Perayaan Tahun Baru dan Tasyabbuh

"Saya kira perlu diperjelas budaya yang seperti apa yang dilarang ditasyabbuhi/ditiru.."


Dalam sebuah group WhatsApp, ada seorang kawan yang memosting larangan merayakan tahun baru. Dengan alasan meniru orang kafir, orang yang merayakan tahun baru terancam menjadi kafir pula.

Kawan saya ini mengutip hadis man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum. Awalnya, saya tidak begitu perhatian karena tema ini menjadi tema tahunan, tetapi setelah melihat debat antara yang pro dan kontra, saya menjadi tergelitik untuk urun rembug.

Komentar saya pertama kali adalah, “Saya kira perlu diperjelas budaya yang seperti apa yang dilarang ditasyabbuhi/ditiru. Belajar bahasa Inggris, diskusi pake WA, FB, bahkan pakai BH/sempak adalah budaya yang berasal dari ‘budaya kafir’. 😀 ”

Baca juga: Islam dan Malam Tahun Baru Masehi

Abdul Muhsin al-Ubbaddalam Syarah Sunan al-Tirmidzi menyatakan bahwa yang dilarang adalah meniru budaya kekafiran atau budaya yang identik dan menjadi ciri khas orang kafir. Jika kita melakukan hal tersebut, maka orang akan beranggapan bahwa kita adalah non-muslim. Untuk kebudayaan-kebudayaan material yang bisa dipakai oleh masyarakat umum dan bisa untuk kemaslahatan umat maka tidak apa-apa tidak dianggap tasyabbuh.

Dalam menyikapi tahun baru-nan, setidaknya ada dua hal yang bisa diketengahkan. Pertama, memandangnya sebagai sebuah budaya masyarakat secara luas.

Dalam kaitannya dengan budaya, Nabi yang dituntun oleh wahyu melakukan interaksi dengan budaya melalui tiga metode. Pertama, tahmîl (akomodatif), budaya yang bisa dipakai untuk kemaslahatan ummat diterima oleh Nabi, semisal Nabi yang pernah memuji Tamim al-Dari yang memasang lampu minyak di masjid Nabawi. Padahal lampu minyak itu berasal dari asal kampung Tamim, yang Kristen. Karena lampu minyak tak beragama jadi dipakai di masjid tidak apa-apa.

Kedua, taghyir (akomodasi dengan direvisi) Misal, budaya aqiqah, dulu orang-orang Arab jahiliyyah juga menjalankan aqiqah tetapi dengan melumuri kepala bayi dengan darah, setelah Nabi datang, budayanya tetap diambil dan nilainya diganti dengan yang sesuai dengan ajaran Islam.

Ketiga, Tahrim (dilarang). Kalau budaya sudah tidak bisa dirubah lagi karena ke-mudarat-annya, maka budaya semacam ini dilarang seperti mabok-mabokan dan main judi. (Penjelasan ini bisa dibaca lebih detail dalam buku Antropologi al-Quran karya Ali Sodiqin).

Dari ketiga bentuk interaksi Nabi dengan tiga cara ini, kita bisa menyimpulkan bahwa budaya merayakan tahun baru yang diisi dengan kegiatan positif boleh-boleh saja bahkan dianjurkan.

Di kampung saya misalnya, ada istilah malam tirakatan yang dilaksanakan pada malam tahun baru. Acara ini diisi dengan pembacaan tahlil, mendoakan para pejuang, berdoa agar diampuni kesalahan tahun lalu dan berikutnya serta berdoa kepada Allah, agar tahun berikutnya diberikan kemudahan dan kelancaran rezeki dan diberi hidayah sepanjang hidup.

Budaya semacam ini menurut saya, eman-eman kalau dianggap sebagai tasyabbuh lil kuffar hanya karena menggunakan kalender Masehi padahal kontennya sangat syar’i. Kalender Masehi sudah menjadi patokan hampir seluruh negara di dunia. Yang menggunakan kalender Masehi sekarang tidak identik lagi dengan non-muslim. Bahkan di banyak pondok pesantren juga banyak digunakan.

Selain itu, kalender ini juga disahkan di Indonesia. Kita juga mengenal kaidah al-‘adah muhakkamah/ adat juga dipertimbangkan dalam proses pengambilan hukum.

Kedua, memandang dan membacanya dengan prinsip muamalah, bukan ibadah apalagi aqidah. (pendapat ini saya kutip dari salah satu kawan saya. Namanya sengaja dirahasiakan. 😀 ).

Ketika saya masih tinggal di pesantren dekat sebuah perumahan di daerah Bantul, saya mendapat undangan dari warga untuk merayakan tahun baru. Acara tersebut diisi dengan bakar-bakar jagung, wedangan, ngobrol santai dengan keluarga, teman, kolega dan sebagian yang lain berdiskusi bagaimana rencana ke depan.

Aktifitas semacam ini adalah bagian dari muamalah yang akan mempererat hubungan sosial dalam masyarakat. Dan ini sangat dianjurkan dalam agama. Prinsipnya, hukum asal muamalah adalah mubah sepanjang tidak ada dalil yang melarangnya.

Tetapi, jika merayakan tahun baru dengan berfoya-foya, mabok-mabokan, ngajak pasangan yang belum halal apalagi bawa kondom, ini sudah jelas tidak usah diperdebatkan lagi, hukumnya adalah haram.

Wallahu a’lam.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
6
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
4
Wooow
Keren Keren
5
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Abd. Halim

Abd. Halim, STh.I., M.Hum. adalah dosen di IAIN Surakarta dan IIQ An-Nur Yogyakarta; Ketua Bidang Publikasi Pusat Kajian dan Pengembangan Pesantren Nusantara (PKPPN) IAIN Surakarta. Ia merupakan penulis Buku "Problem Solving ala Nabi, Belajar dari Kearifan Nabi Muhammad dalam Memecahkan Masalah".

 

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals