Merawat Bhinneka, Menjaga Bangsa, Memelihara Pusaka

Sekarang, mari bahu membahu, singsingkan lengan baju, merajut kembali Indonesia kita yang sudah menemui jalan buntu untuk bersatu.


nasional.kompas.com

Salah satu hadiah terbesar yang diwariskan oleh leluhur kita adalah membebaskan anak bangsa dari belenggu penjajahan dan penindasan. Mereka, para leluhur kita, berasal dari berbagai latar belakang suku, agama, dan ras yang berbeda. Akan tetapi, mereka meneriakkan kata yang sama, melawan musuh yang sama, berjuang bersama-sama, bahkan mati pun mereka bersama. Cita-cita mereka tergambar sangat jelas dalam semboyan yang senantiasa digaungkannya, “merdeka atau mati”.

Sebagai anak bangsa, sang pewaris tahta, kita sepatutnya, bahkan sewajibnya, menjaga dan merawat peninggalan mereka. Karena itulah bentuk penghargaan dan penghormatan kita kepadanya. Tugas kita adalah merawat, menjaga, serta memelihara, jangan sampai anak bangsa berseteru sesama mereka, saling berbangga dengan suku, ras, dan agama, sehingga mereka lupa bahwa dulu nenek moyang mereka berjuang bersama-sama, mengusir penjajah, dan memerdekakan bangsa.

Baca juga:  Mari Berbicara Rumah Bernama Indonesia

Kemajemukan dan keberagaman yang sudah ada, jangan sampai rusak oleh kepentingan yang bersifat sesaat semata. Kita akan dianggap sebagai pewaris yang durhaka, jika merusak harta pusaka yang telah diperjuangkan dan diwariskan oleh para leluhur kita. Harta pusaka itu bernama kebersamaan dalam kebhinnekaan. Maka, oleh karena itu, mengutip pernyataan Muhammad Quraish Shihab, “Agama, sebelum negara, menuntut agar kerukunan umat dipelihara. Karenanya salah, bahkan dosa, bila kerukunan dikorbankan atas nama agama.” Mengorbankan kebersamaan mengatasnamakan agama saja dilarang, apalagi mengorbankan kebersamaan hanya demi kepentingan yang sifatnya sekedip dan sekejap mata.

Tak ada yang lebih berharga dari menyatu dalam kebersamaan, walaupun diselimuti suku, ras, dan agama yang beragam dan bermacam. Mari kita kesampingkan dulu sejenak pertanyaan dan pernyataan yang seperti, dari suku serta ras apa kita terlahir, dan dari agama serta keyakinan apa kita tumbuh. Mari sekarang sama-sama berfikir tentang kebhinnekaan dalam bangsa ini. Mari sejenak merenung dan berfikir, bagaimana dengan masa depan bangsa ini. Dulu, kita sebagai sang penerima hak waris tahta bangsa ini, tiba saatnya nanti kita pula yang akan mewariskannya kepada pewaris tahta berikutnya. Dulu, warisan itu kita terima dalam kondisi baik, maka kelak hendaknya kita lepaskan pula dalam kondisi yang baik.

Sekarang, bangsa kita dihadapkan kepada persoalan yang begitu kompleks dan luar biasa. Pilpres dan pileg sudah di depan mata. Hal inilah yang biasanya menjadi pemecah belah bangsa, merusak kebhinnekaan, mengotori kebersamaan. Mulai dari kalangan atas dan merembes sampai kalangan bawah. Makanya, kepada para elit yang akan bertarung, contohkanlah cara-cara yang sopan dan santun dalam mencapai maksud serta tujuan. Kepada kalangan awam, mulailah dewasa dan bijak menyikapi perbedaan pandangan. Kalau cara-cara seperti ini kita terapkan, maka kita akan terhindar dari konflik dan perpecahan antar sesama bangsa. Oleh karena itu, jangan sampai hanya berbeda pilihan sampai rusak akal dan hilang moral, sehingga merusak kebersamaan.

Artikel terkait:  Integrasi Agama dan Budaya Sebagai Solusi Pilpres 2019 Berbudaya dan Bermartabat

Ada hal yang lebih berharga dibandingkan kepentingan yang sifatnya itu hanyalah sementara. Kebersamaan dalam kebhinnekaan yang telah diwariskan oleh leluhur kita, jangan sampai merusaknya dengan memecah belah anak bangsa. Bagaimana pun, persatuan adalah segalanya bagi bangsa ini, walau kita berasal dari suku, ras, dan agama yang berbeda. Sekarang, mari bahu membahu, singsingkan lengan baju, merajut kembali Indonesia kita yang sudah menemui jalan buntu untuk bersatu.

Jangan sampai kita menjadi bangsa yang durhaka kepada pendahulunya. Ingat dengan pesang Bung Karno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.” Maka, bagaimana mungkin kita menjadi bangsa yang disegani dan ditakuti, kalau untuk sekedar menghormati pendahulu saja belum bisa. Bagaimana mungkin kita akan menjadi bangsa yang besar dan berdaulat, kalau masih sibuk dengan kepentingan-kepentingan pribadi. Bagaimana mungkin bangsa ini akan maju dan bersatu, jika isu suku, ras, dan agama, masih saja menggebu-gebu.

Oleh karena itu, kedewasaan dalam menyikapi perbedaan sangat diperlukan di era zaman sekarang ini. Jangan hanya karena berbeda pendapat, berbeda pilihan, membuat kita menjadi terpecah dan bermusuhan. Mari rajut kembali kebersamaan, walaupun di tengah perbedaan dan keberagaman. Karena, tugas kita yang terbesar serta pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan sekarang adalah merawat bhinneka, menjaga bangsa, serta memelihara pusaka, demi Indonesia yang berdaulat dan bersahaja.

Artikel lainnya:  Radikalisme dan Islam Minoritas

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Andri Sulfauzon
● ANDRI SULFAUZON, S.Ag. ● Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Suska Riau 2014-2018 ● Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Pascasarjana, UIN Imam Bonjol Padang 2018-Sekarang

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals