Isa dalam Literatur Sufi

Beberapa sufi menyandarkan ajaran tasawuf yang diformulasikannya pada akhlak Nabi Isa a.s., bagaimana sang Nabi memberikan taladan dalam melakoni hidup


Gambar: islam-paripurna.com

Nabi Isa a.s. adalah salah satu nabi dan rasul yang wajib diimani oleh seluruh umat Islam. Kisah perihal utusan Tuhan yang satu ini bukan hanya ada dalam tradisi Islam, tapi ada juga dalam tradisi agama lain seperti Kristen dan Katholik. Meskipun secara jujur kita akui ada beberapa perbedaan jalan cerita dari masing-masing versi.

Hal yang demikian adalah sah-sah saja sebab masuk dalam domain doktrin agama yang tak mesti sama. Dari perbedaan itu kita belajar mengolah hati menetapkan mana yang kita yakini sekaligus belajar menghormati orang lain bila pilihannya tak serupa dengan yang kita yakini.

Terlepas dari doktrin masing-masing agama dalam memandang kedudukan Nabi Isa a.s., ada beberapa laku hidup sang Nabi yang sangat inspiratif bagi segolongan cendekiawan muslim, khususnya kaum sufi. Beberapa sufi menyandarkan ajaran tasawuf yang diformulasikannya pada akhlak Nabi Isa a.s., bagaimana sang Nabi memberikan taladan dalam menghadapi berbagai ujian dalam hidup.

Ibnu al-Mubarak seorang sufi sekaligus muhadits pada abad ke-2 Hijriyah adalah salah satu di antara beberapa sufi yang memotret kehidupan Nabi Isa a.s. dalam ajaran tasawufnya. Ulama yang dikenal sebagai pemimpin para ahli zuhud ini memetik sisi asketisisme yang dipunya oleh Nabi Isa a.s.

Salah satu kalam Nabi Isa a.s. yang didokumentasikan dalam buku yang ditulisnya di antaranya adalah sebagai berikut: Isa al-Masih mengatakan bahwa rasa cinta akan Surga dan ketakutan terhadap Neraka dapat melahirkan kesabaran dalam kesengsaraan serta menghindarkan seorang hamba Tuhan dari kesenangan duniawi yang gemerlap. Adapun bagi orang yang sabar, baginya suatu kesukaran akan melahirkan kemudahan, sementara bagi pendosa kemudahan itu akan berbalik melahirkan berbagai kesukaran.

Asketisisme yang diajarkan oleh Nabi Isa a.s. meliputi kerendahan hati dan kesabaran. Tidak ada laku sang Nabi yang menjurus pada ketinggian hati apalagi tingkah sombong meski banyak anugerah Tuhan yang dilimpahkan padanya. Seberapa besar ujian yang dijalani olehnya selalu saja disikapi dengan kesabaran yang berlipat-lipat. Lebih lanjut perihal ini Ibnu al-Mubarak telah menuliskan dalam kitabnya yang berjudul al-zuhd wa al-raqaiq.

Sufi berikutnya yang menangkap keteladanan laku dari sang Nabi adalah Ahmad bin Hanbal. Imam yang lebih populer dalam diskursus fikih ini ikut mengetengahkan bagaimana sisi kezuhudan yang dilakoni oleh Nabi Isa a.s.

Dalam kitab al-Zuhud  yang ditulisnya, Imam Ahmad menyuguhkan beberapa dawuh yang disandarkan pada Nabi Isa a.s. Sang Nabi di antaranya mengemukakan bahwa murah hati bukanlah berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kita, sebab yang demikian itu adalah mengembalikan kebaikan dengan kebaikan. Lebih lanjut Nabi Isa a.s. mengatakan bahwa murah hati itu justru berarti kita harus berbuat baik kepada orang yang telah berbuat tidak baik bahkan buruk pada kita.

Dari paparan Imam Ahmad kita dapat melihat bagaimana karakteristik lain dari asketisisme yang nampak dari Nabi Isa.a.s. Beberapa karakteristik itu di antaranya adalah kemurahan hati, cinta kasih dan kebersihan hati. Oleh karena itu ajaran utama yang dikampanyekan oleh sang Nabi di antaranya adalah cinta kasih dan kedamaian.

Sufi selanjutnya yang menangkap citra Nabi Isa a.s. adalah sosok besar al-Hallaj. Sufi yang kontroversial ini mendaulat bahwa Nabi Isa a.s. adalah salah satu sosok Insan Kamil. Al-Hallaj mengatakan bahwa dalam diri sang Nabi ada Nur Muhammad yang memancar sehingga dalam dirinya yang muncul seluruhnya adalah sifat-sifat ketuhanan yang mulia sedang sifat-sifat kemanusiaannya terkikis dan lenyap. Al- Hallaj menamakan ini sebagai maqam hullul.

Hullul yang dimaksud oleh al-Hallaj bukanlah suatu bentuk panteisme. Mengutip yang disampaikan oleh Buya Hamka, Hullul adalah ketuhanan menjelma ke dalam diri insan. Hal ini hanya bisa terjadi bila atmosfer kebatinan seseorang telah bersih suci dalam perjalanan hidup kebatinan. Sampai kepada maqam tersebut bukanlah suatu hal yang mudah bagi orang awam seperti kita. Semua yang sampai pada maqam itu adalah atas kehendak Allah SWT termasuk salah satu yang telah mencapai maqam tersebut adalah Nabi Isa a.s.

Hadirnya sosok Nabi Isa a.s. yang kaya akan uswatun hasanah dalam laku hidup adalah satu hal yang positif untuk diimplementasi. Dengan adanya wawasan ini tentu kita berharap jurang perbedaan dengan agama lain yang kerap muncul akibat doktrin bisa dipersempit, justru dalam hal ini kita bisa belajar sangat banyak dalam lakon kita sebagai manusia dan umat Tuhan. []

 _ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jadi, bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya!

Anda juga bisa mengirimkan naskah Anda tentang topik ini dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Cecep Jaenudin
Cecep Jaenudin lahir di Majalengka, 2 Juli 1993. menyelesaikan studi magister pendidikan bahasa arab di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Anggota di GESTURE (Global Institute for Humanity and Culture). Saat ini aktif menimba sekaligus menyemai pengetahuan di Al-Azhar Yogyakarta.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Dirasah

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals