Agama dan Simbol Keagamaan Perspektif Al-Qur’an

Agama adalah media yang digunakan untuk berjejaring antara manusia dan Tuhan


Ilustrasi simbol tiga agama yang terkait dengan Abrahamic Religion

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam, namun di dalamnya tidak hanya membicarakan tentang Islam saja. Al Qur’an juga banyak menyinggung keyakinan-keyakinan yang telah diwahyukan sebelumnya. Term yang digunakan untuk membicarakan Agama dalam Al Qur’an yang akan mudah ditemui adalah Agama Ibrahim (hanif) atau oleh para sarjana studi Agama-Agama biasa disebut dengan istilah Abrahamic Religion.

Abrahamic Religion ini merukapan Agama yang ditransmisikan melalui aktor yang biasa disebut dengan Nabi dan rasul berdasarkan wahyu dan pentunjuk dari Allah. Dalam proses pewahyuan, terdapat informasi-informasi yang disampaikan. Informasi-informasi tersebut memuat aturan dan petunjuk yang mana aturan dan pentunjuk yang telah ditetapkan oleh tuhan guna tercapainya kehidupan yang damai, sejahtera baik di dunia maupun di akhirat.[i]

Sebelum lebih jauh membahas tentang Abrahamic Religion. Mari mengupas terlebih dahulu tentang berbagai definisi yang coba di gunakan oleh para ilmuan dalam menjelaskan fenomena Agama. Menurut Durkheim, bahasa yang paling ringan dalam mendefinisikan Agama adalah terjadinya kontak anatra manusia dan supernatural dimana yang supernatural ini merupakan aspek sosok yang terbangun dalam persepsi masyarakat sebagai kekuatan yang maha dasyat diluar diri manusia yang memiliki otoritas untuk mencampuri urursan seisi dunia ini termasuk manusia.[ii]

Menurut Edward Burnett Tylor mendefinisikan Agama sebagai rasa percaya akan adanya dzat priritual dilaur manusia.[iii] Dan menurut Carles Kimball yang merangkum persepsi masyarakat umum tentang agama menguratakan definisi Agama dengan dapak yang terjadi akibat adanya komunikasi antara manusia dengan tuhan.[iv] Sedang secara umum Agama dapat definisikan sebagai wadah yang digunakan untuk berjejaring anatar manusia dengan tuhan.[v]

Berbagai uraian di atas tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara ilmuan satu dengan ilmuan yang lain. Dari hasil ngutip sana-sani dapat diambil kesimpulan bahwa Agama adalah media yang digunakan untuk berjejaring antara manusia dan Tuhan.

Agama khususnya Agama Ibrahim sebagai media dalam berjejaring antara manusia dengan Tuhan tidak serta merta muncul dan menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan manusia. Namun melalui proses-proses yang terjadi dalam sejarah panjang kehidupan manusia itu sendiri. Proses-proses munculnya Agama hingga Agama masuk sebagaian bagian dalam kehidupan manusia tersebut tidak dapat di pisahkan dari peran bangsa semit yang merupakan ras dari membawa risalah ajaran Agama Ibrahim.

Dalam mengkaji asal mula kemunculan bangsa semit, setikdaknya para ilmuan mengemukakan tiga teori. Yaitu teori Mesopotamia, teori Afrika dan teori Jazirah. Dari ketiga teori di atas, teori Jazirah merupan teori yang pling dapat diterima. Hal ini berangkat dari fakta historis bahwasanya ras semit adalah ras yang nomad dengan dibuktikan bahwa ras ini banya ditemukan diberbagai wilayah seperti daratan Afrika sebelah timur dan semenanjung Arabia yang berada di kawasan Asia barat.

Persebaran ini karena keterbatasan tempat tinggal yang dapat didiami oleh bangsa semit. Kondisi geografis Jazirah Arab yang memiliki bentuk serupa dengan pulau menjadikan ruang gerak bangsa semit tidak dapat terlalu menjauh dari bibir pantai yang merupakan kawasan padang pasir. Di samping itu, bangsa semit juga tidak dapat menyebar ke wilayah lain karena jazirah Arab dikelilingi lautan. Dengan ledakan populasi yang terjadi dalam komunitas ras ini, akhirnya ras semit dipaksa oleh kondisi geografis Jazirah Arab untuk berkelana mencari tempat tinggal yang memungkinkan untuk didiami.[vi]

Ras semit biasanya memiliki kecenderungan untuk bergerombol dan kemudia membentuk klan. Sebagai bangsa yang dapat dikatakan terbelakang, namun ras semit memiliki peradaban yang tinggi. Hal ini dibuktika dengan majunya kesustraan bangsa. Kesusastraan memang sangat menyokong pendapat untuk tidak merendahkan ras ini.[vii]

Ras ini lah yang dalam sejarah tercatat sebagai ras yang telah menelurkan keturunan-keturunan terbaiknya untuk pembawa risalah Agama Ibrahim yaitu Nabi Musa dengan ajaran Yahudinya, Nabi Isa dengan ajaran Nasraninya dan Nabi Muhammad dengan ajaran Islamnya.[viii] Agama Ibrahim ini disebut-sebut dalam Al Qur’an sebagai Agama yang lurus (hanif) sebagai nama dijelaskan dalam Surat Al An’am, Ayat 161.

قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus. Dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang musyrik.” [Surat Al-An’am, Ayat 161].

Dalam ajaran Agama Ibrahim ini tidak mengenal konsep politeisme. Sejak awal pengangkatan Nabi, Allah langsung mewahyukan para Nabi untuk menganut agama tauhid. Dan Allah sendiri yang langsung memperkenalkan diri sebagai Tuhan kepada manusia yang dipilihnya sebagai Nabi.[ix] Argumen ini diperkuat dengan firman Allah dalam Al Qur’an Surat Az-Zukhruf, Ayat 28.

وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Dan (Ibrahim) menjadikan (kalimat tauhid) itu kalimat yang kekal pada keturunannya agar mereka kembali (kepada kalimat tauhid itu). [Surat Az-Zukhruf, Ayat 28].

Sebagai bapak dari Agama Tauhid, keyakinan ini diwariskan kepada para Nabi setelahnya. Peran Nabi setelah Ibrahim adalah mendakwahkan ajaran Tauhid, hal ini dikarenakan seiring berjalanya waktu para pemeluk Agama Ibrahim ini banyak yang menyekutukan Allah. Sehingga Allah menurunkan kitab sucinya yang di berinama Al Qur’an sebagai pengingat sekaligus penunjuk untuk memurnikan kemebali ajaran Tauhid.

Alur transmisi Agama Tauhid yang bergerak melalui perantara Aktor yang bernama Nabi dikuatkan dengan diutusnya Nabi Ibrahim untuk membangun situs pemujaan yang nantinya dijadikan sebagai monumen sepak terjang para Nabi dalam mempertahankan Ajaran Agama Tauhid. Situs ini kemudia dijadikan sebagai simbol kesakralan umat penganut Agama Ibrahim, simbol itu bernama Ka’bah. Allah berfirman dalam Qur’an Surat Ali ‘Imran, Ayat 96

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam [Surat Ali ‘Imran, Ayat 96].

Bangunan ini pada mulanya dibangun oleh Nabi Adam hal ini dikemukakan oleh Al Qurtubi dalam menafsirkan Ayat di atas. Hal ini bersusuaian dengan Riwayat Ali yang menyatakan bahwa banguna ini mulanya dibangun oleh para malaikat. Kemudian ketika Nabi Adam diturunkan dibumi, bangunan itu disempurnakannya.[x]

Kemudian situs tersbut juga sempat hilang pada saat banjir besar periode Nabi Nuh yang mudian dibangun kembali pada saat Nabi Ibrahim. pada saat pembanguna tersebut, nabi ibrahim mengutus Ismail putranya untuk mencari batu sebagai tanda bahwa bangunan ini adalah banguna yang istimewa yang kemudia batu itu diberinama Hajar Aswad.[xi]

Sebagai simbol Agama Ibrahim Ka’bah hingga kini masih eksis sebagai pusat peribatan umat muslim dunia. Hingga kini Ka’bah tetap menjadi tempat yang sakral bagi umat islam dibuktinkan dengan menjadikan situs ini sebagai kilab ritual Sholat umat Islam. Kesakralan Ka’bah sebagai situs peninggalan Agama Ibrahim telah menggugah hati segenap peziarah tempat ini. Hal ini terlihat dari antusiasnya para jama’ahumrah atau haji yang bersemangat melakukan ritual tawaf sembari bercucuran air mata.[xii]

Kemegahan serta kesakralan Agama dan simbol keagamaan Agama Ibrahim tidak hanya terabadikan dalam kitab terakhir Agama ini yaitu Al-Qur’an. Di sela-sela banyaknya topik yang dibahas didalamnya, Al Qur’an tetap menyempatkan untuk membicarakan berbagai sosok trasmiter yang berjasa mempertahankan Agama Ibrahim sampai sekarang.

Selain dalam Al Qur’an, kemegahan serta kesakralan Agama Ibrahim masih dapat di lihat dari bangunan Ka’bah yang merupakan salah satu situs dan simbol Agama Ibrahim yang sampai saat ini masih berdiri kokoh. Dan menjadi simbol kesakralan bagi penganut Agama Ibrahim yang terakhir yaitu Islam.

Daftar Bacaan

Ali, K. 1997. Sejarah Islam: Trarikh Pramodern. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Amaliyah. 2017 . “Satu Tuhan Tiga Agama (Yahudi, Nasrani Islam di Yerussalem)” dalam Jurnal Agama dan Lintas Budaya. Vol. 1, No. 2, Maret 2017.

Durkheim, Emile. 2011. The Elementary Forms of The Religious life Sejarah Bentuk-Bentuk Agama yang Paling Dasar. terj. Inyak Ridwan Muzir dan M. Syukri. Yogyakarta: IRCiSoD.

Djam’annuri. 2015. Studi Agama-Agama Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Suka Press.

Fikri, Syahruddin El. 2010. Sistus-Situs dalam Al Qur’an dari Banjir Nuh Hingga Bukit Tursina. Jakarta: Republika.

Fikri, Syahruddin El. 2010. Sistus-Situs dalam Al Qur’an dari Peperangan Daud Melawan Jalut Hingga Gua Ashabul Kahfi. Jakarta: Republika.

Hitti, Philip K. 2010. History of The Arab. terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi. Jakarta: Serambi.

Kimball, Carles. 2013. Kala Agama Jadi Bencana. terj. Nurhadi dan Izzuddin Washil. Bandung: Mizan.

Makin, Al. 2017. “Tuhan di Antara Desakan dan Kerumunan: Komodifikasi Spiritualitas Makkah di Era Kapitalisasi”. Dalam Jurnal Epistema. Vol. 12, No. 1, Juni 2017.

Robertson, Ronal, ed. 1993. Agama: dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologi. terj. Achmad Fedyani Saifuddin. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Supriadi, Dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia.
____________________________

[i]Djam’annuri. Studi Agama-Agama Sebuah Pengantar (Yogyakarta: Suka Press, 2015), hlm. 5.

[ii] Emile Durkheim. The Elementary Forms of The Religious life Sejarah Bentuk-Bentuk Agama yang Paling Dasar. terj. Inyak Ridwan Muzir dan M. Syukri (Yogyakarta: IRCiSoD, 2011), hlm. 49.

[iii] Djam’annuri. Studi Agama-Agama Sebuah Pengantar (Yogyakarta: Suka Press, 2015), hlm. 3.

[iv] Carles Kimball. Kala Agama Jadi Bencana. terj. Nurhadi dan Izzuddin Washil (Bandung: Mizan, 2013), hlm. 24.

[v] Ronal Robertson, ed. Agama: dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologi. terj. Achmad Fedyani Saifuddin (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993), hlm. v.

[vi] Philip K. Hitti. History of The Arab. terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi (Jakarta: Serambi, 2010), hlm. 12-13.

[vii] Dedi Supriadi. Sejarah Peradaban Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2008), hlm. 54-55.

[viii] K. Ali. Sejarah Islam: Trarikh Pramodern (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), hlm. 1.

[ix] Amaliyah. “Satu Tuhan Tiga Agama (Yahudi, Nasrani Islam di Yerussalem)” dalam Jurnal Agama dan Lintas Budaya. Vol. 1, No. 2, Maret 2017. hlm. 185.

[x] Syahruddin El Fikri. Sistus-Situs dalam Al Qur’an dari Banjir Nuh Hingga Bukit Tursina (Jakarta: Republika, 2010), hlm. 84.

[xi] Syahruddin El Fikri. Sistus-Situs dalam Al Qur’an dari Peperangan Daud Melawan Jalut Hingga Gua Ashabul Kahfi (Jakarta: Republika, 2010), hlm. 112.

[xii] Al Makin. “Tuhan di Antara Desakan dan Kerumunan: Komodifikasi Spiritualitas Makkah di Era Kapitalisasi”. Dalam Jurnal Epistema. Vol. 12, No. 1, Juni 2017. hlm. 14-15.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
6
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Ahmad Mufarrih El Mubarok
Ahmad Mufarrih El Mubarok merupakan Kordinator Departemen Jaringan Sekolah dan Pondok Pesantren Pimpinan Anak Cabang IPNU Panceng Gresik.

Comments 2

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals