Memahami Makna Festivalisasi Al-Qur’an: Antara Semakan dan Yasinan

Modal bagi umat Islam untuk menggerakkan nilai-nilai dakwah, sebagai representasi dari pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an


Sumber gambar: numuda.id

Sebelum masuk pembahasan yang lebih intim soal Semakan dan Yasinan, alangkah baiknya, kita mengupas arti dari pada festivalisasi itu sendiri, supaya lebih jelas dan terang.

Dalam kamus ilmiah populer hanya dijumpai dalam bentuk kata dasarnya, yaitu festival (perayaan/pesta akbar memperingati suatu bersejarah).

Akan tetapi perubahannya menjadi festivalisasi, dalam kamus ilmiah populer tidak dijumpai kata festivalisasi, sementara perubahan bentuk kata dasar kalimat ke bentuk yang lain, baik perubahan dengan imbuhan di awal, ataupun di akhir kalimat, tentu mempengaruhi terhadap pemahaman, dan pendefinisiannya, khususnya dalam kasus ini imbuhan–isasi pada akhir kalimat. (Allasi, “festival is an event, a social phenomenon, encountered in vitually all human cultures” 1998)

Misalnya saja kata “aktual menjadi aktualisasi, histori menjadi historisasi, Islam menjadi Islamisasi, Qur’an menjadi Qur’anisasi dan lain sebagainya. Setidaknya dalam salah-satu literatur menjelaskan makna sebuah festival yang artinya adalah suatu peristiwa atau kejadian penting, suatu fenomena sosial yang pada hakekatnya dijumpai dalam semua kebudayaan manusia

Pertama, pembahasan makna Semakan. Kata ‘Semakan’ berasal dari bahas arab سمعا – یسمع – سمع yang artinya mendengar. Kata tersebut diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Simak”, dan dalam bahasa Jawa disebut “Semakan”.

Menurut Wiwi Alawiyah Wahid yang di kutip dalam buku Cara Cepat Bisa Menghafal Al-Qur’an menerangkan bahwa metode Semakan atau (Tasmi’) adalah memperdengarkan hafalan kepada orang lain, misalnya kepada sesama teman tahfidz atau kepada senior yang lebih lancar. (Wiwi Alawiyah Wahid, Cara Cepat Bisa Menghafal Al-Qur’an, 2012).

Pembahasan semacam ini, dirasa tidak asing lagi di dunia pesantren, maupun lembaga-lembaga keagamaan lainnya.

Ditinjau dari aspek penggunaannya, Semakan memiliki dua makna, formal dan non-formal. Makna formal Semakan, sebagai metode memelihara dan menghafal Al-Qur’an, supaya tetap terjaga dan semakin lancar kualitas hafalannya.

Di samping itu pula sebagai ujian tes hafalan Al-Qur’an minimal 5 juz, bagi mereka yang sedang proses menghafal Al-Qur’an, kemudian disimak oleh teman-temannya di bawah kepengawasan guru tahfidz atau disebut juga dengan istilah nihāi.

Baca juga: Al-Qur’an Hidup di Masyarakat

Kemudian dari aspek makna non-formal, Semakan diartikan sebagai tradisi membaca dan mendengarkan Al-Qur’an dalam sebuah acara rutinitas, maupun ritual keagamaan. Seperti Semakan dalam rangka memperingati hari-hari yang berkesan, misal haul alim ulama, pra acara pernikahan, dan lain sebagainya.

Bila ditelusuri aspek kesejarahan, Semakan sesungguhnya menyimakkan hafalan (Semakan) kepada guru yang hafidz merupakan kaidah baku yang sudah ada sejak zaman Rasulullah saw.

Dengan demikian, menghafal Al-Qur’an kepada seorang guru yang ahli dan faham mengenai Al-Qur’an sangat diperlukan bagi sang calon penghafal supaya bisa menghafal Al-Qur’an dengan baik dan benar.

Berguru kepada ahlinya juga dilakukan oleh Rasulullah saw. Beliau berguru langsung kepada malaikat Jibril a.s., dan beliau mengulanginya pada waktu bulan ramadhan sampai dua kali khatam 30 juz. Hal ini memberikan pemahaman, Semakan pada dasarnya sebuah amaliah mulia, yang bisa dijadikan metode dalam menghafal, dan melancarkan hafalan Al-Qur’an.

Kenyataan makna Semakan, seiring perkembangan roda zaman mengalami perkembangan makna secara penggunaannya.

Artinya kata Semakan memiliki sinonimitas makna yang cukup luas. Tanpa disadari, sering kali disandingkan dengan istilah Tadarrusan, Muqoddaman, Qur’anan, padahal masing-masing istilah tersebut memiliki pengertian dan karakteristik, maupun kekhas-an yang berbeda juga.

Misalnya, kata “Tadarrusan” penggunaannya lebih sering diungkapkan dalam pembacaan Al-Qur’an pada waktu bulan ramadhan. “Muqoddaman”, yaitu pembacaan Al-Qur’an dan mengkhatamkannya secara berjamaah, dalam artian masing-masing person membaca juz sesuai bagiannya.

Qur’anan”, rutinitas pembacaan Al-Qur’an yang terikat dalam suatu jam’iyyah (kelompok), dengan waktu dan tempatnya tersistematis dari satu tempat-ke tempat lain secara bergilir sesuai kesepakatan bersama.

Ada lagi, ketika kata Semakan diaplikasikan ke dalam perayaan suatu acara, ritual, atau sejenisnya lebih akrab dengan ungkapan istilah “khataman”, karena memang orientasinya adalah membaca Al-Qur’an dengan menghatamkannya dalam satu majelis.

Dapat dikatakan, Semakan dilihat dari aspek hubungan makna sosialnya lebih mengedepankan toleransi, dalam artian para pesertanya tidak diharuskan membaca Al-Qur’an, cukup mendengarkan saja, sehingga para peserta acara tersebut banyak di ikuti oleh berbagai elemen masyarakat.

Semakan Al-Qur’an ketika diekspresikan dalam dunia nyata sosial kehidupan bermasyarakat, pemaknaannya tentu lebih dominan makna non formal, karena lebih mengarah pada keumuman sifatnya, dan familiar terutama memberikan promosi kepada kalangan awam.

Ini salah-satu acuan supaya Semakan lebih diaktualisasikan dalam rangka meningkatkan kesadaran religius mereka dengan berbagai ragam acara, dan jenisnya.

Kedua, Makna Yasinan. Kata Yasinan diambil dari salah satu nama surat di Al-Qur’an, yaitu “Yasin”. Kemudian diserap ke dalam suatu ‘amaliyyah rutinitas keagamaan sekelompok umat muslim. Hingga akhirnya, di jadikan rutinitas amaliah tersebut cukup dengan kata “Yasinan”, sekaligus menjadi identitas amaliah itu sendiri.

Jika ditinjau dari aspek realitas sosialnya, Yasinan adalah ritual pembacaan Surat Yasin yang identik dilaksanakan pada hari-hari tertentu, seperti pada acara kematian, anggota majlisan yang umumnya di laksanakan setiap malam jumat, dengan serangkaian bacaan tahlīl, atau acara-acara lain yang dianggap representatif.

Acara semacam ini mentradisi dilakukan warga NU, baik hajatan bagi diri sendiri, keluarga, lingkungan maupun untuk kepentingan-kepentingan yang baik. Diharapkan dengan pembacaan yasin, juga mengirimkan doa bagi saudara yang telah meninggal agar dosanya diampuni oleh Allah Swt.

Yasinan sudah barang tentu aktifitas yang familiar di kalangan masyarakat, terutama pedesaan, dan perkampungan. Bahkan salah satu surat dalam Al-Qur’an yang paling sering dibaca, dan dihafal—selain juz amma—oleh mayoritas umat muslim—lebih khusus Indonesia, karena telah menjadi bagian dari ritus masyarakat—sehingga dijadikan rutunitas jam’iyyah pengajian bapak-bapak atau ibu-ibu pada setiap malam jumat.

Pengajian Yasinan merupakan salah satu ‘amaliyyah warga Nahdhiyyin, serta menjadi strategi dalam melakukan dakwah (Ahmad Atabik, The Living Qur’an: Potret Budaya Tahfidz Al-Qur’an di Nusantara, 2014).

Baca juga: Upaya Merengkuh Al-Qur’an

Amaliah pengajian Yasinan yang meliputi tahlīl, istighātsah dan ditutup oleh pengajian keagamaan sebagai “sumbu” di dalam meningkatkan keimanan, ketakwaan, menumbukan kepekaan sosial, dan meningkatkan mental dan karakter masyarakat yang lebih baik (Rofi’e, “Amaliah Ciri Khas NU”, 2013).

Tinjauan dari aspek makna Yasinan dalam realitas kehidupan bermasyarakat, setidaknya dapat dipersepsikan sebagai Semakan yang menjadi modal bagi umat Islam untuk menggerakkan nilai-nilai dakwah, sehingga diharapkan dapat memicu terjadinya kedekatan masyarakat dengan Al-Qur’an.

Hal itu mejadi representasi dari pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadis untuk menggapai kemaslahatan Islam, guna terciptanya umat yang Raḥmatan li’l ‘ālamīn. 

Sehingga Yasinan menjadi salah satu fondasi di dalam pengembangan manajemen dakwah, pada akhirnya terstruktural menjadi adanya majelis ta’lim Yasinan, baik bapak-bapak, atau ibu-ibu, bahkan kawula muda.

Hal ini sebagai media dakwah dengan memperbaiki manajemen dan mekanisme majelis Yasinan untuk dikayakan dengan memenuhi substansi gerakan dakwah yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Editor : Sukma Wahyuni

_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Al-Qur'an dan Hadis

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals