Marginalisasi Transpuan di Era Pandemi

Pandemi yang kerap kali dianggap sebagai "perang bersama melawan covid-19” seharusnya menjadi kekuatan untuk membangun solidaritas tanpa membedakan-bedakan.


Sumber gambar: advocate.com

Isu-isu minoritas selalu menarik untuk diangkat. karena masih sangat banyak dan mudah di temui di masyarakat, terlebih dalam masyarakat yang relasi mayoritas-minoritas sangat kuat. Layaknya antara relasi senior-junior. Minoritas kerap kali dipaksa mengikuti kemauan dari golongan mayoritas. Hal ini dikarenakan perbedaan yang terjadi dikhawatirkan malah akan menggerogoti nilai mayoritas tersebut.

Dalam konteks Indonesia yang sangat beragam, relasi mayoritas-minoritas sangat mudah ditemukan, mulai dari isu suku, ras, agama, orientasi seksual. Bahkan juga sampai ke ranah profesi pun sangat banyak ditemukan atau jangan-jangan relasi dalam pekerjaan ini dikarenakan isu-isu yang sangat sensitif tadi (agama, ras, suku dan orientasi seksual).

Faktanya memang begitu, pengkotakan golongan ini justru semakin menjadi-jadi, sebagai contoh penerimaan lowongan kerja yang hanya menerima muslim dan muslimah padahal pekerjaan yang tersedia adalah designer, kasir toko, atau apa pun yang tidak ada sangkut-pautnya dengan agama. Hal ini juga sudah lama dirasakan oleh kalangan transpuan, ketika melihat lowongan pekerjaan yang hanya diperuntukan bagi wanita dan pria.

Baca juga: Eksistensi Transpuan: Minoritas yang Dimarjinalisasi oleh Masyarakat, Negara dan Kelompoknya Sendiri

Lalu yang menjadi pertanyaannya, apakah ada kaitannya pekerjaan tersebut dengan “gender”? kayaknya tidak juga. Dan akhirnya banyak kalangan transpuan yang memilih untuk memilih pekerjaan yang “netral gender” walaupun tidak banyak pilihan yang tersedia, jalanan menjadi pilihan yang banyak diambil pada akhirnya.

Lalu apakah berhenti sampai di sana? Tentunya tidak. Jalan tetaplah jalan, ruang temu yang bisa jadi menghangatkan namun kerap kali mengerikan. Tidak ada yang bisa memprediksinya, mungkin hanya kemacetan, selain itu? Tidak ada yang tahu. Begitu pun kehidupan para transpuan yang rela mendedikasikan hidupnya di jalanan. Kadang bisa menemui orang ramah, yang setidaknya tidak melihat secara sinis kepada mereka bahkan syuku­rsyukur diingiri dengan memberikan imbalan atas usaha yang mereka lakukan. Walaupun harus diakui angka sinisme terhadap mereka angkanya masih jauh lebih besar.

Ditambah kondisi hari ini yang sedang sulit akibat terbaan pandemi covid-19. Lockdown, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) atau dengan berbagai macam istilah lainnya yang mengarah kepada Work From Home (WFH) tambah memperparah keadaan. Meskipun harus diakui kebijakan tersebuit merupakan salah satu langkah terbaik yang harus diambil oleh pemerintah.

Bagi sebagian orang yang terbiasa kerja “pergi pagi pulang pagi” merupakan kesempatan untuk semakin dekat dan hangat dengan anggota keluarga. Tetapi pernahkah Anda membayangkan, bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki keluarga, secara sosial terpinggirkan, secara ekonomi kalang kabut, tidak memiliki banyak akses, baik kesehatan maupun akses untuk mendapatkan bantuan sosial sekalipun?.

Orang yang harus keluar setiap harinya untuk mendapatkan uang demi mencukupi kebutuhan hidupnya, uang yang didapatkannya pun paling hanya cukup untuk kebutuhan dan tak pernah nekoneko ingin ini-itu dan itu pun hanya cukup paling lama untuk tiga hari, setelahnya? Harus kembali terjun ke jalan. Kalau tidak? Ya sudah, karena mengharapkan bantuan dari pemerintah belum tentu dapat terlebih jika tidak memiliki KTP, seperti yang dialami oleh  banyak transpuan.

Transpuan dengan identitas minoritas sekaligus kerap kali dianggap sebagai penyakit sosial (patologi sosial) menjadikan keberadaannya semakin terpinggirkan. Di Yogyakarta beruntungnya kalangan transpuan memilliki wadah tersendiri. Ada tiga komunitas yang menjadi wadah menaungi waria, pertama IWAYO (Ikatan Waria Yogyakarta) yang concern dibidang advokasi bagi transpuan. Kedua, Pondok Pesantren Waria Al Fatah Yogyakarta sebagai wadah bagi transpuan untuk belajar agama, terkhusus transpuan yang beragama Islam. Dan yang ketiga ada KEBAYA (Keluarga Besar Waria Yogyakarta) yang lebih memperhatikan kepada aspek kesehatan para transpuan.

Baca juga: Marjinalisasi Kelompok Minoritas di Tengah Pandemi Covid-19

Akhir-akhir ini ketiga komunitas tersebut disibukan dengan banyaknya para transpuan yang tidak bisa bekerja seperti biasanya sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya. Ini berdampak terhadap kesehatan transpuan, banyak yang jatuh sakit dikarenakan tidak dapat memenuhi asupan gizi dan vitamin, selain itu diiringi pula dengan tingginya tingkat depresi yang menyebabkan mereka drop. Banyak pula transpuan yang akhirnya meninggal dunia, sampai saat ini tercatat ada 11 transpuan di Yogyakarta yang meninggal dunia selama pandemi covid-19, dan beberapa transpuan lainnya jatuh sakit dan menjalani isolasi mandiri di tempatnya masing-masing.

Pandemi ini memang tidak hanya menerpa kalangan transpuan, melainkan semua orang pun merasakan dampaknya. Tetapi kondisi transpuan sebagai minoritas dan sering dianggap sebagai penyakit sosial tidak banyak diperhatikan. Tiga komunitas beserta relawan yang bekerja sama dengannya disibukan dengan mencari bantuan untuk para transpuan yang terdampak, seperti pemberian masker, bahan makanan, vitamin, obat-obatan dan uang tunai. Selain itu, sebagian dana yang terkumpul juga dialokasikan kepada transpuan yang meninggal yaitu untuk pengurusan dan pemakaman jenazahnya.

Marginalisasi yang terjadi pada kalangan transpuan seharusnya tidak sampai mengabaikan kebutuhan mereka sebagai manusia untuk mendapat perlindungan sosial dan kesehatan dalam pandemi ini. Pandemi yang kerap kali dianggap sebagai “perang bersama melawan covid-19” seharusnya menjadi kekuatan untuk membangun solidaritas tanpa membedakan-bedakan dengan alasan apa pun.

Editor: Ahmad Mufarrih
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

 

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Teguh Ridho Nugraha
Teguh Ridho Nugraha, mahasiswa aktif jurusan Sosiologi Agama di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dan juga menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Wahid Hasyim Yogyakarta.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals