Belajar Berkawan

Sebaik-baik teman ialah yang menunjukkan pada kebaikan. Teman sesungguhnya ialah yang membuatmu menangis, bukan tertawa.


Sumber foto: mensxp.com

Orang hidup perlu kawan. Tak seorang pun bisa bertahan tanpa kawan. Kawan sama dengan handai, ikhwan, rekan, teman, sejawat, dan sahabat. Ragam kata yang searti dengan kawan menunjukkan intensitas penggunakannya dalam pergaulan hidup manusia. Perkawanan dan persekutuan berlangsung sepanjang kehidupan.

Orang bijak berpendapat bahwa pertemanan itu tujuh macam. Pertama, pertemanan yang terjalin karena pernah berkenalan secara kebetulan, misalnya bertemu di kereta api, halte, rumah sakit, kantor pos, ATM, dan bioskup, serta toko buku. Pertemanan ini bisa berlangsung sesaat dan bisa pula berkelanjutan.

Kedua, pertemanan yang terjalin karena faktor sejarah, misalnya teman sekampung, satu almamater, satu organisasi, dan diklat bersama. Pertemanan ini pun bisa berlangsung sesaat dan bisa pula berkelanjutan, bahkan sampai di pelaminan.

Ketiga, pertemanan yang terjalin karena faktor kepentingan tertentu, seperti bisnis, politik, dan perjuangan ideologi. Keempat, pertemanan yang terjalin karena faktor hobby, seperti main futsal, badminton, tenis, berburu, dan memancing, serta menulis. Kelima, pertemanan yang terjalin karena satu profesi, misalnya sama-sama dokter, guru, pegawai, dan satpam.

Keenam, pertemanan yang terjalin karena tipuan; seolah teman tetapi musuh. Di depan seolah baik, tetapi sebenarnya hatinya penuh benci, menunggu, dan mengincar kejatuhan temannya. Berkenaan dengan tipe pertemanan ini Allah swt berfirman dalam Al-Quran,

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan teman kepercayaanmu orang-orang di luar kalanganmu. Mereka tak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka menharapkan kehancuranmu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat Kami, jika kamu mengerti. (QS 3:118).

Beginilah kamu! Kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada semua kitab. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata, “Kami beriman,” dan bila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci kepadamu. Katakanlah kepada mereka, “Matilah kamu karena kemarahanmu itu!” Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (QS 3:119).

Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu tertimpa bencana mereka bergembira. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka tidak akan mendatangkan kemudaratan sedikit pun kepadamu. Sungguh, Allah meliputi segala apa yang mereka kerjakan. (QS 3:120).

Rasulullah saw mengajarkan doa, “Ya Allah, selamatkanlah hamba dari sahabat yang bila melihat kebaikanku ia sembunyikan, tetapi bila melihat keburukanku ia sebarkan.

Ketujuh, sebuah pertemanan lahir batin, tulus, saling mencintai dan menyayangi karena Allah, saling menolong, menasihati dan menutupi aib teman. Bahkan diam-diam di penghujung malam ia doakan sahabatnya. Boleh jadi tidak bertemu, tetapi ia mencintai sahabatnya karena Allah swt.

Ketujuh pertemanan itu di akhirat akan sirna, kecuali persahabatan yang terakhir, yakni persahabatan karena Allah swt. (QS 49:10). “Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali pertemanan karena takwa.” (QS 43:67).

Ibnul Mubarak meriwayatkan, apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, lalu tidak menemukan shabat-sahabat mereka yang dahulu di dunia selalu bersama, mereka bertanya kepada Allah swt, “Ya Rabb, kami tidak melihat sahabat-sahabat yang sewaktu di dunia shalat bersama kami, puasa bersama kami, dan berjuang bersama kami.” Allah swt berfirman, “Pergilah ke neraka lalu keluarkan sahabatmu yang di hatinya ada iman walau sedzarah.”

Ibnul Jauzi berpesan kepada kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis, “Jika kalian tak menemukan aku di surga, maka bertanyalah kepada Allah swt tentang aku, “Ya Tuhan kami, hamba-Mu Fulan, ketika di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau, maka masukkanlah dia bersama kami di surga-Mu.”

Sebaik-baik teman ialah yang menunjukkan pada kebaikan. Teman sesungguhnya ialah yang membuatmu menangis, bukan tertawa. Dalam lintasan sejarah, para Nabi utusan Allah memiliki pengikut yang teruji kesetiaanya menemani dalam suka dan duka.

Wahai orang yang beriman, jadilah penolong agama Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikut setianya, “Siapakah yang akan menjadi penolongku untuk menegakkan agama Allah?” Pengikut-pengikutnya yang setia berkata, “Kamilah penolong agama Allah,” lalu Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh mereka sehingga mereka menang. (QS 61:14).

Ketika orang-orang kafir bersepakat untuk membunuh Nabi Muhammad saw, Allah swt memberitahukan maksud jahat mereka dan memerintahkan Rasulullah saw untuk berhijrah ke Madinah. Nabi saw berhijrah ditemani sahabat Abu Bakar. Mereka pun dikejar kaum kafir Quraisy karena iming-iming hadiah luar biasa. Mereka bersembunyi di gua di bukit Tsur.

Jikalau kamu tidak menolong Muhammad, sesungguhnya Allah telah menolongnya, yaitu ketika orang-orang kafir mengusirnya dari Mekah; sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan kepada Muhammad dan membantu dengan bala tentara malaikat-malaikat yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah, dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (QS 9:40).

Rasulullah saw bersabda, “Hati manusia masing-masing memiliki kesatuannya; yang saling mengenal akan menyatu dan yang berseteru akan berpisah.” (HR Muslim).

Umar bin Khathab berkata, “Tidaklah seorang hamba diberi kenikmatan lebih besar setelah keislaman, selain sahabat yang shalih. Maka apabila kalian mendapati sahabat yang shalih, peganglah ia erat-erat.”

Hasan al-Bashri berkata, “Sahabat-sahabat kami lebih kami cintai daripada keluarga dan anak-anak kami, karena keluarga kami mengingatkan pada dunia, sedangkan sahabat-sahabat kami mengingatkan pada akhirat. Di antara karakter mereka ialah mendahulukan orang lain dalam perkara dunia. Perbanyaklah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat.”

Luqman al-Hakim berpesan, “Wahai anakku, hendaklah engkau usahakan setelah iman kepada Allah swt ialah mencari sahabat yang jujur, karena ia ibarat pohon; bila engkau duduk berteduh di bawahnya, ia meneduhimu, bila engkau mengambil buahnya, ia mengenyangkanmu, dan bila tidak memberimu manfaat, ia tidak merugikanmu.”

Imam Syafi’i berkata, “Apabila kalian memiliki teman yang membantumu dalam ketaatan, maka genggam eratlah tangannya, karena mendapatkan seorang sahabat itu sulit, sedangkan berpisah itu mudah.”

Bunga mawar harum mawangi
Banyak ikhtiar menambah rizki.
Bunga melati tumbuh di taman
Membuka hati menambah teman.

Baca tulisan-tulisan Muhammad Chirzin lainnya: Kumpulan Tulisan Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
9
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Chirzin
Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. adalah guru besar Tafsir Al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Tim Revisi Terjemah al-Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an) Badan Litbang Kementrian Agama RI.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals