Spirit Keadilan dan Kesetaraan dalam Hadis Misoginis

Kita harus mampu melihat spirit yang dimaksud oleh hadis-hadis yang dinilai misoginis atau bias gender dengan melihat cara Islam memulai mengangkat derajat perempuan


gambar: qureta

Kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan setidaknya telah mempengaruhi cara berfikir kaum muslim zaman sekarang. Salah satu di antara kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan itu adalah menganai isu kesetaraan gender yang juga secara tidak langsung telah membuka celah pengembangan gender dalam studi Islam, salah satunya dalam perkembangan ilmu hadis.

Menurut Abdul Mustaqim, adanya pengkajian dalil naqli (baca: hadis) menggunakan perspektif gender ini merupakan konsekuensi dari adanya paradigma integrasi-interkoneksi keilmuan, yang telah menggugah kesadaran para sarjana dalam mengkaji hadis menggunakan pendekatan teori sosial, dalam hal ini teori gender.

Hadis sebagai salah satu sumber ajaran Islam lebih banyak memuat dan menggambarkan permasalahan kehidupan dan relasi sosial masyarakat Arab pada zaman Nabi Muhammad SAW. Di sisi lain kajian sejarah penyebaran hadis yang begitu kompleks dan melibatkan banyak pihak menyebabkan keberadaannya perlu terus dikaji ulang, termasuk hadis-hadis misoginis.

Sebagaimana menurut Nasaruddin yang mengatakan bahwa ada empat hal yang menyebabkan kesalahpahaman yang seolah menjadikan hadis-hadis bias gender sebagai alat legitimasi untuk melakukan perlakuan tidak adil dan merendahkan perempuan, keempat hal tersebut, yakni faktor ketidaktahuan, kemandekan dalam tafsiran hadis, pengabaian konteks dari turunnya hadis tersebut (asbabul wurud), serta adanya normalisasi relasi gender patriarkis.

Dalam ranah sosial, gender menjadi salah satu aspek yang sangat menentukan bagaimana peran laki-laki dan perempuan diakui dalam masyarakat. Adanya pembatasan dan pemutlakkan dalam pembagian gender telah menimbulkan ketimpangan.

Selama ini permasalahan utama dari ketimpangan gender adalah mengakarnya budaya patriarki di kalangan masyarakat. Tak terlepas saat zaman Nabi Muhamamd SAW, kondisi masyarakat Arab yang kental akan budaya patriarki, dimana perempuan saat itu diberi status sosial lebih rendah dibandingkan laki-laki.

Budaya patriarki ini seakan-akan telah memukul rata semua kemampuan perempuan, menganggap lemah, dan memiliki akal yang lebih rendah dibandingkan laki-laki sehingga tak heran apabila saat itu perempuan tak diberi ruang untuk berpartisipasi dalam masyarakat, salah satunya dalam hal persaksian. Sebagaimana dalam sebuah hadis dikatakan bahwa perbandingan kesaksiaan laki-laki dan perempuan adalah 1: 2. Terdapat dalam hadis riwayat Imam Bukhari dalam bab Syahadatun Nisa no: 2658

“Ibn Abi Maryam berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, menceritakan kepada kami, ia berkata  Zaid bin Aslam, menceritakan kepada kami dari Iyadh bin Abdillah dari Abi Sa’id Al-Khudri r.a dari Nabi SAW bersabda: “Bukankah kesaksian seorang perempuan sama dengan setengah dari kesaksian laki-laki? Kami berkata : “benar”. Itulah kekurangan akalnya”.  

Sekilas terlihat bahwasannya hadis Nabi yang dalam pembahasan kali ini mengenai kesaksian perempuan seakan mengandung bias gender. Di mana posisi wanita dianggap tidak sebanding, berada di bawah posisi laki-laki dan kekuatan dalam memberikan kesaksian hanya setengah dari laki-laki. Jika dipahami secara sekilas memang hadis ini seolah telah memberi nilai rendah pada kemampuan perempuan dalam memberikan persaksian.

Namun sebelum itu, sangat perlu diketahui bahwa dalam memahami sebuah hadis kita tidak hanya bisa berpacu pada tampilan teks secara zahiriyah saja. Disana perlu adanya peninjauan terhadap konteks yang melingkupi turunnya hadis tersebut. Asbabul wurud sebagai konteks mikro, dan kondisi sosial bangsa Arab saat itu menjadi konteks makronya. Melihat kembali pada kondisi masyarakat Arab pra Islam yang mana sangat patriarkal.

Kehadiran Islam serta merta memiliki misi untuk memperbaiki ketidakadilan yang timbul akibat budaya patriarki tersebut. Namun tentu tidak secara keras langsung menumpas budaya tersebut. Strategi dakwah yang dilakukan oleh Islam sangatlah lembut dan cantik. Sebelum datangnya Islam, bangsa Arab telah memiliki beragam budaya, dan tidak semua budaya yang ada serta merta diubah secara total setelah kedatangan Islam.

Islam sebagai rahmatan lil’alamin tetap mempertahankan budaya Arab yang memang positif, sebagai contoh budaya perdagangan yang berkembang dalam masyarakat Arab. Dengan datangnya Islam, perdagangan lebih diatur tata caranya sedemikian rupa, disempurnakan. Sebaliknya budaya negatif yang jelas menimbulkan kemadharatan dilarang setelah datangnya Islam, seperti halnya budaya orang-orang Arab yang suka mabuk dan berjudi. Tapi tentu proses perubahan dan penghapusan ini bukanlah hal yang mudah, butuh langkah yang tepat dan waktu yang tak singkat.

Sama halnya dengan budaya patriarki yang sangat mengakar kuat di kalangan masyarakat Arab. Tak mungkin dalam mendakwahkan nilai kesetaraannya, Islam melarang begitu saja, tentu butuh proses. Spirit Islam adalah kesetaraan, namun tentu dalam mewujudkannya perlu dilakukan pendekatan terhadap budaya tersebut secara perlahan. Kita harus mampu melihat spirit yang dimaksud oleh hadis-hadis yang dinilai misoginis atau bias gender. Lihat bagaimana cara Islam mulai mengangkat derajat perempuan Arab melalui ajaran-ajarannya.

Dahulu sebelum adanya Islam, perempuan-perempuan Arab tidak memiliki hak waris dan bahkan dirinya yang diwariskan, setelah datangnya Islam perempuan mendapatkan perlindungan dan hak waris. Begitupun dengan permasalahan kesaksian, hadirnya Islam memberi kemuliaan dan penghormatan pada perempuan dengan membolehkan perempuan mengambil peran dalam persaksian. Jika dilihat dari pandangan kita yang hidup di zaman sekarang ini,  rasio 1:2 memang seakan bias gender, namun sekali lagi yang perlu ditekankan disini adalah spirit yang berusaha megadakan penyetaraan.

“Keadilan” dan “kesetaraan” itu merupakan suatu kata yang berkonteks. Keadilan yang ada di suatu tempat belum tentu sama dengan keadilan di tempat lain, begitupula dengan kesetaraan, tidak bisa hanya dilihat dari angka saja. Maksudnya, dalam hal persaksian tadi, dengan rasio laki-laki dan perempuan 1:2  dalam konteks masyarakat Arab, hal tersebut sudah dapat dikatakan adil dengan mengingat segala situasi masyarakatanya, khususnya  perempuannya.

Jadi kita tidak bisa menyamakan manifestasi keadilan kita saat ini dengan manifestasi keadilan dalam masyarakat Arab Islam kala itu. Oleh kerenanya, dalam memahami suatu hadis, sangat diperlukan adanya pertimbangan konteks yang melatarbelakangi turunnya hadis tersebut.

Tuduhan terhadap Islam kerap dilontarkan sebagai agama yang bias gender dan seolah tidak mengajarkan pada keadilan adalah tuduhan yang sangat tidak tepat. Spirit yang terdapat dalam teks yang mereka tuduh mengandung ajaran bias gender dan tidak pro terhadap keadilan, terutama dalam hal gender, nyatanya maknanya itu sangatlah mendorong pada kesetaraan gender dan keadilan sosial.

Wallahu ‘alam bi shawwab

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals