Tradisi Belajar Fiqih: Cara Bersuci Dari Tubuh Hingga Ruh

Sejak dini seorang anak sudah dikenalkan orang tuanya akan ilmu fiqih sebelum banyak pengajaran tentang keilmuan lainnya.


Ilmu fiqih adalah pengetahuan yang digunakan umat Islam dari sejak lahir hingga wafat. Sejak dini seorang anak sudah dikenalkan orang tuanya akan ilmu fiqih sebelum banyak pengajaran tentang keilmuan lainnya. Fiqih merupakan salah satu disiplin ilmu yang sudah disusun secara matang dari generasi awal  Islam, bahkan jika ditelaah lebih lanjut sepertiga dari isi ayat al-Qur’an adalah tentang fiqih dan cara beribadah kepada Allah.

Lebih lanjut lagi, hampir dapat ditemukan dengan sangat mudah bahwa di setiap kitab fiqih yang diajarkan di lembaga pendidikan formal seperti sekolah dasar sampai jenjang perguruan tinggi, maupun pendidikan non-formal seperti pondok pesantren dan asrama dapat dipastikan bahwa di awal pengajarannya adalah berkaitan dengan tata cara bersuci. Hal tersebut secara masif tentu memiliki tujuan yang signifikan apabila ditinjau dari prespektif ulama fiqih dan ulama sufi.

Menurut ulama fiqih Pembahasan bersuci (thâharah) adalah gerbang utama menuju ibadah. Setiap ‘amaliyyah ibadah harus diawali dengan mensucikan diri. Salah satu aspek yang dibersihkan adalah hadas, najis, dan lain sebagainya. Pentingnya bersuci bukan semata-mata bahwa Allah men-syari’at-kan sebuah ibadah, namun tentu memiliki maqâsyid al-syâri’ah (tujuan diberlakukannya syariat). Setidaknya bersuci sangat erat kaitannya dengan sosial masyarakat tentang menjaga penampilan dan kebersihan, dalam lingkup kesehatan bersuci juga dapat menjaga fungsi vitalitas alat reproduksi.

Praktek khitan (memotong ujung kulit yang membungkus kemaluan baik pria maupun wanita) misalnya, walaupun khitan hanya terdapat dalam tradisi Islam yang sudah di-syari’at-kan bahkan sejak mulai diutusnya nabi Ibrahim AS. namun kini dunia Barat yang mayoritas non-muslim kini mulai mengadopsi hal tersebut. Salah satu sebab utama mengapa Barat mengamalkan khitan adalah adanya kemanfaatan dan kemaslahatan yang besar dalam ilmu kedokteran di dalam khitan itu tersendiri, yaitu menjaga alat kelamin dari serangan penyakit sipilis (raja singa) dan penyakit lain seputar kesehatan reproduksi.

Bersuci dalam pandangan syariat Islam memiliki dua dimensi penting, yakni dimensi spiritual dan sosial. Dimensi spiritual bersuci dapat dilihat dengan tata cara wudhu, walaupun diketahui yang batal dari wudhu disebabkan oleh buang air besar misalnya, namun tata cara bersuci wudhu tidak melulu hanya membersihkan dengan cara cebok, namun juga tetap niat, kemudian membasuh wajah, tangan, kepala, kaki, dilakukan secara urut, hal tersebut membuktikan bahwa selain membersihkan tubuh juga membersihkan ruh.

Di sisi lain dimensi sosial dapat tercerminkan lewat perilaku yang bersuci kemungkinan besar memiliki perilaku yang terpuji atau setidaknya wajah dan kulit yang terlihat berseri dan wangi, sehingga mudah mendapat teman. Sebab apa yang nampak (dzahir) dapat menunjukkan apa yang di dalam (bathin).

Menurut ulama sufi bersuci adalah jalan menuju penghambaan. Setiap detik dari anggota tubuh sangat dimungkinkan melakukan dosa dan kesalahan. Cara terbaik untuk membersihkan kesalahan adalah dengan bertaubat, itulah sebabnya media untuk bersuci adalah air, bukan api maupun angin.

Diketahui bahwa dosa itu diibaratkan api yang kembali kepada neraka sebab sifatnya yang panas dan membuat rusak. Sedangkan pahala itu ibarat air yang akan kembali kepada surga, sebab sifatnya ang menyejukkan dan membuat tentram. Dapat disimpulkan bahwa air akan memadamkan api, sebagaimana pahala dapat menyiram pembakaran dosa.

Argumentasi tersebut juga dikuatkan dengan teori psikologis bahwa orang yang rajin bersuci dan membersihkan diri akan memiliki pikiran yang jernih, sebaliknya seseorang yang kotor dan enggan membersihkan diri akan mudah marah sebab kondisi pikiran yang arogan.

Sebuah pandangan sufi tersebut agaknya sesuai dengan hadis nabi bahwa Allah itu indah dan menyukai keindahan kemudian di antara keindahan yang dapat diwujudkan di dunia ini salah satunya yaitu kebersihan dan kerapian. Itulah makna terdalam di balik adanya syariat kebersihan yang dapat diambil ibrah atau pelajaran.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Althaf Husein Muzakky

Althaf Husein Muzakky, S.Ag. merupakan santri demisioner Ketua Pondok Al-Munawwir komplek Nurussalam dan mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di sisi kesibukan kuliah juga sebagai Mengajar Madarasah MA Ali Maksum Krapyak Yogyakarta.

Comments 1

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Kajian

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals