Belajar Dari Penduduk di Desa Layla

Mereka dengan senang hati duduk di dekat Majnun, si orang gila, hanya untuk mendengarkan ia melantunkan sajak-sajak cinta yang indah untuk Layla.


Ilustrasi: az.utro.news

Qais sudah menjadi Majnun karena mencintai Layla. Kisah percintaan mereka menjadi obrolan di segala penjuru tanah Arab. Nama Layla pun dikenal oleh semua orang karena Majnun tidak henti-hentinya menyebut nama Layla. Majnun menciptakan sajak-sajak cinta untuk Layla. Orang-orang pun kagum dengan sajak yang diciptakan Majnun karena berkualitas tinggi.

Ketika Majnun ingin menyanyikan sajak-sajak cinta untuk Layla, orang-orang berkumpul di dekatnya. Mereka menulis sajak-sajak tersebut secara rinci kata per kata. Lalu mereka membawa dengan menyayikan sajak-sajak cinta untuk Layla itu ke mana pun mereka pergi. Orang-orang berjalan sambil memuja-muji nama Layla sampai terdengar ke telinga Layla sendiri. Layla pun tahu bahwa sajak-sajak itu merupakan ciptaan kekasih hatinya Majnun.

Itulah sedikit episode dari roman percintaan Layla-Majnun. Dari kisah tersebut penulis mendapatkan sebuah pesan moral bahwa janganlah kita mengukur suatu karya dari kehidupan personal pembuatnya. Majnun secara personal tentu ia orang gila. Namun hal itu tidak menjadikan penduduk di desa Layla meremehkan kata-kata yang keluar dari seorang yang gila. Mereka tahu bahwa kata-kata cinta untuk Layla sungguhlah bernilai tinggi dan karenanya mereka tidak segan-segan untuk mendengarkan langsung dari Majnun, menuliskannya, dan menyayikan ulang ke mana pun mereka pergi.

Sebuah teguran keras untuk kita yang seringkali menilai sebuah karya dari kehidupan personal pembuatnya. Kalau seperti itu tentu kita akan kecewa jika tahu kalau Michel Foucault merupakan seorang gay dan menganggap bahwa peimikiran Foucault tentang power and knowledge hanya bualan belaka untuk mendukung kaum gay. Atau karena Rousseau yang tidak mengurus anak-anaknya kita jadi menganggap bahwa pemikirannya tentang politik dan pendidikan tidak ada gunanya.

Baca juga: Youtube dan Kuasa Agama: Sabda Michel Foucault

Pemikiran Nietzsche kita jauhi hanya karena dia seorang “pembunuh Tuhan” dan seorang yang gila. Begitu juga dengan Schopenhauer yang menganjurkan agar kita hidup berbelas kasih untuk menghilangkan penderitaan yang kita alami namun ia sendiri hanya hidup di apartemennya dengan anjing puddle kesayangannya. Jangan-jangan jika kita tahu Einstein memiliki kisah cinta yang berantakan dan dipenuhi dengan perselingkuhan membuat kita enggan membaca karya-karya besarnya.

Contoh lainnya yang sering kita temui ialah menjadikan orang yang berbeda agama sebagai alasan untuk menolak karya-karyanya. Kita tidak mau mengikuti pemikiran orang tertentu karena dianggap berguru dengan seorang yang kafir dapat membuat kita tersesat. Atau kita tidak mau mendengarkan argumen seseorang yang lebih muda atau lebih rendah tingkatannya daripada kita. Atau yang lebih buruk menjadikan hal yang bersifat primordial, sesuatu yang tidak bisa diubah dari seseorang karena bawaan sejak lahir, seperti jenis kelamin, suku, dan ras sebagai tolok ukur dalam menilai argumen yang dikeluarkan oleh seseorang.

Masih banyak contoh sikap-sikap atau argumen yang menafikan hasil karya seseorang hanya karena kita mengetahui kehidupan personalnya buruk – atau kita anggap buruk. Sikap atau argumen seperti ini disebut dengan ad hominem, singkatan dari argumentum ad hominem. Seperti contoh yang disebutkan di atas, ad hominem ialah menjadikan kehidupan personal seseorang untuk menjadi tolak ukur kebenaran pernyataan seseorang.

Baca juga: Belajar Filsafat Etika dari Alfred Jules Ayer

Kita menyerang personal seseorang untuk meruntuhkan segala kebenaran yang ia miliki. Ad hominem ini merupakan sesat pikir dalam logika. Kita tidak lagi melihat sebuah persoalan di dalam persoalan itu sendiri melainkan mencampurkan hal eksternal, yakni kehidupan personal seseorang, dalam menilai persoalan tersebut.

Sikap ini sering juga kita dapati ketika berdiskusi yang berujung pada "debat kusir". Ketika berdiskusi tentang suatu persoalan kita akan saling bertukar pendapat dengan lawan diskusi kita. Jika diskusinya berlangsung sehat tentu yang terjadi ialah saling bertukar pandangan untuk memperkaya horison diskusi. Namun jika diskusinya berujung tidak sehat, bukannya bertukar pendapat kita justru saling serang pendapat. Berdiskusi berujung menjadi debat. Kedua belah pihak diskusi saling mempertahankan argumennya.

Setiap satu pihak berpendapat dianggap sebagai sebuah serangan sehingga harus diserang balik untuk mematahkan argumennya. Dan ketika satu pihak tersudutkan, dia akan menyerang personal pihak lawannya. Topik diskusinya pun segera berubah menjadi saling buka-buka aib personal peserta diskusi untuk menjatuhkan lawan bicara. Kalau sudah seperti itu jelas merupakan diskusi yang sakit (tidak sehat). Inilah yang disebut ad hominem.

Baca juga: Pendidikan di Persimpangan Makna: Antara IQ dan EQ

Terlepas dari itu semua memang tidak bisa dinafikan bahwa masyarakat kita hari ini belum sepenuhnya terbebas untuk tidak menjadikan hal yang bersifat personal sebagai tolak ukur. Misalnya dalam hal jabatan, kita memilih pemimpin tidak hanya dari track record kepemimpinannya melainkan juga tentang moralnya. Atau ketua yang sah bisa dijatuhkan karena moralnya buruk. Dalam dunia kerja pun begitu. Kadang-kadang karena ada permasalahan personal dengan rekan kerja membuat kerjaan kita dengan orang tersebut jadi berantakan. Tentu itu bukanlah sikap yang profesional.

Maka dari itu mari kita belajar dari penduduk di desa Layla. Mereka dengan senang hati duduk di dekat Majnun, si orang gila, hanya untuk mendengarkan ia melantunkan sajak-sajak cinta yang indah untuk Layla. Mencatat setiap kata-kata indah yang keluar dari lisan seorang yang gila. Membawa kata-kata indah itu ke segala penjuru daerah hingga kata-kata itu tiba di depan pintu dan mengetuk pintu rumah Layla.

Baca juga: Psikologi Islam dan Peradaban Kebun Binatang

Memang Majnun itu seorang yang gila –dan masyarakat sepakat akan hal itu. Namun tidak bisa dinafikan bahwa sajak-sajak ciptaannya itu memang indah. Sajak yang indah itu membuatnya dapat berdiri sendiri, tak peduli meski itu keluar dari mulut seorang yang gila. Kegilaan Majnun tidak membuat orang-orang mengacuhkan dan meninggalkan segala apa yang diucapkannya.

Setiap karya yang dihasilkan telah terlepas dari penciptanya. Karya-karya itu tetap hidup meski penciptanya telah mati. Persoalan kehidupan personal dari penciptanya tidak akan mengubah makna yang terkandung di dalam sebuah karya. Sebuah karya memiliki orisinalitas maknanya sendiri. Kita bisa melihat sebuah karya sebagai karya itu sendiri –tidak harus dibumbui dengan persoalan personal penciptanya, kecuali sekadar digunakan untuk mendapatkan konteks karya itu lahir bukan untuk menjatuhkanya. []

_ _ _ _ _ _ _ _ _

Bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Apakah Anda menyukai nya atau sebaliknya? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom bawah ya! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Ilham Maulana

Master

Alumni Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Seorang pemerhati individu.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals