Aksi Nirkekerasan Dalam Film Alone in Berlin (2016)

Aksi nirkekerasan memiliki efektifitas 53%, dibandingkan dengan perlawanan yang menggunakan kekerasan hanya 26%


Sumber gambar: empireonline.com

Aksi nirkekerasan mudahnya adalah gerakan sosial yang dilaukan dengan damai. umumnya gerakan semacam ini kurang mendapat sorotan yang semestinya. Entah karena kurang meriah ataupun karena kebanyakan dilalukan secara sunyi sehingga banyak orang tidak menyadarinya. Oleh karena itu, tulisan ini akan mengulas aksi nirkekerasan yang dibedah dari sebuah film drama nyata fiksi yang berjudul Alone in Berlin. Film yang rilir tahun 2016 ini disutradarai oleh Vincent Perez dan ditulis oleh Achim von Borries dengan mengambil latar Perang Dunia II (PD II).

Sinopsis Film

Adapun untuk memaknai pesan yang disampaikan lewat tulisan ini saya ingin menggambarkan latarbelakang dari film tersebut. Cerita dimulai ketika sepasang suami istri sebagai pemeran utama bernama Otto dan istrinya Anna Quangel merasa terpukul atas kematian putra mereka yang saat itu menjadi tentara Jerman mati di medan pertempuran.

Tentu kejadian ini sangat kontras dan menyakitkan di kala itu, ketika rakyat Jerman berpesta pora merayakan pendudukan Nazi Jerman atas Prancis tahun 1940. Keluarga Otto malah mendapatkan kemalangan.

Baca juga: Kontestasi Partai Politik dan Gerakan Sosial Islam Pasca Orde Baru

Awalnya keluarga Otto sendiri merupakan simpatisan Nazi, namun setelah mendengar kematian anaknya di medan perang ditambah perlakuan sekelompok Nazi yang sewenang-wenang terhadap nenek tua keturunan Yahudi hingga sang nenek memutuskan untuk bunuh diri akibat tekanan yang dilakukan sekelompok nazi.

Berangkat dari kenyataan itu, Otto yang hanya seorang warga Jerman dan pekerja buruh biasa berbalik untuk melawan rezim Hitler. Pasangan ini kemudian merencanakan sesuatu untuk melawan Hitler, Otto dan istrinya kemudian mulai menulis kartu pos untuk mengajak semua orang agar melawan rezim Hitler dan Nazi serta melakukan protes terhadap mereka.

Dan secara sembunyi-sembunyi meletakkannya di tempat umum. Awalnya apa yang dilakukan oleh Otto berhasil dan mampu menyebarkan 267 kartu pos yang berisikan ajakan untuk melawan rezim Hitler.

Tetapi lambat laun apa yang dilakukan Otto ini terdengar oleh para petinggi Nazi yang membuatnya meradang. Maka dengan segala kekuataan pihak Nazi pun kemudian menyuruh seorang detektif profesional bernama Escherich yang bertindak atas kebanggaan profesinya bukan sebagai anggota Nazi diutus untuk mencari sang pelaku.

Butuh waktu setidaknya tiga tahun untuk sang detektif menangkap Otto, penangkapan Otto itu pun sebenarnya dilakukan tidak sengaja akibat kelalaian Otto. Sebab ketika akan memulai aksinya Otto baru menyadari bahwa kartu pos yang diletakkan di saku jaketnya terjatuh di jalan yang membuatnya dicurigai.

Maka tanpa berpikir lama sang detektif yang ditugaskan kemudian membawanya ke pihak Nazi. Otto pun kemudian diadili dengan hukuman mati akibat tindakan yang menurut kacamata Nazi adalah tindakan subversif yang harus dimusnahkan. Di akhir film kita diperlihatkan bahwa ternyata secara diam-diam sang detektif rupanya menaruh simpati terhadap tindakan yang dilakukan Otto. Ia pun kemudian menyebarkan barang bukti 267 kartu pos itu dari atas gedung kantornya lalu menembak dirinya sendiri.

Analisis

Bagi saya film ini nampak luar biasa dan memiliki pesan yang mendalam, hal itu bukan tanpa alasan. Mengingat selama ini perubahan politik yang terjadi utamanya dalam ukuran yang besar dan berdampak luas, selalu hanya dilakukan oleh tindakan-tindakan revolusioner yang besar pula. Bahkan hal itu pun ditunjukkan oleh film-film yang bertema Perang Dunia II (PD II). Padahal, banyak sekali contoh perubahan yang dimulai dari tindakan kecil sebagaimana yang dilakukan oleh Otto dan istrinya.

Apa yang dilakukan Otto dan istrinya ini bagi saya secara tidak langsung mengingatkan akan sebuah teori perlawanan yang ditawarkan oleh James C. Scott seorang sosiologi perlawanan tentang ‘ungkapan terselubung’ (hidden transcripts) dan ‘senjata kaum lemah’ (weapon of the weaks). [1]

Ungkapan terselubung (hidden transcripst)

Adapun ‘ungkapan terselubung’ (hidden transcripst) sebenarnya merupakan kebalikan dari public transcripst, yakni sebuah pola interaksi, perilaku, sikap yang diproduksi oleh kalangan penguasa. Di ruang publik, biasanya kelas penguasa berupaya membangun legitimasi kekuasaan dengan mengklaim bahwa penguasalah yang layak mengendalikan pola kehidupan dan kebijakan-kebijakan yang dibentuk oleh kelas penguasa.

Namun sebaliknya, sebenarnya kelas penguasa tidak seutuhnya mengendalikan kelas subordinat (pinggiran). Sebab terdapat pola interaksi yang dibangun di luar pengawasan kelas penguasa dan melatarbelakangi munculnya perlawanan terselubung (hidden transcripts). hal ini muncul akibat ketidakadilan yang mendominasi.

Dalam film Alone in Berlin yang mengangkat kisah Perang Dunia II diketahui bahwa saat itu Jerman di bawah rezim ditaktor Adolf Hitler dengan nazinya secara penuh telah mengendalikan kehidupan masyarakat secara keseluruhan tanpa keadilan. Meski di ruang publik terlihat keharmonisan sosial akibat pemerintahan yang dijalankan melalui tangan besi. Tapi tampaknya mereka lupa bahwa jauh dibalik itu banyak orang yang tidak menyetujui dominasi yang dilakukan.

Hal itu terlihat dari sikap Otto dan istrinya yang melawan rezim Hitler dengan cara-cara paling aman untuk menghancurkan dominasi elit penguasa. Otto yang mengetahui bahwa dirinya merupakan seorang biasa sebagai kelas pekerja tentu tidak mengambil sikap yang ‘gegabah’ dalam menjalankan aksinya.

Senjata kaum lemah (weapon of the week)

Sebagaimana dikatakan oleh James C. Scoot bahwa meski kelas subordinat terlihat patuh terhadap kelas penguasa di ruang publik. Kelas Subordinat tetap mencari cara untuk menyalurkan kepentingan-kepentingannya.

Otto pun kemudian memilih cara perlawanan yang menurut James C. Scoot disebut sebagai ‘senjata kaum lemah’ (weapon of the week), yakni perlawanan yang dilakukan secara terus-menerus oleh kelas subordinat kepada kaum elit. Otto kemudian memilih tidak konfrontasi secara langsung, hal yang dilakukan oleh Otto dalam film ini saya kira cukup revolusioner dan penuh pertimbangan yang matang.

Bagaimana tidak, biasanya jika berbicara mengenai perlawanan, kebanyakan orang langsung berpikir bahwa perlawanan itu selalu terbuka. Perlawanan merupakan sebuah gerakan yang mengorganisir banyak orang hingga berujung kepada bentrokan fisik.

Namun dalam kasus Otto perlawanan yang dilakukannya adalah perlawanan yang terselubung seperti membuat tulisan dalam bentuk kartu pos yang dia sebarkan secara terus-menerus. Sebuah perlawanan yang tidak disadari oleh rezim Hitler sendiri. Bahkan perlawanannya ini dapat dikatakan sebagai perlawanan nirkekerasan yang mirip dengan ajaran Mahatma Gandhi, yakni Satyagraha.

Satyagraha

Satyagraha sendiri merupakan gerakan pembangkangan sipil tanpa kekerasan fisik. Sebab bagi Gandhi perlawanan bersenjata hanya akan membuang banyak tenaga dan korban jiwa. Selain upaya Gandhi untuk menunjukkan bahwa kebenaran tidak hanya berada di satu pihak sehingga semua tidak boleh merasa benar sendiri dan tidak boleh menggunakan kekerasan. [2]

Alasan perlunya aksi nirkekerasan

Walaupun yang dilakukan oleh Otto hanya menyebarkan kartu pos dalam artian tidak melawan dengan cara kekerasan seperti perang. Namun dalam kacamata nirkekerasan yang diperlihat oleh Otto dalam film Alone in Berlin sendiri dapat dijadikan dua alasan mengapa metode nirkekerasan perlu diupayakan:

1). Dengan memiliki akses yang besar terhadap instrumen atau alat kekerasan dan media komunikasi. Rezim yang otoriter seperti Hitler dapat dengan mudah mencap kita sebagai pemberontak dan warga negara yang subversif. Jika perlawanan dilakukan dengan konfrontasi. Akibatnya, sulit bagi kita (aktor perubahan) untuk menarik simpati luas dalam mencapai tujuan yang diinginkan.

2). Aksi nirkekerasan telah menunjukkan bahwa banyak sekali diktator berhasil diturunkan tidak melalui kudeta berdarah. Sebagaimana diungkapkan oleh hasil penelitian Maria Stephan dan Erica Chenoweth (2011) yang menunjukkan bahwa tingkat efektivitas aksi nirkekerasan adalah 53%, dibandingkan dengan perlawanan yang menggunakan kekerasan hanya 26% saja. Maka tidak heran jika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencanangkan bahwa tahun 2001-2010 sebagai dekade budaya perdamaian dan nirkekerasan sebagaimana yang ditulis Kusumaningrum. [3]

Baca juga: Semangat Kartini dan Wacana Gerakan Perempuan di Media Sosial

Kesimpulan dan Refleksi

Meski pun apa yang dilakukan oleh Otto berujung pada kematiannya. namun efek dari perbuatannya telah mampu membuat rezim Hitler merasa ketar-ketir. Sebagaimana pemerintah Nazi yang menyuruh seorang detektif profesional bernama Escherich untuk mencari dan menangkap Otto. Melalui film ini juga kita mungkin dapat sedikit sadar bahwa perubahan sosial politik bukan hanya soal melawan rezim yang berkuasa. Melainkan soal ketegaran di dalam mempertahankan ruang hidup manusia dari bentuk kezhaliman, kerakusan, dan kekerasan.

Melihat konteks hari ini, perlawanan nirkekerasan sebagaimana yang dilakukan oleh Otto mungkin sudah sedikit banyak berkembang apalagi seiring perkembangan media digital yang begitu pesat. Salah satunya adalah gerakan perlawanan melalui hastag atau tanda pagar (#) yang cukup efektif dalam melakukan aksi nirkekerasan.

Refrensi

[1] Crawshaw, S. (2015). Tindakan-Tindakan Kecil Perlawanan. Yogyakarta: INSISTPress.

[2]  Kusumaningrum, D. (2021). Perlawanan Nirkekerasan: Buku Saku Aktivis. Yogyakarta: Institute of Internasional Studies UGM.

[3] Kusumaningrum, D. (2019, Oktober 3). Buat Apa Nirkekerasan Kalau… Retrieved Desember 8, 2021, from Institute of Internasional Studies.

Editor: Ahmad Mufarrih
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

[zombify_post]

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI