Rendah Diri di Hadapan Allah, Rendah Hati di Depan Sesama

"..Pangkal akhlak terpuji ialah ketundukan dan hasrat yang luhur, sedangkan pangkal akhlak tercela ialah kesombongan dan kehinaan.."


Sumber foto: portalarcoiris.ning.com

Merendahkan diri kepada Allah swt menyebabkan cinta-Nya. Khusyuk hati dan jasad di hadapan Allah swt serta tunduk kepada kebenaran. Rendah hati ialah menerima nasihat dengan terbuka, menghargai pendapat orang lain, dan padamnya api syahwat. Kekeruhan hati mengendap dan cahaya ta’zhim memancar di hati lalu merembes ke seluruh tubuh. “Jika hati luluh, maka tubuh pun pasrah.”

Belumkah datang waktunya bagi mereka yang beriman hatinya khusyuk mengingat Allah dan kebenaran yang diwahyukan (kepada mereka), dan tak akan seperti orang-orang yang telah menerima Kitab sebelumnya, kemudian mereka melalui masa panjang sehinga hati mereka menjadi keras? Banyak orang yang fasik di antara mereka (QS 57:16).

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan kerendahan hati dan suara perlahan. Ia tidak menyukai orang yang melanggar peraturan (QS 7:55).

Khusyuk adalah saripati sikap hormat, cinta, rendah hati, dan pasrah hati, serta ruh kepada Allah swt. Demikianlah adab terbaik dalam shalat, saat seorang hamba hadir dan memenuhi panggilan-Nya. Khusyuk di tengah shalat tidak terpisah dari khusyuk hati di luar shalat. Seseorang yang lalai sepanjang waktu tak dapat khusyuk dalam shalat. Mukmin memperteguh iman terlebih dahulu, lalu mengarahkan hati untuk dapat khusyuk.

Ingatlah Tuhanmu dalam hatimu, dengan rendah hati dan rasa gentar, tanpa mengeraskan suara, waktu pagi dan petang. Janganlah termasuk orang yang lalai (QS 7:205).

Hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah ialah mereka yang berjalan di muka bumi ini dengan rendah hati, dan bila ada orang jahil menegur mereka, mereka jawab, “Salam!” mereka yang selama malam hari bersujud dan berdiri menghadap Tuhan (QS 25:63-64).

Al-Mujahid berkata, “Orang yang khusyuk adalah orang yang beriman secara benar.” Ali bin Hasan jika berwudhu’, wajahnya memucat. Ketika ditanya, “Apa yang membuatmu seperti itu?” Ia menjawab, “Tahukah engkau siapa di hadapanku yang aku hendak berdiri menemuinya?”

Para sahabat mencintai shalat, sehingga hati mereka hidup dan tenteram. Rasulullah saw  bersabda, “Ketenteraman dalam hatiku dijadikan ada pada pelaksanaan shalat.” (HR Ahmad).

Shalat menghidupkan hati dan khusyuk adalah penghidup shalat. Nilai-nilai yang menghidupkan shalat, pertama, hadirnya hati; hati kosong dari selain shalat. Kedua, memahami makna bacaan dalam hati. Ketiga, ta’zhim dan takut kepada Allah, karena mengenal keagungan dan keluhuran Allah swt serta mengetahui kehinaan di hadapan-Nya.

Tingkatan khusyuk, pertama, tunduk dan patuh terhadap perintah Allah swt. Kedua, introspeksi terhadap perbuatan yang membinasakan: sombong, berbangga diri, riya’ dan khianat. Ketiga, menjaga diri dari sikap bebas berbuat atau dari persangkaan mempunyai hak atas Allah. Khusyuk dalam arti ta’zhim, cinta dan pasrah hati seorang hamba kepada Tuhan adalah setiap saat.

Umar bin Khathab melihat laki-laki menundukkan kepala dalam shalat. Beliau pun berkata, “Wahai saudaraku, khusyuk itu bukan menundukkan kepala, tetapi ada dalam hati.” Aisyah berkata, “Umar bin Khathab jika berjalan bergegas-gegas, jika berbicara lantang, dan jika makan, sampai merasa kenyang, dan beliau adalah seorang ahli ibadah yang sesungguhnya.” Sahal bin Sa’ad berkata, “Siapa yang hatinya khusyuk, setan tak akan mendekatinya.”

Pada suatu malam, ketika sedang menulis Khalifah Umar bin Abdul Aziz dikunjungi seorang tamu, dan lampu yang digunakan hampir padam. Sang tamu berkata, “Biarlah aku bereskan lampu itu.” Khalifah menjawab, “Bukan suatu kemuliaan bila seseorang memperbudak tamunya.” Lalu khalifah mengisi lampu dengan minyak dan menyalakannya. Tamu itu bertanya, “Engkau sendiri yang mengerjakannya, ya Amurul Mukminin?” Khalifah menjawab, “Aku menyalakan lampu dan aku tetap Umar, tidak kurang sedikit pun. Sebaik-baik manusia adalah yang bersikap rendah diri kepada Allah swt.”

Allah swt memerintah Nabi Muhammad saw agar rendah hati terhadap orang-orang beriman. Hendaklah kita berusaha bersikap rendah hati kepada sesama manusia pada umumnya.

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku, agar kalian saling merendahkan diri, sehingga tiada seorang pun  yang berlaku sombong terhadap yang lain dan tiada seorang pun yang berbuat aniaya terhadap yang lain.” (HR Muslim).

Rendah hati merupakan akhlak terpuji, baik dalam pandangan Allah swt maupun pandangan manusia. Dengan sikap rendah hati, harkat dan martabat seseorang tidak akan menurun, bahkan sebaliknya. Rasulullah saw bersabda: “Sedekah tidak akan mengurangi kekayaan seseorang. Allah tidak akan menambahkan kepada seorang hamba yang suka memaafkan melainkan kemuliaan. Dan tiadalah seseorang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.” (HR Muslim).

Dengan rendah hati seseorang memperoleh simpati dan mendapat tempat di hati masyarakat, dan masyarakat pun sayang kepadanya. Hubungan timbal balik akan terjalin dengan baik, dan jalinan kerjasama di bidang apa pun berlangsung dengan baik pula. Orang yang dimuliakan sesama manusia karena rendah hati juga akan dimuliakan oleh Allah swt.

Tatkala berkunjung ke negeri Syam, Umar bin Khaththab ra naik unta bergantian dengan pembantunya. Sesampai di perbatasan Syam, kebetulan giliran pembantu naik unta dan Khafilah Umar ra mengendalikan, sementara perjalanan menyeberangi air bah. Maka beliau mencebur ke dalam air sambil menarik tali unta dengan mengempit sepasang sandal di ketiak kirinya.

Gubernur Syam, Abu Ubadah bin Jarrah berseru, “Wahai Amirul Mukminin, para pembesar negeri telah bersiap menyambut kehadiran tuan. Maka tidak pantas mereka menyaksikan tuan demikian.” Beliau menjawab, “Wahai Abu Ubadah, Allah swt menjadikan kita hidup terhormat di dalam Islam. Maka kita tak perlu peduli masalah jabatan.”

Ketika Rasulullah saw bersama para sahabat hijrah ke Madinah, rombongan beliau disambut dengan suka cita. Orang-orang kaya dan terpadang saling berebut meraih tali kendali unta beliau. Nabi saw bersabda, “Lepaskanlah, dan biarkan dia berjalan, karena unta ini sudah mengetahui rumah siapa yang bakal menjadi persinggahanku!” Orang-orang pun melepaskannya.

Sesampainya di depan pintu rumah Abu Ayyub al-Anshari, unta itu berhenti dan mendekam. Maka turunlah Nabi saw dari untanya. Ketika orang berlomba-lomba menghiasi rumahnya agar Nabi singgah di rumah mereka, Abu Ayyub berkata dalam hati, “Aku orang fakir, bagimana mungkin memperoleh derajat tinggi di sisi Allah?” Allah swt menghendaki agar Nabi-Nya singgah di rumah Abu Ayyub, karena sikap rendah hati yang menghias kepribadiannya.

Mukmin yang tawadhu’ kepada Allah swt dengan bersujud dan bertauhid akan dilapangkan dadanya dalam menerima Islam dan mendapat cahaya dari sisi-Nya. Pangkal akhlak terpuji ialah ketundukan dan hasrat yang luhur, sedangkan pangkal akhlak tercela ialah kesombongan dan kehinaan.

Baca tulisan-tulisan Muhammad Chirzin lainnya: Kumpulan Tulisan Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
5
Cakep
Kesal Kesal
1
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
23
Suka
Ngakak Ngakak
5
Ngakak
Wooow Wooow
13
Wooow
Keren Keren
9
Keren
Terkejut Terkejut
2
Terkejut
Muhammad Chirzin

Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. Guru Besar Tafsir Alquran UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Anggota tim penyusun Tafsir Tematik Litbang Kemenag RI dan tim penyusun draft revisi Alquran dan Terjemahnya Tim Kemenag RI 2017. Telah menulis lebih dari 50 buku tentang Alquran.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals