Mengenal Sejarah Nabi Muhammad saw dalam Pantun Betawi

Ungkapan kecintaan kepada Rasulullah saw. juga dilakukan dengan beragam kesenian.


hangtuahnews

Sejarah atas kehidupan Nabi Muhammad saw. tidak henti-hetinya orang mengkajinya. Hal ini sebagaimana kebanyakan penulis mengagungkannya dengan serangkaian ungkapan kata-kata indah atas pribadi panutan umat Islam sedunia ini. Untaian pengagungan ini pada awalnya digunakan dalam rangka menghormati sosok beliau yang agung ini. Bahkan Allah swt. dan para malaikat bersalawat kepada beliau.

Hal inilah kemudian salawat ini menjadi bagian penting dalam ibadah salat. Khususnya dalam hal ini dikenal dengan shalawat Ibrahimiyah sebuah salawat yang ditujukan kepada Muhammad saw. dan Nabi Ibrahim a.s. Dengan demikian, pengagungan atas sosok Muhammad sebagai Nabi terkahir utusan Allah swt. dilakukan oleh seluruh umat Islam se-Dunia minimal lima kali dalam seharinya.

Ungkapan kecintaan kepada Rasulullah saw. juga dilakukan dengan beragam kesenian. Hal ini setidaknya bisa melalui qasidah atau yang lainnya berupa pembacaan seperti dalam maulid al-diba’ karya al-Barjanzi. Ragam musikalisasi atas hal ini juga berkembang dari tahun ke tahun ada yang klasik dengan rebana dan bahkan ada yang dengan musik kontemporer dengan lirik lagu yang beragam. Dengan demikian, ragam penghormatan atas baginda Rasuluklah saw. pun berkembang.

Perkembangan ini juga dapat disesuaikan dengan kondisi masyarakat dan kecenderungannya. Salah satu yang terpenting adalah dalam penghargaan beda-beda. Termasuk dalam hal ini ada Joged Shalawat Mataram (JSM) yang memadukan kreasi seni dan salawat serta tarian dengan bagus dan penuh filosofi. Dengan model itulah, maka salat dan pengagungan atas Muhammad saw. dapat beragam sesuai masing-masing individu serta kecenderungannya masing-masing.

Hal ini pula terdapat serial pantun Betawi tentang sejarah Nabi saw. Karya tersebut adalah karya putra asli Betawi yang memiliki keahlian atas kesejarahan Nabi saw. Dalam buku tersebut dijelaskan serial kehidupan kenabian Muhammad saw. dari kelahiran sampai beliau meninggal. Kajian ini juga dilengkapi atas wasiat dari Nabi saw. dan khalifah Rasulullah saw. Dengan demikian, kisah sejarah kenabian tersebut sudah lengkap.

Literatur adalah bagian terpenting dalam penulisan sejarah. Hal ini disadari oleh penulis pantun dengan menjelaskan di awal dengan tema metode belajar sejarah. Dalam bagian ini dijelaskan  tentang ragam kitab yang menjadi rujukan terutama kitab-kitab sejarah yang sering dipakai oleh pakar ahli ketika membicarakan Muhammad saw. Dengan demikian, data atas kehidupan dalam buku ini adalah valid dan dapat dipertanggungjawabkan dengan baik oleh penulisnya.

Pola kajian dalam buku kedua seri pantun Betawi ini berbeda dengan buku sebelumnya. Hal ini setidaknya adalah dari penyebutan sumber rujukan. Buku ini merujuk kitab-kitab sejarah klasik seperti Sirah Ibn Hisyam, Nur al-Yakin, Sirah al-Halabi, al-Bidayah wa al-Nihayah, Fiqh al-Sirah, dan sebagainya. Buku-buku sejarah tersebut di dalam buku ini terkadang disebut pengarangnya dan terkadang tidak. Dengan demikian, penulis menganggap beberapa kitab yang disebut adalah bagian dari yang sudah dikenal di kalangan masyarakat.

Selain fenomena di atas, juga ditemukan bahwa literatur sejarah yang dimaksud tidak disebutkan di mana kajian sejarah Nabi saw. diambil. Terutama atas kitab-kitab yang lebih dari satu jilid. Hal ini jika diteliti lebih lanjut diperlukan pelacakan yang lebih mendalam. Dengan demikian, kajian serius dalam hal ini diperlukan untuk menjadikan cross chek.

Tema-tema sirah Nabawiyah dalam buku ini dimulai dari masa sebelum kelahiran, masa kelahiran sampai wafatnya Muhammad saw. dan persolan dari khalifah beliau. Dengan pola demikian, kajian buku ini merupakan kajian yang lengkap dari serial kehidupan Muhammad saw.

Sirah Nabawiyah dalam buku ini juga menggambarkan isteri dan keluarga dari Rasulullah saw. Hal ini setidaknya terlihat dalak bagian ke 9 dan 10. Isteri Nabi saw. berikut perannya masing-masing disebutkan dengan pantun Betawi.

Dalam persoalan ini juga disebutkan jumlah isteri Nabi Muhammad saw. sebanyak sebelas orang. Dari itu semuanya adalah janda kecuali seorang yang masih gadis yakni Aishah r.a. Lebih lanjut pernikahan ini bukan merupakan hawa nafsu melainkan bentuk perintah Allah swt. Dengan demikian, persoalan ini berbeda kajian dengan yang mengkritiknya.

Anak-anak Nabi Muhammad saw. adalah berasal dari dua istri yakni Khadijah dan Maria Qibtiyah. Enam orang dari Khadijah dan seorang sisanya dari Maria al-Qibtiyah. Ketujuh anak Rasulullah adalah empat orang perempuan dan tiga orang laki-laki.

Anak laki-laki Rasulullah dua dari Khadijah dan seorang dari Maria. Namun, ketiga putera Nabi Muhammad saw. tersebut tidak berumur panjang. Sedangkan anak perempuan khususnya dari Fatimah telah memiliki banyak keturunan sampai sekarang.

Putri Nabi Fatimah ini dinikahi oleh Ali ibn Abi Thalib sedangkan Sahabat Usman menikahi dua anak Nabi Muhammad saw. sehingga dengan ini sahabat tersebut disebut dengan zu al-nuraini yakni memiliki dua cahaya. Dengan demikian, sosok keturunan Rasulullah saw. yang ada sekarang adalah melalui Fatimah r.a.

Dalam buku ini juga disebutkan peperangan pada masa Rasulullah saw. Setidaknya ada empat peperangan yaitu Badar, Uhud, Khandak, dan Fathu Makkah. Walaupun data peperangan yang ada pada masa  itu lebih dari 25 peperangan. Dengan pola ini penulis menunjukkan bagian sejarah peperangan di masa Rasulullah saw.

Hal lain yang dikaji adalah haji wada’. Dalam hal ini dijelaskan pula bahwa selama hidupnya Muhammad saw. hanya sekali saja melakukan haji. Dalam hal ini dijelaskan lewat pantun untuk menjelaskan aktifitas haji wada’ dan kegiatan lempar jumrah dan sebagainya. Dengan demikian, sebagai ajaran Islam dalam rukun Islam Nabi hanya melakukan ibadah Haji sekali saja.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Alfatih Suryadilaga

Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag. M.Ag. merupakan Asosiate Professor dalam Matakuliah Hadis di Prodi Ilmu Hadis Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang menjabat sebagai Kaprodi Ilmu Hadis dan Ketua Asosasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA). Selain itu, sebagai Ketua Yayasan Pondok Pesantren al-Amin Lamongan Jawa Timur. Karya tulisan bisa dilihat  https://scholar.google.co.id/citations?user=JZMT7NkAAAAJ&hl=id.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals