Seorang Pelacur yang Hafal Al-Quran

"Subuh menyapa, fajar menyusut, embun di ujung rerumputan meneteskan do'a untukmu".


Perkenalanku dengan Risma bermula dari sebuah warung kopi yang letaknya tidak jauh dari kampusku. Ceritanya saat itu aku sedang duduk sendirian di sudut warung menikmati kopi. Tiba-tiba datang seorang perempuan dengan pakaian seksi mendekat ke arahku.

“Hayyy, boleh saya duduk di sini??”

“Iya silakan”,

“Kenalin, aku Risma”, seraya mengulurkan tangannya.

“Aziz”, jawabku singkat.

Suasana hening dan di luar hujan turun dengan derasnya. Aku dan perempuan bernama Risma itu sibuk dengan gadget masing-masing. Lama tak ada obrolan antara kami berdua dan sampai pada akhirnya pesanan Risma datang. Risma nampak begitu menikmati kopi yang ia pesan, sesat kemudian ia mengeluarkan sebungkus rokok Sampoerna Mild dari tas yang ia bawa.

“Mas, boleh pinjam koreknya?”

“Oh, iya ini silakan”.

Ia hisap dalam-dalam, lalu dikeluarkannya asap dari mulutnya yang mungil itu. Aku hanya diam termangu melihatnya menikmati rokok yang sedang ia hisap.

“Mbaknya masih kuliah yaa?” Tanyaku.

“Iya Mas. Jangan panggil Mbak donk, panggil Risma aja yaa. Hehe”

“Enggak pulang?? Kan semua Universitas sedang libur!!”

“Saya harus kerja Mas, dan kebetulan rumah saya juga jauh”.

“Emang kamu aslinya mana?”

“Manado Mas, tapi saya besar di Jawa. Sejak lulus SD saya sudah tinggal jauh dari orang tua”.

“Ohh begitu”.

Ia kembali sibuk dengan gadgetnya, jari-jarinya menari-nari membalas chat dari seseorang. Aku hening, khusuk memandangi wajahnya yang cantik itu. Entah ini kebetulan atau memang sudah takdir Tuhan, aku diperkenalkan dengan gadis cantik, putih, dan seksi. Sempurna sekali, gumamku lirih.

“Masnya baru pertama kali ngopi di sini yaa??”

“Iyaa, ini juga hanya coba-coba. Biasanya saya kalau ngopi selalu di daerah Seturan”.

“Pantes aja, saya baru lihat. Karena saya hampir setiap malam ngopi di sini”.

“Ohh iyaa, kalau boleh tau, kamu sejak kapan menjadi perokok aktif??”

“Kurang lebih satu tahun Mas, emang kenapa?? Kurang pantas ya perempuan merokok?!”

“Enggak kok, biar pun kamu perokok, kamu tetap terlihat cantik kok”, godaku.

“Ahh Mas bisa aja. Kebanyakan teman-temanku selalu mencibir karena aku merokok. Bahkan ada beberapa yang menjahui aku Mas”.

“Wah, kok bisa sampai seperti itu yaa!! Padahal sah-sah saja kok perempuan merokok”.

“Yaa begitulah Mas, perempuan selalu dipandang salah ketika mereka melakukan suatu hal yang dilakukan oleh kaum lelaki”, jawabnya dengan agak kesal.

“Ya biarkan saja mereka seperti itu, sebaik apa pun kamu, sebenar apa pun tingkahmu, kebencian dari manusia itu pasti ada. Jadi jangan terlalu diambil pusing”. Sahutku dengan mengutip dawuhnya Gus Dur.

“Hahaha, iya juga yaa mas. Orang mereka aja gak pernah ngasih aku makan”.

Obrolan kami berdua mulai nyambung satu sama lain. Sesekali kami saling bertukar canda, Risma terlihat begitu bahagia. Gadis cantik dengan rokok di tangannya ini mulai membuatku tertarik. Aku tak ingin malam ini cepat berlalu, kapan lagi ngobrol asik bersama perempuan secantik Risma, batinku.

“Ngomong-ngomong, Mas sendiri kuliah atau kerja?” Tanya Risma.

“Saya kuliah”.

“Enggak pulang?” Risma mengulang pertanyaanku tadi.

“Sama seperti kamu, rumah saya jauh. Bedanya saya enggak kerja, hanya males aja pulang”.

“Asli mana Mas?”

“Palembang. Saya sama seperti kamu, sejak lulus SD saya sudah tinggal jauh dari orang tua. Saya mondok di salah satu pesantren di Jawa Timur”.

“Loh, berarti Mas santri??”

“Iyaa, emang kenapa??”

Risma terdiam, entah kenapa wajahnya yang cantik itu tiba-tiba kusut. Ia termenung dan tidak lama kemudian, aku melihat ada air mengalir di pipinya yang putih itu. Dalam hati, Aku bertanya-tanya. Kenapa?? Apa ada yang salah?? Ia mulai sesenggukan, menahan tangisnya agar tidak terdengar oleh orang lain.

“Kamu kenapa menangis?” Tanyaku dengan nada yang sangat pelan. Aku dekati dia dan aku pegang pundaknya, mencoba menenangkan.

“Enggak papa-papa kok Mas. Saya hanya merasa banyak dosa dan tidak pantas untuk hidup”.

“Loh, kenapa kamu bilang seperti itu??” Tanyaku mencari tahu.

“Ohh iya. Mas mau nganterin aku enggak??”

“Jawab dulu pertanyaanku??”

“Iya nanti saya jawab, tapi anterin aku dulu”.

“Kemana??”

“Ke Hotel dekat Malioboro”.

“Mau ngapain ke sana??”

“Ayooo berangkat, nanti aku jelasin semuanya”.

Risma berdiri lalu mengusap air matanya. Ia tersenyum menatapku yang masih duduk dengan wajah bertanya-tanya. Siapa sebenarnya perempuan ini?? Kenapa ia memintaku untuk mengantarnya ke hotel? Padahal Aku baru saja mengenalnya beberapa jam yang lalu, perempuan dengan tanda tanya besar, yang tiba-tiba menangis tanpa aku ketahui sebabnya.

Malam semakin larut dan waktu sudah menunjukkan pukul 23.49. Aspal terlihat basah akibat hujan deras yang baru saja mengguyur Kota Yogyakarta. Dalam perjalanan menuju hotel, Risma hanya diam. Tangannya yang putih itu merangkul pinggangku dengan kuat, sesekali aku merasakan tubuhnya menggigil menahan dinginnya malam. Aku menghentikan laju sepeda motor, lalu membuka jaket yang kupakai.

“Pakai ini, biar gak dingin”, Aku menawarkan jaket kepada Risma.

Ia tersenyum dan langsung memakainya, “Terimakasih Mas”.

Kami melanjutkan perjalanan menuju hotel yang jaraknya sudah tidak terlalu jauh. Risma mulai menyandarkan kepalanya di bahuku, tangan halus itu seperti tadi, merangkul kuat pinggangku yang ramping. Aku tak tahu harus berbuat apa! Ia nampak nyaman sekali, tapi terlihat dari raut wajahnya yang kusut itu, sebenarnya Risma menyimpan suatu beban yang berat. Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang bergantung di benakku, dan ingin segera kutanyakan pada Risma. Tapi. . . .

“Stop Mas”, ia memintaku berhenti di sebuah warung angkringan yang tidak jauh dari stasiun Tugu.

“Kenapa berhenti di sini??” Tanyaku.

“Itu hotelnya mas”. Seraya tangannya menunjuk ke arah Barat.

“Ohh iya, aku titip ini Mas”, dengan wajah kaget dan sedikit tak percaya. Risma yang berpakaian seksi itu menyodorkan sebuah al-Quran kecil kepadaku. Apa-apaan perempuan ini.

“Mas Tunggu di sini yaa, nanti kita ketemu lagi setelah aku selesai kerja”.

Aku hanya mengangguk sambil memarkir motor di sebelah warung angkringan. Di bawah sinar lampu jalanan yang sepi itu, Risma terlihat berjalan dengan santai sambil merapikan rambutnya yang panjang tergerai bebas. Dalam hati, “Ohh Tuhan, begitu indah makhluk satu ini”. Aku mengamatinya dari warung sambil menyantap mendoan yang ada di hadapanku. Pelan-pelan akhirnya ia menghilang dari pandangan, hanya senyumnya yang tersisa dalam bayangku.

Jika aku dianggap berdosa karena mencintaimu. Maka aku tidak akan bertobat dari dosaku itu”

“Ini teh hangatnya Mas, silakan”. Lamunanku buyar ketika Bapak pemilik warung angkringan menyodorkan teh yang aku pesan.

“Oh iya Pak, terimakasih”.

Saat sedang menikmati teh, sekelebat pertanyaan timbul dalam benakku!! Sebenarnya Risma kerja apa?? Jam segini??  Sebentar, sebentar … Jangan-jangan!!…. Ahh, tidak mungkin pikirku …

Kenapa aku tadi tidak bertanya kepadanya, soal pekerjaan yang ia lakoni.

Semakin banyak pertanyaan, semakin besar pula rasa penasaranku tentang Risma, Gadis cantik berkulit putih dan mulus itu.

Sudah dua jam berlalu sejak Risma menyuruhku untuk menunggunya di sini. Aku melihat jam di tanganku, sekarang sudah pukul 02.20 dini hari. Pikirku, benar juga kata orang-orang, bahwa menunggu itu adalah hal yang sangat membosankan.

“Pak, saya pesan teh hangat satu lagi yaa”.

“Siap mas, mohon ditunggu sebentar”. Jawab pemilik warung angkringan.

Aku menyulut rokok untuk ke sekian kali, mencoba merasa tenang, meskipun gelisah menyelimuti. Di depanku, bapak itu sibuk dengan gelas dan sendok. Ia nampak begitu mahir mengaduk teh, hingga tak terdengar suara benturan antara gelas dan sendok.

“Silakan mas”. Dengan wajah ramah dan senyum yang damai bapak itu menyuguhkan teh yang kupesan.

Aku menyambut gelas berisi teh hangat itu, lalu menikmatinya. Terdengar suara ayam berkokok menandakan fajar telah tiba, dan malam pun sudah selesai, Risma, gadis cantik yang sedari tadi aku tunggu belum juga terlihat batang hidungnya. Bapak pemilik warung terlihat mulai memberesi barang-barang yang ada di warung. Mungkin sudah waktunya ia harus pulang dan berhimpun dengan keluarga.

“Maaf mas, saya mau pulang”, ujar pemilik warung.

“Ohh iya Pak, teh hangat dua dan mendoannya enam. Jadi berapa Pak??”, tanyaku sambil mengeluarkan dompet.

“Tujuh ribu Mas”.

“Ini Pak uangnya”, sambil menyodorkan uang pas.

Saat aku keluar dari warung, terlihat di kejauhan Risma berjalan dengan santai menuju ke arahku.

Batinku, “akhirnya kau datang juga”.

Tak lama kemudian, “Maaf Mas, lama menunggu”.

“Iya, tak apa”.

Risma nampak letih sekali, senyumnya yang manis, bak rembulan bersinar itu tak terlihat. Aku hanya memandanginya yang berdiri mematung. Tak lama berselang…

“Mas”. Teriaknya, seraya memeluk tubuhku, ia pun menangis dengan keras.

Aku hanya diam dan membiarkannya. Bukan tidak peduli, tapi aku hanya bingung saja. Aku tak tahu harus berbuat apa. Dalam hatiku, “Menangislah sekencang mungkin, lepaskan semua beban yang kausimpan”.

“Mas, apakah Tuhan akan memaafkan dosa-dosaku!!” Risma menatap wajahku dengan tatapan yang tajam.

Aku melepaskan diri dari pelukannya dan mengajaknya untuk duduk di trotoar jalan. Kurangkul dia dengan menyandarkan kepalanya di pundakku.

“Kenapa kamu bilang seperti itu?? Coba ceritakan semuanya, biar aku tahu semua permasalahan yang kau hadapi selama ini”.

Dengan sesenggukan Risma mencoba menarik nafas dalam-dalam. “Aku yang seorang pelacur ini, apa masih punya hak untuk mendapatkan ampunan dosa dari Tuhan!!”.

Jleb… Aku kaget dengan pengakuannya, Pelacur!!! Apa aku tidak salah dengar?? Risma yang baru tadi malam aku kenal ini adalah seorang pelacur!! Batinku tak percaya.

“Kiranya Tuhan tak mau memberikan ampunannya kepadaku, aku tak masalah kok Mas. Yang terpenting aku sudah berusaha untuk tetap hidup dan menghidupi kedua adikku agar tetap bisa sekolah. Jika memang Tuhan Maha Tahu, jelas Dia mengetahui keadaanku yang terpaksa ini”.

Aku hanya diam mendengarkannya. Tak satu kata pun keluar dari mulutku.

“Coba bayangkan Mas, sejak 1 Tahun yang lalu, setelah wafatnya kedua orang tuaku akibat kecelakaan. Aku menjadi tulang punggung keluarga. Aku harus mencukupi kebutuhan sehari-hari, kebutuhan kuliah, dan juga kebutuhan hidup adik-adikku”. Risma menjelaskan kenapa ia harus menjadi pelacur.

“Adik-adikmu umur berapa?? Dan mereka sekarang sekolah di mana?”, tanyaku sambil mengusap air matanya.

“Kedua adikku mondok di daerah Jawa Tengah Mas. Andi adiku yang paling besar berumur 16 tahun dan satu lagi Indah berumur 13 Tahun. Harapanku, kelak kedua adikku bisa hidup lebih baik daripada kakaknya yang seorang pelacur ini”.

“Sudah-sudah, kamu jangan menangis lagi”. Ujarku menenangkan.

Risma kembali menatapku, “tapi ada satu yang membuatku merasa sangat bersalah Mas”.

“Apa itu??”

“Aku ini seorang yang hafal Al-Quran 30 Juz. Dan aku adalah seorang lulusan pondok pesantren”. Ia kembali menangis sejadi-jadinya.

“Allahuakbar”. Batinku berucap, ini untuk ke sekian kalinya Risma membuatku kaget.

“Aku tahu Tuhan melarang pekerjaan yang aku jalani saat ini, tapi keadaan yang mengharuskan aku menjalankannya. Sebenarnya aku tidaklah menginginkan menjadi seperti sekarang ini. Aku sudah tidak tahu lagi Mas, jika Tuhan ingin menghukumku, aku pasrah. Tapi aku tak rela melihat adik-adikku putus sekolah. Aku ingin melihat mereka tumbuh menjadi orang-orang besar yang menguasai ilmu agama”.

“Lalu bagaimana perasaanmu ketika melayani para pemakai jasamu??” Tanyaku dengan penasaran.

“Aku tak pernah menikmati hubungan Seks itu. Aku hanya melayani mereka sampai mereka puas, lalu membayarku dengan harga sesuai perjanjian di awal”. Risma menjelaskan dengan menahan deru tangisnya.

Allahuakbar, Allahuakbar …

Suara azan terdengar nyaring dari masjid-masjid. Subuh telah datang, Risma kembali memelukku dan aku balas memeluknya dengan hati yang sebenarnya ikut menangis mengetahui kehidupan yang ia jalani.

“Ayo kita pulang”. Ajakku kepada Risma.

Sambil mengusap air matanya, Risma tersenyum menatapku, lalu mencium pipiku, “Terimakasih Mas, sudah mau mendengarkan kisahku”.

Kami berdua berdiri dan melangkah bersama menuju ke motor yang terparkir di sebelah warung.

“Tuhan, dengan sifat Welas-Asih-Mu aku memohon. Rahmatilah Risma beserta adik-adiknya”.

“Subuh menyapa,
Fajar menyusut,
Embun di ujung rerumputan meneteskan do’a untukmu”.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
7
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
4
Terkejut

Comments 5

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Cerpen

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals