Pangeran Sambernyawa dan Nasionalisme

Tiji Tibeh, Mati Siji Mati Kabeh, Mati Satu Mati Semua.


Setiap memasuki bulan Agustus, bangsa Indonesia selalu diingatkan oleh suatu peristiwa penting yang bersejarah dalam perjalanan bangsa ini. Peristiwa tersebut selalu kita kenal dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Sebagai sebuah bangsa yang besar dan beradab, tentulah kita tidak ingin melewati momentum yang sangat bersejarah itu begitu saja tanpa ada makna dan nilai yang bisa dipetik. Berbagai euforia pun menggema di seantereo Nusantara seperti, perlombaan, upacara dan pemasangan bendera di setiap rumah sebagai simbol kemerdekaan sebuah bangsa.

Bahkan setiap tahun pun pemerintah selalu menayangkan slogan-slogan baru terkait hari bersejarah ini. Salah satu slogan dalam peringatan hari Kemerdekaan 17 Agustus 2019, sebagaimana ungkapan Presiden Joko Widodo adalah ‘Menuju Indonesia Unggul’, sebagai bagian dari upaya dalam pembangunan sumber daya manusia. Namun, bicara kemerdekaan dan pembangunan sumber daya manusia tidak akan bisa lepas dari makna yang lebih dalam dari sekadar slogan dan euforia, yakni menguatkan rasa nasionalisme di kalangan pemuda.

Dalam konteks sejarah bangsa Indonesia, bicara nasionalisme tidak lepas dari peran para pejuang bangsa. Jauh sebelum bangsa ini merdeka para pejuang bangsa telah berusaha mati-matian demi terciptanya apa yang kita sebut sekarang sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mengingat, banyak akhir-akhir ini yang mempertentangkan antara nasionalisme dan spirit keagamaan. Oleh karena itu, perlu kiranya kita merenungkan kembali apa yang telah diperjuangkan para pahlawan kita dalam membangun nasionalisme kebangsaan.

Salah satu pahlawan yang telah banyak berjasa dalam menciptakan kedaulatan sebuah bangsa adalah Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa. Raden Mas Said sendiri lahir di Kartasura pada Minggu Legi, 4 Ruwah Jimakir 1650 tahun Jawa atau 8 April 1728 Masehi. Ayahnya bernama Kanjeng Pangeran Arya Mangkunegaran yang dibuang oleh Belanda ke Sri Langka. Sejak ditinggal oleh ayah dan ibunya Raden Mas Said hidup dalam kemelaratan dan tersisih dari kehidupan Istana Kartasura.

Keadaan inilah yang membuat Raden Mas Said hidup dan dekat dengan rakyat-rakyat kecil. Sebuah kehidupan yang akan membawanya memandang kebersamaan dan kesatuan sebagai nilai penting dalam membangun sebuah masyarakat yang merata adil dan makmur. Jauh sebelum bangsa ini merdeka, sepak terjangnya dalam Geger Pacinan (1740-1743) atau pemberontakan warga Tionghoa terhadap kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh pihak kolonial saat itu VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) telah menjadi simbol revolusioner dan kepemimpinan yang telah membawa dirinya diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada tanggal 17 Agustus 1988.

Perjuangannya selama 16 tahun bersama rakyat dan warga Tionghoa telah membentuk karakternya sebagai seorang pemimpin yang demokratis dan nasionalis. Sejak keluar dari Istana Kartasura tanpa bekal dan hanya ditemani oleh beberapa sahabat setianya. Dengan menyadari kelemahan itulah Raden Mas Said selalu menyandarkan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebagaimana wejangan gurunya Ajar Adirasa dan Ajar Adisana tentang perjuangan yang tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik semata, akan tetapi kekuatan batin yang harus dimiliki seorang pejuang untuk menegakkan keadilan.

Namun, bukan saja nilai-nilai yang telah memberikan kekuataannya itu saja yang diandalkan oleh Raden Mas Said. Sebagai seorang pejuang kepekaannya terhadap kebutuhan pengikutnya dan tanggung jawab terhadap rakyatnya inilah yang membuat diri seorang Raden Mas Said mampu menggabungkan antara kultur sosial dan religius. Maka tidak heran jika selama 16 tahun berjuang, jiwa kesatria dan kepemimpinan terus memancar dalam dirinya.

Salah satu sifat kepemimpinan yang kemudian membawa dirinya diangkat menjadi penguasa Puro Mangkunegaran pasca perjanjian Salatiga, pada tanggal 17 Maret 1757 dan bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara Senopati Ing Ayudha Sudibyaningprang. Adalah filosofinya tentang Tiji Tibeh (Mati Siji Mati Kabeh, atau Mukti Siji Mukti Kabeh) yang menunjukkan nilai-nilai nasionalisme tentang semangat kebersamaan antara pemimpin dan kawulanya. Sebagaimana tujuan dari nasionalisme itu sendiri, yakni mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan setiap anak bangsa untuk hidup bersama secara adil dan damai.

Sifat kebersamaannya yang terbangun sejak dirinya berjuang selama 16 tahun ini pun menjadi warna di masa awal pemerintahannya sebagai bentuk rasa setia antara pemimpin dan kawulanya. Sebagaimana dikatakan oleh Raden Mas Said, “Bumi Mangkunegaran ki padha melu handarbeni lan padha dipangan ing anak putu mburi, yen turunku ora mikir nganti dadi rusaking turun Punggawa ora dak pangestoni”. 

Falsafah dasar negara yang mengikat antara pemerintah dan rakyatnya secara lahir batin, ini pun kemudian dikembangkan menjadi ‘Falsafah Tri-Dharma’. Di mana dalam prakteknya selalu dimanifestasikan melalui pendidikan mental, tutur kata, tingkah laku yang tujuannya sebagaimana bunyi ‘Falsafah Tri-Dharma’ itu sendiri, yakni:

  • Rumangsa melu Handarbeni (merasa ikut memiliki) di mana setiap warga dengan penuh kesadaran tidak berpandangan hanya numpang hidup di dalam sebuah negara. Akan tetapi merasa ikut memiliki sehingga setiap perbuatannya mampu menjadi manfaat bagi bangsanya. Sikap inilah yang selaras dengan jiwa nasionalisme di mana setiap warga negara mampu berdaulat dan berdiri di atas kaki sendiri.
  • Wajib melu Hangrungkebi (wajib ikut mempertahankan atau merasa bertanggung jawab) di mana setiap warga negara bangsa berkewajiban, mengisi, membina, memajukan dan mempertahankan terhadap serangan-serangan musuh baik dari luar maupun dalam. Hal yang sangat khas dengan menjaga kedaulatan dan harga diri bangsa.
  • Mulat sarira hangrasa wani (mawas diri atau intropeksi) di mana setiap tindakan dan perbuatannya lahir dan batin dari niat dan gagasan yang tulus dan baik. Berani dalam mengambil keputusan tanpa takut adanya intervensi. Berani mati untuk negaranya dan ikut prihatin terhadap kondisi bangsanya.

Falsafah inilah yang kemudian menjadi bahan perenungan dan momentum untuk terus menjaga dan berjuang dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur, sebagaimana terukir dalam Trisakti Jiwa Proklamasi, yaitu ‘berdaulat dalam bidang politik, mandiri dalam bidang ekonomi, dan berjati diri dalam kebudayaan’. Agar peristiwa bersejarah yang selalu diperingati setiap tahunnya ini tidak hanya diisi oleh kegiatan-kegiatan seremonial yang tanpa makna dan arti mendalam bagi kemajuan bangsa.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals