Belajar dari Gerak Sufi Perempuan

Di balik nama-nama sufi besar seperti Hasan al-Bashri, Sufyan at-Tsauri dan Ibnu Arabi, adapula sufi perempuan yang justru malah menjadi guru mereka.


oshonews.com

Kehadiran para sufi perempuan dalam literatur Islam menjadi satu tema yang masih harus dikupas secara intensif. Sebab dalam lintasan sejarah kehadiran ulama-ulama perempuan kerap berada di posisi cukup tepi.

Agak jarang nama-nama ulama perempuan itu tersebutkan di tengah arus sejarah yang mainstream. Misalnya saja saat sejarah berada dalam bahasan sahabat Nabi, maka nama-nama yang otomatis seketika keluar adalah nama-nama sahabat Nabi laki-laki seperti Abu Bakar, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan yang lainnya. Baru ketika masuk pada bahasan sahabat yang khusus perempuan maka keluarlah nama-nama seperti Khadijah binti Khuwailid, Aisyah binti Abu Bakar, Ummu Salamah dan lain-lain.

Tulisan ini ber-nawaitu-kan mengangkat kembali nama-nama ulama perempuan dalam tradisi Tasawuf. Di balik nama-nama sufi besar seperti Hasan al-Bashri, Sufyan ats-Tsauri, Ibrahim bin Adham, Ibnu Arabi, Jalaluddin Rumi ada pula sufi perempuan yang bahkan menjadi guru dari beberapa sufi besar yang telah disebutkan tadi. Sebut saja misalnya nama Rabi’ah al-Adawiyah dan Syaikhah Fathimah binti al-Mutsanna.

Nama Rabi’ah al-Adawiyah masih terbilang cukup sering muncul dalam literatur Tasawuf perempuan. Namanya beberapa kali disebut saat berbicara tentang generasi sufi di Abad ke-2 Hijriyah. Al-Taftazani menyebut generasi ini sebagai generasi asketis di mana pola kehidupan zuhud mulai tumbuh dan bergerak.

Kegiatan ini (zuhud/asketisme) adalah sebuah aksi revolusi ruhaniah beberapa kaum muslimin terhadap sistem politik yang berlaku. Bukan hendak menghindar menjadi apatis dari kemelut politik yang melibatkan elite-elite muslim saat itu, akan tetapi gerakan ini adalah salah satu langkah alternatif untuk meredam gejolak psikologi umat agar tidak tereduksi pada segmen politik semata dari energi yang mereka punya.

Rabi’ah terkenal dengan ajaram Mahabbah-nya yaitu rasa cinta kepada Allah SWT. Rumusan cinta Ilahiyat yang digagas olehnya tidak sama dengan cinta berahi dengan lawan jenis yang bergelimang syahwat.

Konsep Mahabbah yang diusungnya adalah cinta yang mampu membawa para pecinta pada ketakwaan laku. Pun tak menaruh harap balasan pahala dari yang dicinta (Allah SWT). Bahkan cintanya itu mampu mematikan rasa takut pada segala sesuatu yang negatif – destruktif bahkan pada neraka sekalipun. Prioritas yang dikehendakinya adalah senantiasa mencinta pada Tuhannya.

Perjuangan seorang Rabi’ah untuk mencapai titik yang mulia itu tentu tidak gampang. Membaca ceritanya akan membuat hati menjadi miris bercampur getir nanar. Penggalan kisah perjuangannya banyak ditemui-dialami pula oleh perempuan-perempuan masa kini. Namun bedanya Rabi’ah mampu keluar dari lorong gelap dunia dan berhasil memperoleh jalan cahayanya. Seorang gadis Rabi’ah pernah hidup dalam jerat kemiskinan yang menyebabkan hidupnya berpindah-pindah bahkan sempat berstatus sebagai budak.

Beberapa kali Rabi’ah harus melakoni peran sebagai seorang biduan. Di hadapan para pejabat dan penguasa ia diperintah menghibur dengan kemerduan suaranya. Hingga suatu ketika ada seorang ulama besar bernama Tsauban terlibat perjumpaan dengan biduan Rabi’ah al-Adawiyah. Tsauban mengudar bulir-bulir hikmah yang membuat Rabi’ah terbuka hatinya.

Sejak saat itu perlahan cahaya-cahaya Ilahiat masuk menerangi ruang qalbunya. Setelahnya ia isi malam-malam yang dilaluinya dengan  munajat-munajat yang sangat lirih dan syahdu pada Tuhan. Sampai akhirnya sang majikan terketuk hati untuk memerdekakan Rabi’ah. Barulah setelah itu Rabi’ah melakoni hidup sebagai manusia bebas yang dapat menggunakan seluruh waktunya untuk bermunajat dan beribadah pada Tuhan.

Seorang Rabi’ah adalah juga seorang guru ruhani bagi siapapun yang datang menimba pengetahuan padanya. Beberapa ulama sufi ada yang tertangkap sejarah berguru kepadanya, ada pula yang terlibat diskusi pengetahuan dengannya. Beberapa sufi yang berkunjung ke majelis Rabi’ah di antaranya adalah Malik bin Dinar, Sufyan ats-Tsauri dan Syaqiq al-Balkhi. Ketiganya merupakan tokoh-tokoh populer dalam literatur tasawuf.

Diceritakan suatu hari Sufyan ats-Tsauri memohon nasihat kepada Rabi’ah, maka dikatakan kepadanya: “engkau orang yang baik, sekiranya tidak ada cinta dunia (dalam dirimu)”. Lalu sebagai seorang sufi besar Sufyan ats-Tsauri pun mengakui kebenaran yang disampaikan oleh Rabi’ah.

Lain halnya dengan Rabi’ah lain pula dengan Fathimah al-Mutsanna. Wali Allah SWT yang berasal dari Cordova-Andalusia ini dikisahkan oleh murid yang sangat dikasihinya bernama Ibnu Arabi. Perjumpaan keduanya terbilang cukup unik. Saat usia Syaikhah Fathimah sembilan puluh lima tahun, Ibnu Arabi kecil dititipkan padanya untuk belajar agama. Saat itu usia Ibnu Arabi masih sekitar 8 tahun.

Seorang Fathimah al-Mutsanna adalah seorang sufi yang setimbang perkara dunia dan akhiratnya. Di samping seorang syaikhah yang mengajar murid-muridnya, Fathimah juga bekerja menggarap tanah yang sangat subur di daerah tempat tinggalnya di Seville. Meskipun sudah berusia lanjut namun Fathimah tidak surut memancarkan pesona kecantikan yang membuatnya tampak muda dan segar.

Kurang lebih sekitar 2-4 tahun Syaikhah Fathimah mendidik Ibnu Arabi. Setidaknya ada dua tema kesufian yang diajarkannya. Pertama adalah tentang cinta Ilahi dan yang kedua adalah surat al-Fatihah.

Syaikhah Fathimah mengajarkan pada Ibnu Arabi bahwa dalam menapaki cinta Ilahi harus ada peleburan dalam rasa dan perilaku atas kehadiran ketuhanan. Surat al-Fatihah yang diajarkannya pada Ibnu Arabi diiringi dengan peristiwa yang penuh ketakjuban. Di mana dengan lantunan al-Fatihah yang diucapkan keduanya mampu memulangkan seorang suami yang sudah cukup lama terpisah dengan istrinya.

Apakah murid Syaikhah Cuma satu?. Tentu tidak. Ada banyak anak-anak sebaya Ibnu Arabi yang menimba pengetahuan padanya. Meskipun Syaikhah Fathimah sendiri mengatakan bahwa murid yang menarik perhatiannya adalah Ibnu Arabi. Hal ini karena di antara sekian banyak muridnya yang paling bulat tekadnya menuntut ilmu adalah Ibnu Arabi.

Pendidikan ruhani dan intelektual yang diberikan oleh Syaikhah Fathimah tidak hanya sebatas transfer of knowledge akan tetapi juga meliputi transfer of values. Hal ini bisa terlihat ketika Ibnu Arabi berpamitan pada gurunya tersebut untuk menimba pengetahuan ke tempat lain. Ada rasa cinta Ilahiyat yang terus menyala dalam dirinya mulai dari Cordova sampai akhirnya memutuskan untuk pergi ke Damaskus.

Rabi’ah al-Adawiyah dan Fathimah al-Mutsanna adalah simbol keluwesan dan satu wajah aktualitatif positif perempuan. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa meskipun ada perspektif yang mengatakan bahwa kebebasan perempuan mengalami penyempitan pada masa Abbasiyah, celah untuk menjadi aktual selalu ada.

Fathimah Mernissi mengatakan bahwa ada dua hal yang memunculkan marginalisasi perempuan dalam sejarah. Pertama adalah karena adanya semangat tribalisme Arab yang kembali tumbuh liar pasca wafatnya Rasulullah SAW. Kedua adalah pemahaman ajaran agama yang bertemakan keperempuanan lepas dari aras historisnya.

Meskipun demikian selalu ada celah bagi mereka untuk mengaktualisasikan diri dalam pengetahuan. Manusia seperti Rabi’ah dan Fathimah bukan tipe manusia yang mengumpulkan memori masa silam kemudian melesatkan paragraf-paragraf provokatif untuk protes dan berontak pada pemerintah.

Sebab kebanyakan para sufi berpegang teguh pada firman Allah SWT yang mengatakan untuk taat kepada-Nya, patuh pada rasul-Nya dan ulil amri (pemerintah). Meskipun ada beberapa sufi yang secara terang-terangan melakukan kritik dan protes yang dialamatkan pada perilaku pemerintah yang zhalim dan terkesan maghlub oleh gemerlap dunia.

Gerak demi gerak yang dilakukan kedua sufi perempuan ini seolah menunjukkan bahwa perempuan tidak benar bila selalu pendek langkahnya. Perempuan mampu juga untuk melangkah lebih jauh menggapai segala kebaikan yang mereka citakan.

Bila seorang perempuan Arab terkungkung oleh budaya pergaulan yang direkayasa agak rigid oleh pemegang otoritas saat itu, maka Rabi’ah dan Fathimah tetap membuka majelis pengetahuan di kediamannya. Sehingga proses transmisi pengetahuan tetap berjalan.

Dari keduanya semoga lahir cahaya yang menuntun dan menggugah perempuan-perempuan di Nusantara kini. Untuk senantiasa berkiprah lebih dalam berbagai gelanggang-gelanggang kebaikan. Sebagaimana telah dilakukan pula oleh para wanita pendahulu negeri ini seperti Kartini, Dewi Sartika, Rahmah el-Yunusiah dan lain-lain. Karena kita memahami bahwa perempuan adalah salah satu tonggak utama kemajuan bangsa.

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Cecep Jaenudin
Cecep Jaenudin lahir di Majalengka, 2 Juli 1993. menyelesaikan studi magister pendidikan bahasa arab di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Anggota di GESTURE (Global Institute for Humanity and Culture). Saat ini aktif menimba sekaligus menyemai pengetahuan di Al-Azhar Yogyakarta.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals