Kolaborasi Umara dan Ulama dalam Al-Quran

Para ulama adalah penjaga gawang moralitas dalam segala aspek kehidupan umat, termasuk moralitas para penguasa.


Umara dan ulama adalah pasangan pemuka masyarakat yang ideal dan utama. Umara, kosakata bahasa Arab bentuk jamak dari kata amir, artinya pemimpin, penguasa. Kosakata amir sepadan dengan istilah ulul amri dalam Al-Quran yang artinya orang yang mempunyai pengaruh, kekuasan; orang yang memangku urusan rakyat; penguasa. Allah swt menegaskan eksistensi umara dalam Al-Quran (ditulis terjemahnya).

Wahai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta ulil amri (mereka yang memegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu berselisih mengenai sesuatu kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, kalau kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Itulah yang terbaik dan penyelesaian yang tepat. (QS An-Nisa`/4:59).

Ulul amri adalah orang yang memegang kekuasaan, bertanggung jawab, dan dapat mengambil keputusan, serta menangani pelbagai persoalan umat. Ulul amri dalam konteks kekinian identik dengan pemerintah yang diharapkan dapat berjalan di atas kebenaran dan bertindak sebagai imam yang saleh, benar, dan bersih. Kita harus mematuhi kekuasaan yang demikian. Kalau tidak, segala ketertiban takkan ada artinya.

Islam tidak mengenal pemisahan yang tajam antara soal-soal yang sakral dengan yang sekular. Di antara kewajiban umara adalah menjalankan pemerintahan yang berkeadilan.

Allah memerintahkan kamu menyampaikan amanat kepada yang layak menerimanya. Apabila kamu mengadili di antara manusia, bertindaklah dengan adil. Sungguh Allah mengajar kamu dengan sebaik-baiknya. Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS An-Nisa`/4:58).

Ayat tersebut turun berkenaan dengan Usman bin Thalhah sebagi juru kunci Ka’bah. Ketika itu Rasulullah saw mengambil kunci Ka’bah untuk memasukinya. Setelah keluar, beliau membaca ayat di atas dan menyerahkan kembali kunci Ka’bah kepada Usman.

Kekuasaan adalah amanat yang harus ditunaikan dengan jujur, adil dan ikhlas, bukan untuk dibangga-banggakan dan disalahgunakan. Penguasa tidak boleh memperturutkan hawa nafsu, melakukan penyimpangan, dan menganiaya rakyat.

Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seorang hamba dijadikan Allah sebagai pemimpin sebuah komunitas kemudian ia meninggal dunia dalam keadaan menzalimi komunitas yang dipimpinnya kecuali Allah mengharamkannya masuk surga.” (HR Muslim).

“Sesungguhnya orang yang paling dicintai Allah dan paling dekat dengan-Nya pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil, dan orang yang paling dibenci Allah, dan paling jauh tempatnya dari-Nya adalah pemimpin yang zalim.” (HR Tirmidzi).

Tugas umara adalah menyelenggarakan pemerintahan dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan rakyat. Menurut al-Mawardi, kewajiban pemimpin meliputi sepuluh poin: (1) menjaga penerapan agama yang benar; (2) menerapkan hukum dalam setiap permasalahan yang terjadi dengan cara yang adil; (3) melindungi keamanan negara, sehingga rakyat dapat beraktivitas dengan bebas dan tidak dihantui ketakutan; (4) menegakkan hukum pidana, sehingga hak-hak warga terlindungi; (5) menjaga perbatasan negara dengan sistem keamanan yang baik, sehingga dapat menangkal serangan musuh; (6) jihad untuk memerangi musuh; (7) mengambil pajak dan zakat dari warga sesuai dengan ketentuan syariat; (8) mendistribusikan dana baitul mal dengan baik dan tepat pada waktunya; (9) memekerjakan orang-orang yang amanah dan kapabel dalam bidangnya; (10) memantau langsung perkembangan yang terjadi pada warganya dan tidak hanya memercayakannya kepada wakilnya.

Ulama, kosakata bahasa Arab, bentuk jamak dari kata ‘alim, artinya orang yang berpengetahuan, ahli ilmu, orang pandai. Dalam bahasa Indonesia kosakata tersebut menjadi bentuk tunggal, yakni orang yang ahli ilmu agama Islam. Kata ulama sepadan dengan ulul albab dalam Al-Quran, yaitu orang yang arif. Di antara ayat-ayat Al-Quran tentang ulama adalah sebagai berikut.

Demikian pula di antara manusia, binatang melata dan hewan ternak, terdiri dari berbagai macam warna. Sungguh, yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama; mereka yang berpengetahuan. Sungguh Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun. (QS Fathir/35:28).

Hanya mereka yang mempunyai pengetahuan mendalam yang tahu bahwa takut kepada Allah adalah permulaan dari suatu kearifan. Karena rasa takut demikian sama dengan penghayatan dan cinta, – penghayatan akan semua keindahan dunia lahir dan dunia batin yang sungguh luar biasa (“Allah Maha Perkasa”), dan penuh cinta, karena rahmat dan kasih sayang-Nya (“Maha Pengampun”).

Para ulama adalah pewaris nabi dan penerus tugas-tugasnya di dunia, yakni membawa kabar gembira, memberi peringatan, mengajak kepada Allah, dan memberi cahaya.

Wahai Nabi, sungguh Kami mengutus engkau sebagai saksi, sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan sebagai orang yang mengajak kepada Allah dengan izin-Nya, serta sebagai pelita pemberi cahaya. Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang beriman, bahwa mereka akan memperoleh karunia yang besar dari Allah. (QS 33:45-47).

Para ulama adalah penjaga gawang moralitas dalam segala aspek kehidupan umat, termasuk moralitas para penguasa. Ulama yang mendiamkan atau bahkan mendukung kebijakan-kebijakan penguasa yang menyimpang dari dasar negara sebagai pandangan hidup, sumber jati diri, kepribadian, moralitas, dan haluan bangsa, serta Undang-Undang Dasarnya menurut istilah Imam Al-Ghazali termasuk ulama su` (ulama yang buruk).

Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi semua ke medan perang. Maka, mengapa tidak ada yang pergi dari setiap golongan di antara mereka beberapa orang yang tinggal untuk memperdalam pengetahuan tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaum mereka apabila mereka sudah kembali, supaya mereka berhati-hati. (QS At-Taubah/9:122).

Nabi Daud, Nabi Sulaiman, dan Nabi Muhammad saw adalah profil integrasi ulama dan umara paripurna, sebagaimana tertera dalam firman Allah swt berikut (ditulis artinya).

Sungguh Kami benar-benar telah menganugerahkan ilmu kepada Daud dan (putranya) Sulaiman; mereka mengucapkan, “Segala puji hanya bagi Allah Yang melebihkan kami dari banyak para hamba-Nya yang mukmin.” Sulaiman telah mewarisi (kekuasaan dan kerajaan) Daud, dan dia berkata, “Wahai manusia, kami telah dianugerahi pengertian tentang suara burung dan kami telah dianugerahi segala sesuatu. Sesungguhnya (ini semua) benar-benar karunia yang nyata.” Dan, dihimpunkan untuk Sulaiman tentara dari jin, manusia, dan burung, lalu mereka itu diatur dengan tertib.(QS An-Naml/27:15-17).

Wahai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan engkau khalifah (penguasa) di bumi, maka putuskanlah perkara di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah, bagi mereka azab yang berat, karena mereka melupakan Hari Perhitungan(QS Shad/38:26).

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta janganlah kamu merusakkan pahala amal-amalmu.(QS Muhammad/47:33)

Para pakar Muslim, pemuka agama, dan pemangku dakwah pada saat ini memperoleh panggilan kembali untuk: (1) membacakan ayat-ayat Allah; (2) menyucikan pikiran dan akhlak manusia; (3) mengajarkan kitab Allah; (4) mengajarkan hikmah; (5) mengajarkan pengetahuan. Suatu panggilan yang mulia untuk melakukan emansipasi kemanusiaan sesuai dengan fitrah manusia dan sikapn ya yang hanif. (QS 2:151).

Menghadapi berbagai perubahan besar yang cepat dan majemuk dalam masyarakat serta menghadapi pergeseran tata nilai yang mengaburkan antara yang benar dan yang salah, antara yang baik dan yang buruk, para ulama niscaya mengemban fungsi: (1) basyiran, memberi kabar gembira, harapan, dan perspektif baru bagi upaya pembangunan; (2) nadziran, memberikan kesadaran kritis kepada masyarakat agar mampu mengembangkan penalaran kritis terhadap determinisme ideologis maupun teknologis dengan menyadari permasalahan dan potensi untuk mengubah nasibnya sendiri; (3) da’iyan ilal haqq, memanggil kepada kebenaran hakiki yang kadang dikaburkan oleh propaganda maupun pendapat umum; (4) sirajan muniran, memberikan terang iman dan pencerahan akal budi.

Para umara dan ulama niscaya menampilkan Islam yang hakiki sebagai rahmatan lil-‘alamin dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Muhammad Chirzin
Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. adalah guru besar Tafsir Al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Tim Revisi Terjemah al-Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an) Badan Litbang Kementrian Agama RI.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals