Menjadi Warga yang Setia

Muslim niscaya menjadi rahmat bagi alam semesta, sesuai dengan misi kehadiran Nabi Muhammad saw dalam kancah kehidupan ini.


tribunnews.com

Secara primordial Allah swt menjadikan manusia khalifah di muka bumi. Setiap Muslim dan Muslimah, dengan demikian, mendapat mandat untuk menjadi khalifah. (QS 2:30).

Khalifah yang sempurna ialah yang mempunyai kemampuan inisiatif sendiri. Tindakannya memantulkan kehendak Pencipta. Berbuat benar, memutuskan perkara dengan adil, ingat hari perhitungan, istiqamah, dan tidak mengikuti hawa nafsu.

Baca juga :   Kolaborasi Umara dan Ulama dalam Al-Quran

Khalifah bertugas mengelola bumi dan memakmurkannya. Untuk itu Allah swt memperlengkapi mereka dengan berbagai potensi dan sarana berupa naluri, intuisi, pancaindera dan akal pikiran.

Allah melahirkan kamu dari rahim ibumu sementara kamu tidak mengetahui apa-apa; dan Dia membuat untukmu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, supaya kamu bersyukur. (QS 16:78).

Tolok ukur kemuliaan seseorang di hadapan Allah swt ialah takwa – inna akramakum ‘indallahi atqakum  (QS 49:13). Takwa mengandung sikap harap, sabar, tawakal, cinta, kasih, ridha, dan berani karena Allah swt. Orang yang bertakwa mampu menangkal kejahatan yang merusak dan beramal kebaikan kapan saja, di mana saja dan kepada siapa saja. Allah swt berfirman dalam Al-Quran,     

Itulah karunia yang dengan itu Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal kebaikan. Katakanlah, “Aku tidak meminta sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” Siapa yang melakukan kebaikan akan Kami tambahkan kebaikan pada kebaikannya itu. Sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri (QS 42:23).

Hari demi hari kehidupan kita jalani dalam suasana ekonomi, sosial, dan politik yang kurang menggembirakan. Kemiskinan, pengangguran, merebaknya aksi teror, perilaku koruptif, dan reduksi keluhuran politik menjadi politik pragmatis berdurasi pendek.

Kita menghadapi multi krisis. Krisis identitas, intelektual, hati nurani, akhlak, dan moral, serta karakter bangsa. Mahatma Gandhi menyebutnya tujuh dosa yang mematikan: berkembangnya nilai dan perilaku budaya kekayaan tanpa bekerja, kesenangan tanpa nurani, pengetahuan tanpa karakter, bisnis tanpa moralitas, ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan, dan agama tanpa pengorbanan.

Mukmin niscaya memperkokoh hubungan dengan Allah swt melalui ibadah dan memperkokoh hubungan dengan sesama untuk kemaslahatan bersama. Membela yang tertindas, menegakkan aturan-aturan dan undang-undang Negara yang sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam.

Baca juga:  Belajar Saling Memahami

Sebagian manusia tidak bersyukur dan tak bersungguh-sungguh melaksanakan amanat tersebut, padahal kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas segala anugerah-Nya.

Banyak dari kalangan jin dan manusia yang Kami siapkan untuk jahanam; mereka mempunyai hati, tetapi tidak mau menyadari, mereka mempunyai mata, tetapi tidak juga mau  melihat, dan mereka mempunyai telinga, tidak juga mau mendengar. Mereka sudah seperti ternak, bahkan lebih sesat lagi, karena mereka sudah lalai. (QS 7:179).

Kegagalan manusia melaksanakan amanat khilafah adalah karena kurang mensyukuri segala potensi anugerah Ilahi.

Demi waktu sepanjang sejarah. Sungguh manusia dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan mengerjakan amal kebaikan, saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihat untuk kesabaran dan ketabahan. (QS 103:1-3).

Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhan, kerjakanlah amal kebaikan, dan dalam beribadah kepada Tuhan janganlah persekutukan dengan siapa pun.” (QS 18:110).

Tidak sepatutnya Muslim hanya berkecimpung dalam satu sektor kehidupan saja, melainkan hendaklah terjun dalam berbagai sektor, sesuai dengan kemampuan, minat, bakat dan potensi yang dianugerahkan Allah swt. Muslim niscaya menjadi rahmat bagi alam semesta, sesuai dengan misi kehadiran Nabi Muhammad saw dalam kancah kehidupan ini. Kami utus engkau, semata-mata sebagai rahmat bagi alam semesta. (QS 21:107).

Tugas Muslim ialah melanjutkan peran Nabi saw: menjadi saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, mengajak kepada Allah dan menjadi pelita kehidupan (QS 33:45-46); menyampaikan amanat kepada yang layak menerima, melakukan advokasi hukum, keadilan dan hak-hak orang lemah, pelayanan kesehatan, penguatan ekonomi, dan pendidikan, serta mencegah kekerasan. (QS 3:110).

Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang melepaskan seorang Muslim dari kesusahan dunia, niscaya Allah melepaskannya dari kesusahan pada hari kiamat; siapa memudahkan seseorang yang mengalami kesusahan, niscaya Allah memudahkan urusannya di dunia dan akhirat; dan siapa menutupi aib seorang Muslim, niscaya Allah menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya.” (HR Muslim).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS 2:218).

Katakanlah, “Tuhanku telah membimbingku ke jalanyang lurus -agama yang benar dan murni menurut ajaran Ibrahim, yang tidak tergolong musyrik”. Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup, dan matiku demi Allah, Tuhan semesta alam; tiada sekutu bagi-Nya. Demikianlah diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang pertama berserah diri.” (QS 6:161-163).

Siapa yang ingin mendirikan bangunan tinggi, maka dia harus membuat fondasi yang kuat, sebab bangunan itu tergantung pada kekuatan fondasinya. Jika fondasi kuat, ia akan mampu menyangga bangunan di atasnya. Iman adalah fondasi amal. Jika iman kuat, maka amal akan tumbuh dan berkembang serta berbuah lebat. Bila bangunan sudah berdiri, percantiklah ia dengan akhlak dan kebajikan.

Tujuan akhir manusia adalah mencapai Tuhan, dan semua aktivitasnya, baik di bidang politik, sosial maupun agama harus dibimbing oleh tujuan akhir ini. Mengikuti kehendak Tuhan berarti menuju kemakmuran; melawan kehendak Tuhan berarti menuju kehancuran.

Bahagia ialah tunduk dan patuh mengikuti garis-garis yang ditentukan Allah dan perikemanusiaan. Tuhan telah menciptakan begitu banyak pintu kebaikan yang terbuka bagi setiap orang yang mengetuknya dengan jari-jari iman.

Artikel lainnya:  Ulama Mengubah 186 Kata dalam Al-Quran?

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Chirzin
Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. adalah guru besar Tafsir Al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Tim Revisi Terjemah al-Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an) Badan Litbang Kementrian Agama RI.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals