Semangat Perjuangan dalam Sholawat Nahdhliyyah

di dalam sholawat tersebut disisipkan doa-doa agar siapapun yang membacanya dan mendengarnya selalu menjadikan syiar-syiar Islam sebagai tujuan utama dalam berjuang


Dunia medsos kembali terhibur dengan suara merdu Veve Zulfikar, yang baru saja merilis album sholawat terbarunya yakni “Sholawat Nahdhiyyah”, berkat cover teranyarnya ini, Veve banyak menuai respon positif dari para penonton dan fansnya, termasuk di kalangan Nahdhiyyin sendiri, karena sebelumnya sholawat ini hampir tidak terdengar padahal sholawat ini memiliki makna filosofi yang sangat mendalam, karena isi dari sholawat ini menggambarkan nilai-nilai perjuangan menjadi seorang Nahdhiyyin yang dituntut untuk menegakkan syiar-syiar Islam.

Perlu diketahui bahwa sholawat ini merupakan karangan dari KH Hasan Abdul Wafi, beliau lahir pada tahun 1923 di Pulau Madura, tepatnya di Desa Sumberanyar, Kecamatan Tlanakan Pamekasan. Beliau merupakan bungsu dari tujuh bersaudara, dari pasangan Kyai Miftahul Arifin dan Nyai Latifah. Mengenai riwayat hidupnya sebagaimana info yang dikutip dari www.nuruljadid.net beliau sejak kecil telah mendapatkan pendidikan agama langsung dari Ayahnya, KH Miftahul Arifin, yang merupakan seorang pengasuh Pondok Pesantren An-Nuriyah Pamekasan.

Pada usia kurang lebih 6 tahun beliau kehilangan Ibunda tercintanya untuk selama-lamanya. Ibarat “sudah Jatuh, ditimpa tangga” selang waktu Lima tahun ayahandanya wafat. Tetapi hal itu tidak menyurutkan beliau dalam menuntut Ilmu. Beliau tetap melanjutkan proses belajarnya mulai dari satu daerah ke daerah yang lain. Kyai Abdul Wafi atau Lora Abdul Wafi muda merupakan seorang santri yang terkenal dengan kecerdasan dan kedhobid-annya, salah satu buktinya bahwa di usia beliau yang masih relatif muda, sudah mampu menghafal beberapa bait kitab Alfiyah.

Kyai Abdul Wafi juga pernah mengabdi di Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Palengan, Pamekasan yang diasuh oleh KH. Abdul Majid. Di pesantren ini beliau langsung di percaya oleh Kyai Abdul Majid untuk mengajar dan mendidik para santri. Berkat ketelatenya dalam mengajar, beliau disegani oleh para santri, terutama dalam hal muthola’ah.[1]

Tidak merasa puas dengan ilmunya, beliau ditemani oleh Kakaknya yakni KH. Sufyan Miftahul Arifin melanjutkan nyantrinya kepada KH Sahlan di sebuah Pesantren yang terletak di Krian Sidoarjo, setelah itu belajar kepada KH. Musta’in Ramli yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren di Jombang dan kepada KH Munawwir yang merupakan pengasuh Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Hingga akhirnya beliau memutuskan untuk mengabdi untuk mengamalkan ilmu-ilmu yang beliau dapatkan di pelbagai pesantren. Akhirnya pondok pesantren Nurul Jadid lah yang menjadi pilihan terbaiknya. Pesantren yang terletak di kecamatan Paiton Probolinggo, pada saat itu masih diasuh oleh Kyai Zaini yang merupakan pengasuh pertama Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Di pesantren tersebut, Kyai Hasan beserta kakaknya kala itu nyantri sekaligus membantu kyai Zaini mengajar dan mendidik para santri. Keputusannya untuk menetap di pesantren Nurul Jadid semakin mantap, ditambah lagi di usianya yang ke-35 beliau dijodohkan dengan Nyai Hj. Aisyah Zaini, puteri Kyai Zaini.

Sholawat Nahdhliyyah dan Isyarat Perjuangan

Selain mengamalkan ilmunya di Ponpes Nurul Jadid,dan menjadi pengawas Pondok Pesantren Nurul Jadid. Kyai Hasan juga turut aktif berjuang di Organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Di organisasi yang didirikan oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari ini, beliau berangkan bersama saudara iparnya, KH. Abd. Wahid Zaini[2] hingga dipercaya untuk menajbat sebagai ketua Syuriah Pengurus Cabang NU Kraksaan dalam dua periode.

Sebagai ketua Syuriah NU, Kyai Hasan terkenal gigih memajukan wawasan keagamaan, baik terhadap pengurus NU ataupun masyarakat. Hal ini terlihat ketika beliau berpendapat, jika ada masalah yang belum terpecahkan supaya diajukan ke cabang, dan akan ditindaklanjuti dengan diskusi. Kyai Hasan sendiri selalu berusaha untuk hadis, sementara hasil diskusi akan dibukukan. Hal ini dilakukan setiap satu bulan sekali.[3]

Karena kecintaan beliau terhadap NU, tatkala kakak kandungnya, KH. Ahmad Sufyan Miftahul Arifin, menyuruh beliau untuk menjadi Mursyid[4] beliau mengatakan “Biarkanlah saya NU saja, wirid-wiridnya, wirid NU saja”. Begitulah kecintaan beliau terhadap NU, sampai-sampai karena rasa cintanya yang begitu besar kepada NU beliau mengarang sebuah sholawat, yang dikenal dengan Sholawat Nahdhiyyah.

Berikut lirik dan terjemahnya:

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ

صَلَاةً تُرَغِّبُ وَتُنَشِّطُ

2x وَتُحَمِّسُ بِهَا الْجِهَادْ لِإِحْيَاءْ، وَإِعْلَاءِ دِيْنِ الْإِسْلَامْ

2x وَإِظْهَارِ شَعَائِرِهْ عَلَى طَرِيْقَةِ، جَمْعِيَّةِ نَهْضَةِ الْعُلَمَاءْ

2x وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

اَللّٰهْ اَللّٰهْ اَللّٰهُ اَللّٰهْ

ثَبِّتْ وَانْصُرْ أَهْلَ جَمْعِيَّةْ

2x جَمْعِيَّةْ نَهْضَةِ الْعُلَمَاءْ، لِإِعْلَاءِ كَلِمَةِ اللّٰهْ

Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada Sayyidina Muhammad, keluarga dan para sahabatnya, yang dengan berkah bacaan shalawat ini,

Jadikanlah kami senang, rajin, dan semangat dalam berjuang menghidupkan dan meninggikan agama Islam

Serta menampakkan syi’ar-syi’arnya menurut cara Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Ya Allah,

Teguhkanlah pendirian dan berikanlah kemenangan

bagi warga Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (Nahdliyyin) untuk meninggikan Kalimatillah (agama Islam dan seluruh ajarannya).

Kita bisa merasakan betapa dalamnya makna dari sholawat tersebut, di dalam sholawat tersebut disisipkan doa-doa agar siapapun yang membacanya dan mendengarnya selalu menjadikan syiar-syiar Islam sebagai tujuan utama dalam berjuang terlebih bagi seorang Nahdhiyyin, harus mau berjuang, menghidupkan dan meninggikan Islam hingga yaumil Qiyamah, sebagaimana yang dicontohkan oleh Kyai Haji Hasan Abdul Wafi semasa hidupnya.

Jika dikontekstualisasikan, banyak sekali cara kita untuk memperjuangkan Islam di tengah masyarakat, khususnya bagi seorang santri, salah satunya dengan amar ma’ruf dan nahi munkar kemudian dengan menyebarkan ilmu yang kita miliki, mengabdi di berbagai lembaga, madrasah maupun pesantren. Hal ini sesuai dengan dawuh yang disampaikan oleh KH Abdul Wahid Zaini (Alm)“santri tidak harus menjadi Kyai, tetapi menjadi pejuang Islam (maknanya luas)”.[5]

Semoga kita bisa menjalankan amanah ulama-ulama terdahulu dalam menegakkan ajaran-ajaran Agama Islam!

[1]Mengulang-ulang kembali pelajaran yang telah dipelajari sebelumnya

[2] Beliau merupakan pengasuh ketiga PP Nurul Jadid

[3]Dikutip dari www.nuruljadid.net

[4] Pimpinan thoriqah

[5]Dikutip oleh Kyai Muwafiq Amir pada perayaan Haul dan Harlah Ponpes Nurul Jadid yang ke-70

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
3
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Andy Rosyidin

Andy Rosyidin adalah alumnus MIN 5 Buleleng, MTsN Patas, MA Nurul Jadid Paiton Probolinggo Program Keagamaan angkatan 21(el-fuady) dan saat ini tengah menempuh S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Penulis asal Penyabangan, Gerokgak, Buleleng, Bali ini adalah mahasiswa yang sering bergelut dengan dunia kepenulisan terutama Essay dan Paper. Saat ini menetap di Ponpes LSQ Ar-Rahmah Bantul Yogyakarta. Bisa dihubungi melalui Email: [email protected] dan No Hp: 081238128430

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals