sifat Rahman Allah) yang berlaku bagi seluruh makhluk-Nya. Tak peduli ingkar maupun patuh, tak peduli asing ataupun aseng, seluruhnya dinaungi dalam luas karunia-Nya.

Lantas, “Kenapa Barat yang Kafir itu jadi lebih unggul daripada Timur yang Muslim? Bukankah mestinya Kaum Muslim lebih layak memperoleh itu?”

Itu pertanyaan yang amat musykil, yang dikhawatirkan dapat menggiring kita pada suul adab kepada Allah, dengan berpikir bahwa “Allah pasti keliru!” atau “Allah jelas pilih kasih”. Yang perlu kita camkan setelah ini adalah bahwa, di dunia ini, Allah telah memutuskan untuk mengasihi seluruh makhluk-Nya melalui mekanisme pengejawantahan nama Ar-Rahman.

Percayalah, Muslim yang unggul dan hebat juga banyak, kok, bukan cuma orang kafir saja. Mengapa terus-menerus memelihara inferioritas, rasa rendah diri di hadapan Barat yang Kafir? Lebih baik, jadilah unggul, tanpa perlu merutuki siapapun!

Jikapun tidak, kaum mukmin mesti meyakini bahwa kelak di akhirat hidupnya pasti lebih indah. Orang yang beriman mestinya lebih fokus untuk mempersiapkan hidup di akhirat ini. Maka minor dan miskin, jadilah sabar. Unggul dan kaya, jadilah syukur. Bukan begitu?

Yang seperti ini mesti dilakukan demi mengejar aktualisasi nama Ar-Rahim Allah yang hanya berlaku di akhirat, dan hanya diberikan kepada kaum yang beriman. Cuma kalau boleh bermimpi, alangkah eloknya jika kita ini selalu dalam naungan Rahmat-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. Ini angan-angan hampir setiap orang. Dan itulah barangkali mengapa hampir setiap muslim hapal doa sapu jagad.

Demikianlah makna Ar-Rahman Ar-Rahim. Saya sebetulnya kurang sreg kalau kedua Nama Allah ini diterjemahkan dengan hanya “Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Ketidaksetujuan ini berangkat dari asumsi bahwa kasih adalah sinonim sayang, seperti yang telah disebut sebelumnya.

Berikutnya, saya akan mencabut ketidaksetujuan ini, apabila kelak saya menemukan orang yang dapat menjelaskan makna terdalam dari kata “kasih” dan “sayang”, atau bahwa “kasih” sebetulnya adalah terjemah dari “rahman” termasuk dalam rincian maknanya, dan begitu pula hubungan maknawiah antara “sayang” dan “rahim”. Sampai saat ini saya belum menemukan orang itu. Barangkali Anda?

Wallahu a’lam bis shawab.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Lukman Hakim Husnan
Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran (STIQ) Al-Lathifiyyah Palembang. Pernah nyantri di Pondok Pesantren Bumi Damai Al-Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, dan menamatkan studi di IAIN (Sekarang UIN) Raden Fatah Palembang. Pemimpin Redaksi Masjid Agung Palembang Televisi (MAPTV), Kepala Divisi Penerbitan Masjid Agung Palembang, dan Anggota Badan Fatwa Masjid Agung Palembang. Dapat dihubungi di [email protected] atau [email protected]

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals