Orang Gila yang Waras

"Apakah kamu senang melihatku diikat dan dipasung. Sedangkan kamu tenang dengan kemuliaan dan harta??


“Kebetulan sekali kamu ada di sini”, tukas Pije yang bertemu denganku secara tidak sengaja di sebuah mini market.

“Ada apa emangnya Je”, tanyaku singkat.

“Ikut aku jalan-jalan yuuukkkkk!” Ajaknya, sembari memelas agar aku mau ikut dengannya.

“Hmmm, okelah”.

Pije adalah anak Pak Mahfud juragan Mabel yang sangat terkenal karena harta kekayaannya. Bahkan, orang-orang bilang kalau harta Pak Mahfud itu tidak bakal habis sampai tujuh turunan.

Pije, sejak aku mengenalnya, ia tidak pernah terlihat bokek. Dompetnya selalu terlihat tebal karena uang di dalamnya berlapis-lapis.

“Tujuan kita kemana ini Je….??”

“Sudah, kamu ikut saja. Saya jamin kamu pasti suka”. Jawabnya santai sambil mengendalikan setir mobil.

Lama aku tidak jalan-jalan, kebetulan sekali Pije mengajakku. Aku sangat senang sekali, karena untuk jalan-jalan saja aku harus nabung uang gajianku selama 6 bulan. Mumpung gratissss, ujarku dalam hati.

Satu jam sudah berlalu sejak Aku dan Pije berangkat menggunakan mobil Fortuner miliknya. Kabarnya mobil ini, hadiah ulang tahunnya yang ke 23 dari Pak Mahfud. Sejak kecil, Pije selalu bisa menikmati apa pun yang ia inginkan. Beda denganku yang hanya anak dari seorang petani.

Mobil berhenti di sebuah lampu merah. Pije menarik rem tangan dan menggerakkan tubuhnya suapaya tidak kaku. Tiba-tiba, ada seorang laki-laki tua berpakaian compang-camping membawa mangkuk berwarna hijau mengetuk kaca mobil.

Pije tak menghiraukan orang tua tersebut. Ia terlihat cuek dan malah menyetel musik. Tapi orang tua itu masih saja mengetuk-ngetuk kaca mobil, dengan berharap kami yang ada di dalam mobil mau memberikan sedikit uang kepadanya.

“Je, kasih saja recehan”, kataku kasihan.

Pije terlihat cuek dan tidak menanggapi apa yang aku katakan. Ia malah mengeraskan suara musik yang aku saja tidak suka dengan suara vokalisnya. Tapi aku heran, kenapa bapak itu tidak pergi saja, karena tahu Pije tidak membuka kaca mobil.

Sebentar lagi lampu hijau, pertanda kendaraan harus segera berjalan. Tiba-tiba Pije membuka kaca, daaaaannn ……
“Cuuiiiihhhh”, ia meludah tepat di dalam mangkuk hijau yang penuh dengan uang recehan.

Sambil menginjak gas, Pije tertawa terbahak-bahak. “Makanya kerjaaaa, jangan bisanya cuma minta-minta di jalan…..”, tukasnya.

Aku diam terbelalak melihatnya. Tak habis pikir, aku mengira Pije akan memberikan uang kepada Pak Tua itu.

“Kenapa kamu lakukan itu??” Tanyaku dengan nada marah.

“Sudah kamu diam saja”, jawabnya dengan santai

Setelah kejadian itu, sepanjang perjalanan aku hanya diam. Membayangkan bagaimana perasaan Pak Tua yang mangkuk berisi uang recehnya diludahi oleh Pije.

Tak terasa akhirnya kami berdua sampai di sebuah tempat wisata air terjun di daerah Bogor. Aku yang kesal karena ulahnya tadi tetap diam membisu.

“Sebelum masuk ke lokasi air terjun, kita makan dulu yaaa”. Pije berkata kepada sambil memarkir mobil.

Aku hanya menganggukkan kepala tanda mengiyakan.

Dalam perjalanan menuju sebuah tempat makan di dekat pintu masuk wisata, Aku melihat Pak Tua yang tadi di lampu merah lewat dengan santainya di depan kami.

“Yaa Allah, kok ada di sini orang tua ini…??” Batinku.

“Jeeeee, lihat ituuuuuuu”, aku sedikit berteriak dengan menunjuk ke arah Pak Tua yang sudah hampir tak terlihat karena terhalang ramainya pengunjung.

“Apaan sih….”

“Ituuuuuuu, Pak Tua yang tadi ada di lampu merah”, aku menjelaskan kepada Pije.

“Ahhh masak. Gak mungkinlah dia ada di sini”. Dengan tetap berjalan Pije tak percaya dengan apa yang aku lihat barusan.

“Apa iya aku salah lihat. Tapi dari pakaiannya yang compang-camping itu, jelas sekali bahwa yang barusan aku lihat adalah Pak Tua”…..

Akhirnya aku berlari menyusul Pije yang sudah duduk di sebuah warung makan. Tapi pikiranku tetap saja tertuju kepada sosok Pak Tua yang misterius itu.

“Kamu pesan makan apa??”, tanya Pije.

“Nasi goreng spesial aja deh, sama minumnya es jeruk”, sahutku.

“Mbak, nasi goreng spesialnya satu, nasi ayamnya satu. Sama minumnya es jeruk dua”, kata Pije kepada penjual.

5 menit kami menunggu, akhirnya pesanan datang. “Silahkan Mas”, dengan nada halus seorang laki-laki remaja mempersilakan kami makan.

Saat kami sedang asyik makan, terdengar suara anak kecil meminta-minta dari arah belakang, “Massss, sedekahnya massss, saya belum makan”.

Dengan menoleh, Pije memanggil anak kecil itu, “Sini kamu”…..

Aku melihat gelagat Pije yang tidak wajar. Apa kira-kira yang akan dia lakukan!!

“Kamu belum makan??”, tanya Pije kepada anak kecil itu.

“Iyaaa masss, dari pagi saya belum makan”, jawabnya.

“Mana tanganmu??” Tanya Pije kembali.

Dengan polosnya, anak kecil itu menadahkan kedua tangannya.

Daaaaannn lagi-lagi terjadi, bukannya memberi uang. Pije malah menuangkan sesendok nasih ke tangan anak kecil itu.

“Makaaaannnn tuh nasi”, bentaknya

Dengan raut muka lesu anak tersebut berjalan keluar.

“Gilaaaa yaaa kamu”, bentakku dengan marah kepada Pije.

Aku yang tak tega melihatnya coba memanggil dan mengejarnya. Aku ingin memberikan uangku kepadanya. Tapi, saat aku keluar warung, anak tersebut sudah tidak ada. Kemana kira-kira perginya anak itu? Kok cepat sekali ia menghilang. Hatiku bertanya-tanya.

Aku kembali ke dalam warung dan memarahi Pije. “Kamu itu jangan seenaknya saja. Kamu enak bisa beli makan apa saja dengan uang yang kamu punya. Lihat dia yang tak bisa makan, dengan harus meminta-minta. Kalau memang tidak mau memberi, ya setidaknya bilang baik-baik. Jangan malah bertindak kurang ajar”.

Dia hanya diam sambil tetap makan dengan lahapnya. Aku yang melihat tingkahnya menjadi semakin marah dan sudah enggan melanjutkan makanku.

“Sudah aahhh, aku pulang saja”. Dengan berjalan keluar aku meninggalkan Pije.

“Sruuulllll, Nasruuuullll”, teriak Pije yang berlari sambil memanggilku.

“Apa?? Aku udah males. Mau pulang aja.”

“Yaa jangan gitulaaaahhh. Nanggung ini udah sampai di sini. Masak gak masuk ke lokasi air terjun??”

“Aku udah males Jeee”, jawabku kesal.

“Yaaa udah ayok kita pulang. Tapiiii….”

Belum melanjutkan ucapannya, aku sudah memotong. “Tapi apa????”

“Tapi mampir dulu ke Rumah Sakit Jiwa. Aku mau menjenguk abangku”.

“Yaa udah, ayo jalan sekarang”, paksaku.

Abangnya Pije terkena gangguan jiwa sejak 2 tahun yang lalu. Menurut cerita yang aku dengar, ia terkena gangguan jiwa karena ditinggal nikah oleh pacarnya.

Kami sepakat untuk tidak masuk ke lokasi air terjun, karena aku sudah benar-benar malas untuk melanjutkan berwisata. Yaaa, gara-gara ulah Pije yang kurang ajar.

Tiga jam pelajaran, akhirnya kamu sampai di Rumah Sakit Jiwa. Tempat abangnya Pije dirawat. Kami masuk lalu bertanya kepada petugas rumah sakit.

“Saya mau menjenguk abang saya yang bernama Umam”.

“Ohhh iyaaa, mari saya antar mas”, jawab petugas tersebut.

Di dalam kamar yang berukuran 3×3 itu terlihat sosok lelaki yang duduk diam di pojokan. Yaa, tidak salah lagi, itu Umam abangnya Pije, pikirku.

Pije mendekatinya dan bertanya kabar. Tapi abangnya hanya diam dengan tatapan mata yang tajam. Berulang kali Pije mengajaknya berbicara, Umam hanya diam seribu bahasa.

Setelah dirasa cukup, Pije keluar dari kamar tersebut dan menemui petugas RSJ. Sepertinya ia ingin memberikan uang makan untuk abangnya. Setelah selesai, kami berjalan menuju pintu keluar.

Pije terlihat celingak-celinguk melihat sebuah ruangan. Ia masuk dan mendapati seorang laki-laki paruh baya sedang dipasung dan diikat. Aku hanya melihatnya dari arah pintu yang terbuka.

Pije meledek orang gila tersebut dengan tertawa terbahak-bahak. Ia terlihat mengejek dengan memainkan telapak kaki orang gila tersebut. Aku geram sekali melihat ulahnya yang seperti itu. Aku hanya diam dengan kekesalan yang sudah tidak mampu kuutarakan. Percuma menasehati orang seperti Pije, orang dianya juga gila kok.

Tanpa disangka-sangka, orang gila tersebut berteriak. “Diiaaaaaammmmm kamu.”

Pije yang tadinya tertawa terbahak-bahak akhirnya diam. Orang gila tersebut melotot dan berkata lagi, “Apakah kamu senang melihatku diikat dan dipasung. Sedangkan kamu tenang dengan kemuliaan dan harta?? Engkau takkan selamanya bersama harta yang kau banggakan. Aku pun takkan selamanya dalam ikatan dan pasungan”.

Pije terdiam dan berlalu keluar ruangan. Ia bergegas menuju ke mobil yang terparkir di bawah pohon beringin.

Dalam perjalanan pulang, wajahnya terlihat pucat dan ketakutan. Aku hanya bisa diam dan tak berani bertanya apa-apa…..

Dua minggu berlalu sejak kejadian di RSJ. Aku berniat pergi menemui Pije, karena ingin meminjam uang.

“Assalamualaikum???”

“Waalaikumsalam”, jawab seorang laki-laki dari dalam.

Lama aku menunggu, akhirnya Pak Mahfud keluar dan membuka pintu.

“Waahhhh Nasrul, silahkan masuk”, ucap Pak Mahfud.

“Nggak usah Pak, saya hanya ingin bertemu dengan Pije. Ada urusan sebentar”.

Pak Mahfud hanya diam sejenak dengan raut muka yang datar.

“Ayo ikut aku ke dalam”, ajak Pak Mahfud.

Kami menuju sebuah kamar dengan cat berwarna hijau. Pak Mahfud mempersilakan aku masuk ke kamar tersebut.

“Allahu akbaaaaaarrrrr”, aku terbelalak kaget melihat kondisi Pije yang terbaring di atas kasur, dengan mata melotot dan tertawa sendirian.

Pak Mahfud diam-diam meneteskan air mata. Kedua anaknya yang sangat ia sayangi, terkena gangguan jiwa.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
2
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
6
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut

Comments 2

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Cerpen

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals