Menyingkap Bagaimana Karakteristik Peradaban Islam Nusantara

Di dunia ini tidak ada manusia yang tak hidup berbudaya sebab tidak ada manusia yang hidup sendirian.


Seringkali kita menyamakan istilah kebudayaan dengan peradaban. Apa sih sebenarnya peradaban itu? Dilihat dari pengertian kebudayaan dan peradaban, secara umum keduanya hampir mirip tetapi sebenarnya memiliki makna yang berbebeda. Di mana pengertian kebudayaan adalah hasil cipta, karya, rasa manusia sedangakn peradaban sesuatu yang dihasilkan dari nilai-nilai luhur.

Peradaban itu sendiri lahir dari kebudayaan yang memiliki nilai-nilai luhur. Di dunia ini tidak ada manusia yang tak hidup berbudaya sebab tidak ada manusia yang hidup sendirian. Karena itulah sekelompok manusia yang membentuk masyarakat kemudian melahirkan sebuah kebudayaan yang berkembang menjadi sebuah peradaban. Peradaban memiliki karakteristik yang berfungsi dalam memperjelas peradaban dan juga membedakan antara peradaban dan kebudayaan. Di mana kita tahu banyak dari kita yang menganggap bahwa peradaban dan kebudayaan adalah sama, padahal kedua hal ini merupakan sesuatu yang sangat berbeda. Maka dari itu, ciri-ciri peradaban sangat membantu dalam membedakan antara peradaban dan kebudayaan. Adapun ciri-ciri umum sebuah peradaban: pertama, populasi masyarakat banyak yang tersentral. Seperti halnya sudah dibangun kota-kota baru dengan tata ruang yang baik, indah, dan modern.

Kedua, terdapat peninggalan seni atau arsitektur yang unik dan monumental. Banyak di sekitar kita khususnya Indonesia, suatu arsitektur yang berdiri sudah ribuan tahunan yang lalu tetapi masih ‘langgeng’ hingga saat ini. Nilai estetika dan kegunaannya pun masih tetap sama. Seperti peninggalan arsitektur Candi Borobudor yang ada di Jawa Tengah, Candi Prambanan, dan lain-lain. Inilah yang menjadi bukti konkrit suatu negara itu berperadaban.

Ketiga, terdapat berbagai strategi komunikasi (bahasa) baik berupa tulisan atau suatu interaksi yang saling memahamkan antara satu orang dengan orang yang lain dalam lingkup daerah. Apabila satu orang dan orang lain sudah mempunyai suatu bahasa atau isyarat bahkan tulisan yang dapat dipahami satu sama lain. Seperti halnya di Indonesia terdapat tulisan pegon (tulisan Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Jawa dan bahasa Sunda). Di mana tulisan ini sudah menjadi ciri khas dari pulau Jawa dan Sunda.

Keempat, sistem administrasi wilayah dan infrastruktur.  Di mana dalam hal ini suatu negara mempunyai kebijakan fiskal yang sering dikategorikan sebagai pendekatan ekonomi-politik. Mengapa demikian? Karena kebijakan fiskal biasanya dalam suatu negara yang dikatakan berperadaban terkait dengan masalah pilihan politik yang terkadang unsur keberpihakannya sangat besar. Implikasinya, secara alamiah muncul kelompok yang tersisih dan digantungkan. Wajar saja, jika muncul pro kontra yang merupakan imbas kebijakan tersebut.

Kelima, pembagian pekerjaan yang kompleks. Hal ini dapat ditemukan ketika suatu kota atau negara sudah mempunyai sebutan masing-masing dalam sektor keahliannya. Seperti sebutan bagi orang yang ahli mengolah tanah yakni petani, orang yang ahli dalam sektor perjualan disebut dengan pedagang, dan lain-lain. Pembagian pekerjaan ini dikategorikan sebagai indikator negara yang berperadaban.

Keenam, pembagian masyarakat dalam struktur sosial dan pranata masyarakat. Di dalam kehidupan bermasyarakat, manusia hidup bersamaan dan berinteraksi dengan manusia lainnya. Seperti dalam beragama, suatu masyarakat dikatakan berperadaban apabila di dalamnyua sudah mengenal agama. Di mana suatu pranata yang punya sifat kekekalan tertentu dan pastilah setiap manusia yang berkumpul menginginkan tujuan yang sama. Kesamaan tujuan bersama yang ingin dicapai oleh para anggotanya, memiliki sistem dan struktur yang digunakan untuk mencapai tujuan bersama.

Suatu negara dikatakan berperadaban apabila sudah memiliki ciri-ciri di atas. Selain ciri-ciri tersebut pastilah terdapat sesuatu yang menjadikan suatu negara mempunyai peradaban yakni disebut “faktor pendorong”. Ketika kita membicarakan faktor pendorong dari suatu peradaban, yang terbesit dibenak kita salah satunya faktor perdagangan. Di mana perdagangan ini merupakan faktor terbentuknya sosialisasi masyarakat dalam suatu kota atau negara. Karena memang seorang pedagang tidak mungkin berasal dari kota atau negara yang sama justru kebanyakan mereka datang dari penjuru yang berbeda dan mempunyai latar belakang serta budaya yang berbeda pula. Dari sinilah satu orang dengan yang lain mampu mengenali budaya dan latar belakang masing-masing.

Semoga dengan uraian singkat mengenai karakteristik peradaban Islam Nusantara di atas dapat membantu kita mengidentifikasi apakah negara tersebut sudah berperadaban atau masih dalam proses pemberdayaan.

 


 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Musaadaturrohmah

Mahasiswa aktif STAISPA jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir 

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals