Radikalisme dan Islam Minoritas

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang khas, masyarakat nusantara yang rindu kedamaian dan kesejukan, rindu Islam yang rahmatan lil ‘alamin, bukan yang radikal.


Sumber gambar: sinarharapan.net

Kejadian demi kejadian teror menghantui masyarakat Indonesia dalam beberapa bulan terakhir ini. Aksi di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok yang dimulai pada Selasa (8/5) hingga Kamis (10/5) menelan korban 5 nyawa polisi dan seorang teroris. Kemudian Minggu (13/5) sebanyak 3 gereja dijadikan sasaran bom oleh teroris di Surabaya, sehingga berdampak pada puluhan orang luka dan juga korban nyawa.

Fenomena radikalisme begitu lekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia dewasa ini. Apalagi dengan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi, ide-ide radikal dengan mudahnya menggurita memenuhi timeline akun media sosial kita. Efeknya banyak masyarakat awam yang secara tidak langsung tercuci otaknya untuk berpikir dan berpaham radikal.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, radikal artinya sampai ke akar-akarnya, paham atau haluan politik yang menginginkan (menuntut) perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara keras. Sedangkan dalam Ensiklopedi Indonesia, radikalisme adalah semua aliran politik yang pengikutnya menghendaki konsekuensi yang ekstrem dalam perwujudan ideologi yang dianut.

Yusuf Qardhawi mengartikan radikalisme agama (at-tatharuf ad-diniy) adalah berdiri di ujung, jauh dari pertengahan. Dapat pula diartikan berlebih dalam sesuatu. Pada mulanya kata ini digunakan untuk hal yang konkret, seperti kelebihan berdiri, duduk, dan berjalan. Kemudian berkembang ke hal yang abstrak seperti berlebihan dalam beragama, berpikir, dan berperilaku.

Dapat dipahami bahwa radikalisme adalah upaya perubahan dengan cara kekerasan, drastis, dan ekstrem. Radikalisme umumnya muncul dari pemahaman agama yang tertutup dan tekstual. Kaum radikal merasa sebagai kelompok yang paling memahami ajaran Tuhan, bahkan merasa menjadi wakil Tuhan di dunia.

Jika menilik kekhasan masyarakat Indonesia yang berbhineka tunggal ika. Sangat jelas diketahui bahwa radikalisme muncul melibatkan sebagian kecil umat Islam (baca: minoritas). Mayoritas umat Islam Indonesia memilih hidup dalam kesantunan, toleransi, dan kebersamaan dengan anggota masyarakat.

Hal tersebut dibuktikan dengan berbagai kenyataan sosial masyarakat Indonesia. Rahimi Sabirin (2004) mengungkapkan sebagai berikut:

Pertama, dalam beragama umat Islam cenderung mengedepankan nilai universal dalam Al-Qur’an dan Hadis. Melalui nilai-nilai universal tersebut, pemikiran dan sikap yang dibangun condong kepada upaya untuk melakukan kerjasama dan saling pengertian dengan kelompok lain. Adapun yang dicari adalah persamaan, bukan perbedaan. Toh, sama-sama manusia dan sama-sama makan nasi.

Kedua, sebagian umat Islam yang lain seperti NU, mengikuti tradisi pemikiran masa lalu atau pemikiran mazhab. Warisan pemikiran ulama terdahulu memberikan semangat toleransi. Karena ulama terdahulu mengajarkan menghargai perbedaan, termasuk perbedaan penafsiran terhadap agama.

Ketiga, umat Islam juga belajar dari orang lain, bahkan dari ajaran agama lain. Radikalisme lahir dari sikap eksklusif dan merasa benar sendiri. Semakin menutup diri, maka semakin radikal sikap dan pemikirannya. Sehingga sikap rendah hati mampu menumbuhkan untuk belajar kepada orang lain tentang berbagai hal, termasuk dari agama lain.

Keempat, umumnya umat Islam Indonesia lebih memilih pendekatan dialog dalam menyelesaikan persoalan. Sikap ini mampu memperbesar energi dan nafas dalam perjuangan hidup kaum muslimin. Dialog juga akan mendorong untuk melakukan silaturahim dengan pihak lain.

Kelima, umat Islam yang baik selalu bercermin dan belajar dari kenyataan hidup. Fakta kehidupan sehari-hari adalah pengalaman yang sangat bermakna. Jika rumah kita kebakaran, tetangga akan berduyun-duyun membantu tanpa bertanya apa agamanya. Dari situ bisa diambil pelajaran untuk senantiasa arif dan bijak dalam beragama.

Islam sesuai dengan syariatnya melindungi keamanan dan keselamatan hidup manusia. Melalui tujuan itu, kedamaian dan keadilan bisa tercapai. Tanpa bisa mewujudkan kedamaian dan keadilan, Islam sesungguhnya telah kehilangan tujuannya. Memahami Islam secara benar dan utuh berarti membuat hidup menjadi lebih damai, produktif, indah, dan mudah, bukan sebaliknya.

Oleh karena itu, semua lini hendaknya satu barisan dan satu tujuan untuk menggalakkan kontra-narasi terhadap ide-ide radikal yang mengalir menganak sungai di akun media sosial kita. Karena sejatinya ide tersebut digerakkan oleh sebagian kecil umat Islam Indonesia. Mengutip pendapat Ali bin Abi Thalib, “Kebaikan yang tidak terorganisir akan kalah oleh kejahatan yang terorganisir dengan baik.”

Sehingga pada akhirnya tujuan akhir yang hendak dicapai adalah mampu meminimalisir penyebaran ide radikal tersebut. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang khas, masyarakat nusantara yang rindu kedamaian dan kesejukan, rindu Islam yang rahmatan lil ‘alamin, bukan Islam yang radikal, keras, dan kaku. Wallahu a’lam.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Abdul Ghofur

Abdul Ghofur, S.Pd.I., M.Pd., Guru pada MAN 1 Pati, Jawa Tengah; penelusur jalan kehidupan, masih proses pencarian makna & hakikat hidup yang sejati.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals