Deradikalisasi ala Buya Ahmad Syafii Maarif

Buya selalu berpesan bahwa gerakan radikal itu sangat berbahaya maka dari itu kita harus berupaya untuk derasikalisasi dengan kembali pada al-Quran dan kemanusiaan


Gerakan radikal kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat Indonesia. Hal ini diawali dari adanya wacana peraturan yang dikeluarkan oleh menteri agama mengenai pelarangan cadar dan celana cingkrang di instansi-instansi kenegaraan.

Apakah mereka yang bercadar bagi perempuan dan memakai celana cingkrang bagi laki-laki termasuk golongan radikalisme? Bukankah gerakan radikal adalah sebuah gerakan yang memunculkan kerusakan dan kekerasan di muka bumi ini? Lantas kemudian mengapa orang bercadar dan memakai celana cingkrang disudutkan sebagai pelaku gerakan radikal?

Banyak pertanyaan yang muncul setelah wacana peraturan menteri agama dikeluarkan. Mereka yang bercadar dan memakai celana cingkrang merupakan sebuah pilihan yang telah mereka yakini. Memang dalam beberapa kasus yang menyangkut gerakan radikal banyak dilakukan oleh orang-orang yang memakai cadar dan celana cingkrang.

Namun tidak seharusnya mereka yang bercadar dan celana cingkrang semuanya dianggap sebagai kelompok radikalisme. Dalam hal ini, harus ada upaya untuk deradikalisasi agama agar tidak lagi bermunculan gerakan radikal selanjutnya.

Ahmad Syaf’i Ma’arif atau yang akrab dipanggil Buya merupakan salah satu tokoh Muhammadiyah yang konsen perhatiannya dalam hal kemanusiaan termasuk juga dalam hal radikalisme agama. Buya begitu sedihnya ketika berbicara tentang gerakan radikal yaitu sebuah gerakan kekerasan dan kerusakan yang mengatasnamakan agama.

Dengan menggunakan dalil al-Quran untuk melancarkan gerakannya, menurut Buya adalah sebuah ketidakmampuannya memahami al-Quran secara komprehensif. Kalau begitu, jelas Buya, di mana posisi al-Quran yang seharusnya menjadi pedoman dalam kehidupan malah dijadikan sebagai alat legitimasi teologis untuk melakukan gerakan-gerakan yang anti kemanusiaan? Maka dari itu ada sesuatu yang misunderstanding dari al-Quran.

“Jihad” dari perang menjadi kemanusiaan

Kata “jihad” yang selalu mereka teriakkan seharusnya dipahami tidak lagi jihad perang menggunakan pedang namun jihad kemanusiaan. Apa itu jihad kemanusiaan? Di era kontemporer ini jihad tidak lagi dimaknai dengan perang atau pembunuhan seperti yang terjadi ketika zaman Nabi Muhammad dahulu.

Makna jihad telah mengalami pergeseran, karena itu dibutuhkan pembacaan ulang agar al-Quran yang diyakini sebagai pedoman umat Islam dapat selalu shalih li kulli zaman wa makan. Pembacaan ulang (reinterpretasi) ayat-ayat jihad tidak lagi ditafsirkan dengan berperang menggunakan pedang namun berperang dalam hal kemanusiaan seperti pengentasan kemiskinan, memajukan pendidikan dan memberikan bantuan kesehatan.

Problematika kemanusiaan seperti di atas juga termasuk faktor yang mempengaruhi lahirnya gerakan-gerakan radikal di muka bumi ini. Buya menegaskan bahwa adanya kekerasan yang mengatasnamakan agama adalah sebuah gerakan yang laknat. Merusak tatanan negara yang telah mapan. Ingin mengganti bentuk negara menjadi khilafah dengan dalil al-Quran yang selalu mereka sematkan dalam setiap gerakannya, menurut Buya, ada yang harus dilakukan untuk mencegah menyebarluasnya gerakan tersebut. Gerakan melawan pemerintah inilah yang merupakan sebenar-benar gerakan radikal.

Kenapa begitu? Karena gerakan ini tidak hanya melakukan kekerasan, kerusakan, mereka juga menebar kebencian di antara umat satu dengan umat yang lainnya. Sebenarnya jika ditelusuri lebih mendalam, maka banyak faktor-faktor yang mempengaruhi lahirnya gerakan radikal di Indonesia. Begitulah Buya menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan gerakan radikalisme agama.

Kembali kepada al-Quran dan Islam Kemanusiaan

Lalu upaya apa yang harus dilakukan untuk deradikalisasi agama? Kita sudah tahu dua faktor yang mempengaruhi lahirnya gerakan radikal yaitu adanya faktor teologis dan faktor kemanusiaan.

Faktor teologis adalah faktor yang berhubungan dengan agama yaitu menggunakan dalil-dalil al-Quran untuk melancarkan gerakan radikal. Penggunaan dalil-dalil al-Quran ini disebabkan karena umat Islam khususnya di Indonesia merupakan golongan umat yang mensakralkan al-Quran sebagai landasan dalam setiap kehidupannya.

Dengan begitu, ketika ada sebuah kelompok yang menggunakan dalil al-Quran maka tidak ada kata lain kecuali mengiyakan atau setuju dengan segala gerakan yang berlandaskan al-Quran. Maka dari itu, upaya yang harus dilakukan adalah pembacaan ulang terhadap ayat-ayat yang seringkali dijadikan legitimasi teologis dari kemunculan gerakan radikal.

Tidak hanya itu, gerakan radikal juga dilahirkan dari adanya problem kemanusiaan. Bukan berarti problem kemanusiaan dalam hal ini hanya dikaitkan dengan kemiskinan dan pendidikan, namun juga toleransi antar umat beragama ataupun toleransi dalam agama itu sendiri.

Mengapa toleransi termasuk dalam problem kemanusiaan? karena kurang perhatiannya seseorang dengan sikap toleransi akan berdampak pada hubungan antar kemanusiaan. Sikap toleransi memang sangat dibutuhkan dalam menghadapi banyak problematika keagamaan yang ada sekarang ini. Indonesia adalah negara yang majemuk, negara yang mempunyai banyak unsur budaya, suku maupun agama. Seperti yang telah tercantum dalam sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan yang Maha Esa.

Dalam sila ini tidak kemudian yang mempunyai Tuhan yang satu hanyalah Islam. Semua agama yang berada di Indonesia ini berkeyakinan bahwa Tuhan mereka adalah satu. Maka dari itu tidaklah mungkin sebagai makhluk yang sama-sama berkeyakinan mempunyai Tuhan yang sama kemudian saling bertengkar, saling bermusuhan, saling bercerai-berai.

Lalu bagaimana Indonesia akan memperlihatkan kemajemukannya jika semua pemeluk agama tidak akur satu sama lain? Semua problematika yang ada sebenarnya bermula dari problem kemanusiaan yang belum usai.

Buya selalu mengajarkan kepada kita untuk kembali kepada al-Quran sebagai pedoman original dalam setiap masalah kehidupan. Toleransi yang selalu diungkapkan oleh Buya kepada seluruh warga negara Indonesia juga senada dengan perintah Allah melalui kalamNya. Seperti yang dijelaskan dalam Surah al-Hujurat ayat 13 bahwa Allah itu menciptakan manusia bersuku-suku, banyak budaya, laki-laki dan perempuan tujuannya agar mereka saling mengenal saling bekerjasama satu sama lain.

Maka toleransi sangat penting untuk dijadikan sebuah pedoman dalam mengurangi problematika yang semakin menjamur di Negara ini. Jika kita sebagai manusia telah mampu mewujudkan sikap toleransi dengan sempurna maka tidak akan ada keputusan-keputusan yang dikeluarkan dengan cara memarjinalkan apalagi mengancam satu pihak di antara banyaknya golongan.

Lalu ada batasankah toleransi itu? toleransi itu tidak perlu dibatasi karena toleransi dapat terwujud karena kesadaran dan kemauan untuk saling mengerti dan saling memahami satu sama lain. Dengan toleransi maka akan terwujud Islam inklusif, Islam yang tahu bahwa bukan agamanyalah yang paling benar atau bukan golongannya yang paling benar, namun semuanya mempunyai kepercayaan sendiri dan mempunyai hak untuk mendapatkan tempat yang layak untuk tetap mempertahankan kepercayaannya tersebut.

Buya selalu berpesan bahwa gerakan radikal itu sangat berbahaya maka dari itu kita harus berupaya untuk derasikalisasi dengan kembali kepada al-Quran dan mewujudkan Islam kemanusiaan.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Siti Robikah

Master

Alumni Sekolah Kemanusiaan dan Kebudayaan Ahmad Syafii Maarif III, Mahasiswa, Penggiat Gender.

Comments 1

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals