Esensi Keluarga dan Pendidikan Anak dalam Perspektif Kearifan Lokal

"..Masa depan keluarga idaman bagaimanapun tidak bisa lepas dari bagaiamana membangun anak sebagai aktor perubahan yang akan memerankan figur pemimpin masa depan.."


Sumber foto: soniazone.wordpress.com

Pendidikan adalah penanaman nilai-nilai luhur dalam meraih kemampuan dalam membuat kehidupan lebih baik. Pendidikan menjadi modal mencapai kebahagiaan individu dan kolektif. Karena kebahagiaan individu tidak dapat maksimal jika kebahagiaan kolektif belum tercipta. Hal tersebut memberikan gambaran mengenai arti penting dari pendidikan.

Pemerintah telah merekomendasi bentuk pendidikan holistik dan integratif dengan mencoba membangun kekompakan antara satuan pendidikan seperti TK, PAUD, dan Pendidikan berbasis keluarga. Hal tersebut sebagaimana tertuang dalam Perpres nomor 60 tahun 2013 tentang Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif.

Berangkat dari upaya pemerintah di atas, muncul gagasan dan ide mandiri dari keluarga-keluarga di Indonesia untuk lebih percaya diri dalam membangun dan mengembangkan pendidikan di tingkat keluarga. Hal ini seperti yang dilakukan lembaga Ayah Edy misalnya yang menerapkan pendididkan parenting melalui seminar dan penerbitan buku-buku panduan. Kesadaran ini menjadi contoh akan mulai tumbuhnya kesadaran masyarakat Indonesia tentang pembentukan otak anak adalah ditentukan saat usia emas.

Secara reflektif, pemerintah kemudian merespon munculnya ide-ide masyarakat ini dengan membentuk program-program di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat. Pentingnya pendidikan anak usia dini karena pada moment itulah otak manusia berada pada masa emas yang berfungsi dengan maksimal untuk membangun tiga komponen instrumen kecerdasan. Tiga komponen tersebut adalah pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan kepribadian (atitude).

Padunya tiga komponen ini diharapkan dapat menciptakan SDM yang memiliki kompetensi dalam membawa dan mengelola potensi Indonesia ke depan. Ketiga komponen tersebut juga senada dengan tiga model kemampuan potensi kognitif, afektif, dan psikomotorik yang ada pada diri manusia yang dikenal dengan taksonomi bloom yang dicetuskan pada tahun 1956.

Tiga kemampuan pengetahuan, keterampilan dan kepribadian saat ini telah menjadi standar ISO yang harus dipenuhi. Dan untuk itu, titik poin yang menjadi pijakannya ada pada anak usia emas. Dengan demikian filosofi pendidikan yang hanya dianggap berangkat dari kemampuan kognitif telah bergeser ke arah yang lebih holistik dan integratif. Secara praktik hal ini terlihat dengan berkembangnya sekolah vokasi pada akhir dekade ini.

Hal tersebut dapat dijelaskan dengan kondisi kebutuhan pasar bebas yang telah dimulai dengan deklarasi AFTA (Asean Free Terade Area) dimana dalam pasar bebas ini, jika anak-anak Indonesia tidak disiapkan dengan seksama, maka akan tergerus oleh kompetisi atau persaingan ketat yang sedang terjadi.

Menengok Kearifan Lokal dalam Mempersiapkan Anak

Baik model pendidikan komponen pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan kepribadian (atitude) memang tidak secara terstruktur menjadi model skema pendidikan lokal. Meski demikian, secara esensial ketiganya hadir dan menjiwai pendidikan tradisional. Ketiganya telah ada dan diterapkan secara natural di berbagai belahan dunia. Hanya saja belum terdapat istilah itu dan instrumen-instrumen pendidikannya belum terintegrasi dan belum tersedianya fasilitas sebagaimana yang ada saat ini.

Selain itu di beberapa tradisi dalam lokalitas tertentu juga masih menganggap bahwa salah satu model pendidikan lebih dominan daripada yang lainnya. Ada yang menganggap karakter lebih penting, ada yang menganggap pengetahuan lebih penting, ada pula yang menganggap bahwa skill lebih penting.

Jawa menjadi salah satu tempat yang memiliki model pendidikan khas. Masyarakat Jawa merupakan masyarakat yang telah lama memiliki ajaran filosofis yang disebut guru bhakti. Ajaran guru bhakti lahir secara natural dan menjadi khazanah capaian kebudayaan yang otentis dalam proses penanaman nilai-nilai luhur untuk menjadi manusia yang baik. Dalam guru bhakti, terdapat tiga komponen pendidikan yang akan diberikan kepada anak. Sehingga seseorang pemuda dan pemudi Jawa yang akan menikah harus mempersiapkan diri untuk menguasai ajaran guru bhakti ini.

Tiga ajaran guru bhakti meliputi tiga kompetensi dasar yang harus ditempuh secara holistik yang ketiganya menjadi satu kesatuan dalam membangun pribadi yang matang. Pertama adalah guru rupaka atau orang tua sebagai pendidik karakter dan kepribadian. Kedua adalah adalah guru pangajiyan atau orang tua sebagai guru nilai-nilai spiritualitas, dan ketiga adalah guru wisesa atau orang tua sebagai pendidik nilai-nilai kepemimpinan.

Dengan tercapainya tiga kompetensi tersebut, diharapkan bahwa visi rumah idaman bisa terwujud. Yaitu bangunan rumah tangga yang di dalamnya terdapat kasih sayang. Kasih sayang tersebut terbentuk karena ada waktu berkumpul keluarga. Waktu berkumpul tersebut terwujud dengan indah dengan adanya ruang bertemu yang baik dengan lingkungan yang mendukung. Dengan tercapainya hal-hal tersebut, komunikasi akan terbangun dengan baik antar elemen keluarga.

Ada beberapa hal positif yang akan diraih dengan kriteria-kriteria di atas. Pertama adalah cairnya suasana dengan komunikasi yang hangat. Ruang bertemu keluarga juga membangun wadah menumpahkan permasalahan keluarga untuk menuai solusi. Dengan ruang bertemu keluarga tersebut menjadi sarana rencana membahas masa depan dan rencana-rencana terdekat untuk kebaikan bersama.

Standar di atas merepresentasikan rumah tangga yang ideal. Dengan mewujudkan satu rumah tangga ideal, diharapkan akan tertular kepada lingkup tetangga-tetangga berikutnya. Kemudian diharapkan mampu berdampak pada lingkungan sekitar yang lebih luas. Rumah tangga harmonis cerminan desa yang harmonis, desa yang harmonis cerminan wilayah yang harmonis. Di sanalah kedamaian akan terepresentasi sebagaimana idiom negeri yang indah nan penuh ampunan dari Tuhan.

Masa depan keluarga idaman bagaimanapun tidak bisa lepas dari bagaiamana membangun anak sebagai aktor perubahan yang akan memerankan figur pemimpin masa depan. Anak menjadi titik sentra dalam menerka gambaran masa depan. Bagaimanapun merekalah yang akan membawai peradaban kelak saat mereka tumbuh dewasa dan melakukan perubahan-perubahan dengan visi-visi dari filosofi hidup mereka. Karena itulah konsep John Lock (1632-1704) tentang tabula rasa memiliki kebenarannya tersendiri dalam hal ini.

Tabularasa yang merupakan bahasa latin ini dapat diartikan dengan lembaran kertas putih yang kosong. Goresan-goresan awal tentunya sangat tergantung oleh orang tuanya sebagai sosok terdekatnya yang selalu ada dalam mendampinginya. Karena itulah apakah anak akan menjadi representasi lukisan yang indah atau puisi yang bermakna tergantung dari sosok orang tua.

Fungsi orang tua untuk mengarahkan anak inilah yang dinamakan mendidik. Mendidik berbeda dengan mengajarkan anak secara verbal agar anak dapat memahami dan mengikuti, penyampaian. Mendidik harus berdasarkan konsep melatih kecerdasan dan kemandirian berfikir. Karena itu mendidik beda dengan mengajari. Mendidik tidak hanya sebatas membuat anak pintar, namun membuat anak cerdas. Kecerdasan itulah yang membawa anak berinovasi dan bertahan dalam geliat kehidupan.

Seperti kepompong, kupu-kupu yang ada di dalamnya tidak bisa dikeluarkan secara paksa dari balutannya karena hal itu hanya akan membuatnya mati. Meski demikian kita masih bisa mengawasi agar kepompong tersebut tidak terkoyak atau jatuh karena alam maupun binatang. Demikian halnya anak. Ia harus mandiri dalam membangun kedewasaan serta kecerdasan karakter yang akan membuatnya bisa bertahan hidup kelak saat kedua orang tuanya pergi menutup mata.

Baca tulisan Muhammad Barir lainnya: Kumpulan Tulisan Muhammad Barir, S.Th.I., M.Ag.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Barir
Muhammad Barir, S.Th.I., M.Ag. adalah redaktur Artikula.id. Ia telah menulis beberapa karya, diantaranya adalah buku Tradisi Al Quran di Pesisir.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals