Multiple Intelligences Perspektif Howard Gardner

Kecerdasan seseorang tidak bisa hanya dengan tiba-tiba diukur dari hasil tes psikologi atau IQ saja.


Sumber gambar: cpljobs.com

Menurut Gardner, kecerdasan seseorang tidak bisa hanya dengan tiba-tiba diukur dari hasil tes psikologi atau IQ saja. Melainkan kecerdasan dapat kita lihat dari kebiasaan seseorang terhadap dua hal. Pertama, dari kebiasaan seseorang menyelesaikan masalahnya sendiri (Problem Solving). Kedua, dapat kita lihat dari kebiasaan seseorang menciptakan produk-produk baru yang mempunyai nilai budaya (kreativitas). Dalam realitanya seringkali orang tua dan guru tanpa menyadari bahwa mereka telah membunuh dua sumber kecerdasan tersebut, yakni creativity dan problem solving.

1. Kebiasaan Problem Solving

Apabila anak dibiasakan untuk dicegah bahkan dilarang untuk melakukan sesuatu, maka orang tua tanpa sadar telah membunuh berkembangnya kebiasaan memecahkan masalah (Problem Solving).

Seperti yang terdapat pada suatu fenomena, yakni ada seorang anak berusia 0-8 tahun melihat tangga di rumahnya kemudian mencoba menaikinya, tentu saja secara spontan orang tua mencegahnya dengan alasan takut jatuh, padahal sebenarnya yang terjadi di otak sang anak adalah menganggap tangga tersebut adalah sebuah masalah yang harus dia temukan jalan keluarnya yakni dengan menaikinya.

Keberhasilan anak menaiki tangga akan menggores otaknya sebagai pengalaman naik tangga. Hal tersebut ibarat sebuah bab dalam bidang studi yang sudah tuntas, dengan memiliki kompetensi dasar kemampuan menaiki tangga.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Munif Chatib terkait larangan yang diberikan orang tua terhadap anak-anaknya pada masa perkembangan. Fenomena tersebut dialami oleh orang tua yang memiliki empat anak yang berusia 9,7,5 dan 4 tahun, pengamatan dilakukan selama 7 jam. Munif mendapatkan 127 ayah dan ibu mengatakan kepada anak-anaknya beberapa frasa larangan, di antaranya: awas, jangan, tidak boleh, dan lainnya yang bersifat melarang anak dalam melakukan suatu hal yang ingin mereka ketahui.

Dapat kita bayangkan apabila dalam satu hari itu anak-anak tersebut dicegah untuk mempelajari 127 bab dari pengetahuan dan pengalaman kehidupan nyata sehari-hari. Mereka seakan kehilangan pengalaman dalam memecahkan suatu masalah dan tentu saja hal tersebut berdampak kurang baik di masa yang akan datang. Khususnya anak kurang memiliki sifat kemandirian dalam hal apapun.

2. Kebiasaan Kreatif

Pada kenyataannya seringkali ketika kebiasaan anak untuk kreatif dipandang oleh orang tua dengan pandangan yang negatif, yakni di antaranya anak suka mengotori tempat, suka bongkar-bongkar barang di dalam rumah serta membuat hal aneh lainnya.

Seperti yang pernah dialami oleh sebuah keluarga yang mana anaknya sangat suka mencoret-coret tembok, hingga pada akhirnya orang tuanya kesal. Akhirnya orang tua mengambil inisiatif untuk membuatkannya tempat khusus untuk dicoretin, yakni dinding putih dengan bingkai segi empat yang terlihat seperti kanvas raksasa.

Namun setiap belum genap seminggu dindingnya sudah sangat penuh sehingga ayahnya setiap satu minggu sekali mengecat lagi. Kemudian suatu hari orang tua menanyakan dari hati ke hati terhadap anaknya tentang alasan anak suka mencoret dinding, dan jawabannya sungguh sangat sederhana yakni anak suka menggambar dengan berdiri.

Dari hal tersebut perlu kita sadari bahwa menggali setiap apa yang dilakukan anak pada masa perkembangannya sangat diperlukan, karena setiap yang dilakukan perlu disikapi dengan sebijak mungkin, yakni tetap memberikan mereka ruang kebebasan dalam menggali pengetahuan dan pengalamannya sejak dini.

Munif Chatib menyadari setelah sepuluh tahun lebih mendalami Multiple Intelligences bahwasanya terdapat tiga hal penting yang sangat berkaitan dengan dunia pendidikan yakni komponen inti, kompetensi dan kondisi akhir terbaik. Setiap area otak manusia yang disebut dengan lobus of brain ternyata memiliki komponen inti berupa potensi kepekaan yang akan muncul di setiap area otak apabila diberi stimulus yang tepat.

Dari stimulus yang tepat, maka kepekaan tersebut akan menghasilkan kompetensi. Kemudian apabila kompetensi tersebut dilatih secara terus-menerus dan dalam jenjang silabus yang tepat, maka kompetensi tersebut akan muncul kondisi akhir terbaik yang dialami oleh manusia.

Kecerdasan bukan hanya meliputi satu aspek kecerdasan saja dalam mengukur ataupun menilai apakah siswa itu bodoh atau mengalami keterlambatan dalam belajar.

Namun penting bagi seorang pendidik untuk melihat beberapa kecerdasan majemuk yang dimiliki oleh setiap siswa. Kecerdasan tunggal hanya bisa diukur satu aspek tertentu saja, karena setiap siswa memiliki kecerdasan majemuk, dan setiap kecerdasan majemuk itu sendiri setiap siswa memiliki karakteristik berbeda antara satu yang lainnya.

Adapun varian kecerdasaan itu ialah linguistik, matematis-logis, visual-fasial, music, kinestetis, interpersonal, intrapersonal, dan natural.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Wahyu Hidayat

Warrior

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Interdisciplinary Islamic Studies

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals