Memaknai Husein: Titik Temu Sunni dan Syiah

Jika kebencian yang ditonjolkan, bukankah sama saja meneruskan kebiadaban Yazid?


Kisah juang nan heroik Sayyidina Husein (w. 61 H), cucunda Kanjeng Nabi, sampai kapan pun takkan habis-habis untuk dimaknai. Dari sudut mana pun, konteks dan kondisi apa pun ia disorot, akan selalu menyuguhkan rupa-rupa hikmah. Terkecuali, mereka yang sengaja memilih untuk memendam bibit-bibit benci dan permusuhan.

Mereka yang saya maksud ialah gerombolan fanatik dari Sunni dan Syiah. Fanatisme itu yang membuat mereka mudah kalap dan terlepas dari rahman-rahim. Tingkah itu pula yang menjebak mereka ke dalam kubangan politik kekuasaan. Alih-alih menjadi yang paling benar, malah jadi kacung politisi.

Faktanya, beberapa saat sebelum pembantaian terjadi, Sayyidina Husein telah berusaha mengingatkan utusan Yazid dengan kalimat yang sangat dahsyat dan menyejukkan. Kalimat itu termaktub dalam Tarikh Thabari (5/425) dan Bidayah wa al-Nihayah (8/193).

Baca juga: Belajar Toleransi dari Minoritas

“Lihat nasabku, pandangilah siapa aku ini? Lantas, lihatlah siapa diri kalian. Apakah halal bagi kalian membunuhku dan merusak kehormatanku? Bukankah aku ini putra dari anak perempuan nabimu? Bukankah aku ini putra dari Ali bin Abi Thalib keponakan nabimu, yang pertama kali beriman kepada nabimu? Bukankah Hamzah penghulu para syahid ialah pamanku? Bukankah kalian tidak mendengar sabda nabimu bahwa aku dan saudaraku (Hasan) ialah pemuka dari para pemuda ahli surga? Apakah kalian tidak mempercayaiku, padahal aku tak pernah berdusta? Tidakkah ini cukup untuk menghalangi kalian dari menumpahkan darahku?”

Usai kalimat nan lathif itu disampaikan, tetap saja mereka tak bergeming, bahkan menunjukkan sikap menantang, hingga melampaui batas kemanusiaan.

Malangnya, ambisi politik telah menafikannya, sampai-sampai mengabaikan otoritas kenabian, semua disikat habis. Super banal.

Karena itu, tak ada gunanya mempertahankan ego sektarian yang jelas tuna-nurani, dan sungguh mengerdilkan kemanusiaan. Mestinya, baik Sunni maupun Syiah menjadikan tragedi Sayyidina Husein sebagai momen keakraban dan berjabat tangan. Semoga pula meruntuhkan watak parokial yang selama ini menjadi kemegahan yang sama sekali tak perlu. Apa tidak capek berabad-abad menanak benci?

Sikap Yazid beserta kawanannya jelas tidak mewakili pihak mana pun, baik Sunni maupun Syiah. Ya, ia adalah perpanjangan tangan dari kebiadaban. Dengan begitu, jika kebencian yang ditonjolkan, bukankah sama saja meneruskan kebiadaban Yazid?

Biarkan Syiah dengan caranya, begitu pula Sunni. Tak perlu ribut. Yang penting, sama-sama menghikmahi seraya meneladani perjuangan Sayyidina Husein. Cukup. Sesederhana itu.

Baca juga: Sejarah dan Keistimewaan Bulan Muharram dalam  Islam

Kaum Syiah (rafidhah) punya hak mutlak untuk ‘mengkultuskan’ Sayyidina Husein sebagai salah seorang imam maksum. Hak itu pula yang mesti dibagi rata ke para sahabat Nabi Muhammad saw lainnya, terutama tiga khalifah sebelum Ali. Bukan malah sebaliknya.

Kaum Sunni pun hendaknya tidak gegabah memvonis dan menuduh sesat kaum Syiah. Sebab, perseteruan Sunni-Syiah mulanya murni politik, kemudian saja merembet ke agama. Itu pun kalau memang enggan menjadi budak politik.

Perseteruan yang telah mengkristal ke wilayah agama itu telah merenggut korban jiwa yang tak sedikit, sepanjang sejarah. Semangat berseteru selain menyandera kemanusiaan, juga menghalangi daya memaknai.

Sebab, kemampuan memaknai menandakan kematangan beragama atau religious attitude. Dengan kata lain, semakin rendah daya memaknai, semakin dangkal pula sikap beragama seseorang.

Sayyidina Husein ialah pusaran hikmah bagi siapa pun yang menantikan perjumpaan dengan Sang Rahman. Sebagaimana tutur Muhammad Iqbal, penyair kharismatik Pakistan:

“Aku belajar rahasia Quran dari Husein

Dalam nyala api cintanya, aku terbakar.”

Kaum sufi bahkan jauh melampaui realitas dengan menempatkan Sayyidina Husein sebagai puncak kematangan rohani, pecinta yang menderita, fananya ego, dan mata air syuhada. Demikian seharusnya mereka itu bersikap. (SJ)
__ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Mahmud Wafi

Master

Mahmud Wafi, adalah seorang pekerja sosial, juga merangkap sebagai santri Senin malam di Nitipuran.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Hikmah

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals