Menghapus Budaya Malas

"..Malas merupakan salah satu indikator kurang tanggung jawab seseorang terhadap tugasnya.."


Malas lawan katanya rajin. Malas belajar, malas bekerja, malas berpikir, malas berusaha, malas beribadah, malas berdoa. Penyakit ini bisa dan mungkin pernah menjangkiti siapa saja. Laki-perempuan, anak-anak, remaja, dewasa, tua, dan lanjut usia. Malas bukan melulu menjangkiti orang per orang, melainkan juga menjangkiti kumpulan manusia; organisasi, golongan, umat dan bangsa.

Malas ditandai keengganan untuk berbuat, bekerja, menjalankan tugas, dan sebagainya. Murid ada yang malas belajar. Sebabnya bermacam-macam. Boleh jadi karena asyik bermain dan berkumpul dengan teman-teman sebaya, menonton televisi, bermain game, hp, dan lain-lain. Bisa juga karena kesulitan memahami dan mengikuti pelajaran di sekolah. Semakin malas murid, pastilah semakin jauh dari menguasai pelajaran. Akibatnya, mundur studi dan minus prestasi.

Orangtua niscaya membantu putra-putrinya untuk giat belajar dengan mengurangi hambatan yang menghadang. Membiasakan anak-anak merencanakan kegiatan sehari-hari, bila perlu dengan rincian aktivitas jam demi jam. Sekaligus mengendalikan kesukaan mereka bermain game dan lain sebagainya. Anak-anak perlu diingatkan, supaya tidak membuang-buang waktu untuk urusan yang tak bermanfaat.

Mahasiswa malas belajar bermula dari salah memilih konsentrasi pada fakultas yang dimasuki. Atau terpaksa memasuki pilihan keduanya di sebuah perguruan tinggi. Bisa pula karena kesulitan berkomunikasi dengan dosen dan menganggap dosennya terlalu ketat dalam disiplin belajar dan mahal dalam memberi nilai.

Pepatah mengajarkan, “Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya”. Artinya, malas pangkal bodoh, boros pangkal miskin. Setiap pekerjaan membutuhkan kedisiplinan. Bagi sebagian orang, disiplin itu dirasakan sebagai suatu beban berat, namun bagi Julie Andrew justru merupakan ketentuan yang membuatnya benar-benar merasa bebas.

Kegiatan belajar tak ubahnya jam pasir. Satu demi satu pasir bergerak dengan pelan dan teratur melewati bagian leher yang sempit di tengah; satu per satu butir tugas belajar diselesaikan; sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Orang arif pun berpesan, “Janganlah menunda pekerjaan sampai besok, jikalau  dapat dilakukan hari ini.”

Malas merupakan salah satu indikator kurang tanggung jawab seseorang terhadap tugasnya. Selain merugikan diri sendiri, kemalasan juga merugikan instansi tempat ia bekerja. Rahasia sukses bisa kita timba dari pernyataan Thomas A Edison, “Tak pernah saya secara kebetulan berbuat apa pun yang patut dilakukan. Tak pernah pula penemuan-penemuan saya yang mana pun terjadi secara kebetulan. Semua ini adalah hasil bekerja dengan tekun. Sukses adalah 1% bakat, dan 99% kerja keras.”

Malas bukan berarti tidak berbuat apa-apa, melainkan merasa bebas untuk tidak berbuat sesuatu, kata Floyd Dell. Bayangkan, bila seorang petani malas menyiangi tanaman, mengairi, dan memupuknya. Niscaya sawahnya dipenuhi rerumputan yang menghalangi pertumbuhan padi yang ditanamnya. Begitu pula dengan orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Sebagian orangtua tidak mengajari anaknya untuk berjalan di jalan yang benar, sebab mereka sendiri tidak berada di jalan itu.

Tidak sedikit ibu yang malas menyusui anaknya dengan berbagai alasan. Dewasa ini Pemerintah RI menggalakkan pemberian ASI eksklusif, yakni menyusui bayi 6 bulan pertama tanpa makanan tambahan. Sedangkan Alquran sejak 1500 tahun yang lalu telah mengajarkan bahwa sebaiknya ibu menyusui anaknya selama dua tahun.

Dan Kami amanatkan kepada manusia supaya berbuat baik terhadp kedua orangtuanya; ibunya telah mengandungnya dalam kelemahan demi kelemahan, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kamu kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu, Kepada-Ku akhirnya kamu  kembali. (QS 31:14).

Kami amanatkan kepada manusia berlaku baik terhadap kedua orangtuanya; ibunya telah  mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah; masa hamil dan penyapihannya tiga puluh bulan, sehingga bila dia telah mencapai usia dewasa dan umurnya empat puluh tahun ia berdoa, “Tuhanku, berilah aku peluang untuk bersyukur atas nikmat-Mu yang Kau-limpahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan supaya aku dapat mengerjakan perbuatan baik yang Kau-ridhai; berilah aku kebaikan bagi anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada-Mu dan sungguh aku tunduk kepada-Mu dalam Islam.” (QS 46:15).

Pengalaman menunjukkan bahwa keberhasilan tergantung kepada kemampuan, dan bukan kepada semangat atau gairah, namun ternyata kedua-duanya saling berhubungan erat. Demikian kata Charles Luxton. Kemajuan sebuah korporasi, selain bertumpu pada budaya kerja, etos kerja dan disiplin kerja prima, juga ditopang oleh inovasi tiada henti. Tanpa inovasi, sebuah korporasi akan kalah bersaing dengan perusahaan-perusahaan yang selalu mengembangkan diri, sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi.

Orang beriman berdisiplin melakukan shalat lima waktu dalam sehari-semalam. Seminggu sekali mereka berhimpun di masjid untuk jumatan dan silaturahmi. Setahun sekali berhimpun dalam shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Sekali seumur hidup berhimpun di Baitullah di Makkah Al-Mukarramah. Disiplin ibadah membentuk pribadi-pribadi muslim yang istiqamah, konsisten, sanggup bekerja cepat, tepat, akurat dan penuh tanggung jawab. Karena setiap muslim menyadari, bahwa pekerjaannya sekarang tidak hanya dipertanggungjawabkan di sini, tetapi juga di hari kemudian.

Mengapa umat Islam relatif tertinggal? Karena kemiskinan dan tingkat pendidikan warga yang rendah. Antara keduanya saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Solusinya, meningkatkan mutu pendidikan di semua jenjang di lembaga-lembaga pendidikan Islam. Menurut Kazuo Inamori, banyak kesempatan menanti di setiap aspek kehidupan. Kalau bersikeras mencari kesempatan, kita akan menemukannya. Tanpa pandangan dan rencana yang jelas dalam benak, kita akan kehilangan banyak kesempatan prospektif.

Setiap kehidupan mempunyai celah yang kosong. Celah itu harus diisi dengan cita-cita. Kalau tidak, ia akan tetap kosong dan tak akan mempunyai faedah untuk selama-lamanya, kata Julia W Hole. Buatlah rencana besar! Rencana kecil tidak akan membuat seseorang berpikir dan bergairah. Buatlah rencana besar! Siapa yang ingin memetik padi yang baik, hendaklah menabur benih yang baik pula. (Agus Salim).

“Jadilah manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa riang, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis, dan pada kematianmu semua orang menangis, tetapi hanya kamu sendiri yang tertawa.” (Mahatma Gandhi). “Hiduplah sedemikian rupa, hingga apabila kita mati, semua orang bersedih – sampai tukang gali kubur pun turut bersedih.” (Mark Twain).

“Berhenti tak ada tempat di jalan ini. Sikap lamban berarti mati. Siapa bergerak, dialah yang maju ke depan. siapa berhenti, sejenak sekalipun, pasti tergilas.” (Mohammad Iqbal).

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegalauan dan kesedihan; aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan; aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan tekanan seseorang.

Baca tulisan-tulisan Muhammad Chirzin lainnya: Kumpulan Tulisan Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
4
Wooow
Keren Keren
7
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Chirzin

Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. Guru Besar Tafsir Alquran UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Anggota tim penyusun Tafsir Tematik Litbang Kemenag RI dan tim penyusun draft revisi Alquran dan Terjemahnya Tim Kemenag RI 2017. Telah menulis lebih dari 50 buku tentang Alquran.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals