Pariyem: Sosok Representasi Alam Pikiran Kebudayaan Jawa

Dari Pariyem ini kita bisa belajar bagaimana landasan falsafah orang Jawa itu dapat dijadikan pegangan hidup.


gambar: tirto

Berbicara mengenai Jawa dengan segala dinamikanya, baik dari segi budaya, pemikiran, agama, dan seni sejak dahulu hingga saat ini memang selalu menarik untuk diperbincangkan. Hampir tak ada wacana yang begitu intens dibicarakan dari masa ke masa selain tentang wacana ke-Jawa-an.

Apalagi wacana yang menyangkut pemikiran dan keyakinan seorang Jawa. Sebab masyarakat Jawa sendiri ketika berbicara pemikiran yang terkait soal hidup dan kehidupan memiliki falsafah tersendiri. Sebuah falsafah hidup Jawa yang sudah menjadi bagian dari kehidupan dan merupakan roh yang menggerakan peradaban Jawa sejak dahulu kala. Falsafah itu setidaknya memiliki dua landasan utama, yakni ketuhanan, (Manunggaling Kawulo Gusti) dan keselarasan (hubungan manusia dengan manusia).

Falsafah inilah yang tampak sekali pada sosok Pariyem seorang gadis dari Gunung Kidul Yogyakarta yang dijadikan tokoh utama dalam novel karya Linus Suryadi berjudul, ‘Pengakuan Pariyem’ (2017). Sebuah novel yang bercerita mengenai alam pemikiran hidup orang Jawa. Novel ini bagi penulis bukan sekedar novel biasa dalam menggambarkan alam pemikiran seorang Jawa. Sebab novel ini berbicara tidak melalui segi ilmiah, sebagaimana yang selalu dilihat oleh para orientalis ketika menggambarkan kehidupan orang-orang di Jawa, khususnya ketika bicara pemikiran.

Novel ini berbicara melalui sebuah rasa atau batin yang hari ini mulai sedikit memudar di dalam kehidupan yang semakin modern. Dari Pariyem ini kita bisa belajar bagaimana landasan falsafah orang Jawa itu dapat dijadikan pegangan hidup.

Adapun Falsafah yang pertama-tama dapat dilihat dari sosok Pariyem terkait manunggaling kawulo gusti tergambarkan melalui sikap hidupnya yang selalu menyertakan dan menyadarkan setiap aktifitasnya kepada Tuhan yang Maha Esa. Ketika dirinya menerima segala kehendak takdir yang ditetapkan untuknya. Sebagaimana yang dikatakan Pariyem (hlm: 30) dalam novel tersebut:

‘Gusti Allah Maha Adil, kok 
saya nrimo ing pandum

Kata Nrimo ing pandum bagi orang Jawa dimaknai sebagai ‘menerima dengan pemberian’ dalam arti yang lebih luas dapat berarti ikhlas atas apa yang kita terima dalam lika-liku kehidupan atau legowo (lapang atau tulus). Sebuah konsep positif yang dicerminkan melalui sikap tenang dan tidak gegabah yang mampu memunculkan sifat baik berupa pengendalian diri yang kuat.

Namun, bukan berarti dari sikap ini, kita sebagai manusia yang diberikan kehendak untuk menjalani hidup lantas berpangku tangan. Sebab ada sebagian masyarakat salah kaprah di dalam memandang falsafah ini yang menganggapnya sebagai bentuk sikap hidup yang fatalistik. Mereka lupa atau tidak tahu bahwa falsafah nrimo ing pandum ini secara praktiknya selalu bersanding dengan kata makaryo ing nyoto yang berarti bekerja secara nyata. Hal yang sama seperti istilah ikhtiar dan tawakal di dalam Islam.

Sehingga secara keseluruhan falsafah ini mengajarkan untuk selalu berusaha terus-menerus dengan disertai rasa bersyukur dan bersabar di dalam setiap proses meniti tujuan dan cita-cita tanpa bersikap ‘grasak-grusuk’ dan cenderung menyalahkan keadaan. Karena dengan sikap nrimo ing pandum sejatinya secara tidak langsung kita sudah bisa berdamai dengan diri sendiri dan kenyataan hidup. Apapun kenyataan dan lika-liku yang terjadi kita dapat santun serta mengalir dalam menyikapinya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Pariyem (hlm: 11):

“Saya pikir-pikir
Hidup tak perlu dirasa
Hidup tak perlu dipikir
Dari awal sampai akhir
Hidup itu pun mengalir 

Bagaikan kali winanga
Bagaikan kali Code, di tengah kota
Bagikan kali Gajah Wong
Hidup kita pun mengalir”

Maka tidak heran jika sikap nrimo ing pandum ini sangat mulia dalam kehidupan orang Jawa. Sebuah sikap yang lahir dari kematangan jiwa seseorang atas kenyataan hidup. Sebuah sikap yang menjadikan Tuhan sebagai pusat atau poros dari setiap perjalanan hidupnya. Sebab sangat sulit bagi orang-orang menerima kenyataan jika itu tidak sesuai dengan kehendaknya. Maka tidak mungkin seseorang memiliki kekuatan batin nrima ing pandum kecuali telah berakar kuat pada kedalaman spiritualitas.

Setelah orang telah berdamai dengan dirinya sendiri melalui nrimo ing pandum yang merupakan sebuah sikap spiritualitas antara dirinya dengan Tuhan. Tentu akan berdampak di dalam kehidupan sosialnya yang selalu bisa selaras antar sesamannya. Dimana semua manusia di hadapan Tuhannya itu sama dan tidak berbeda.

Bagi orang Jawa keselarasan antara mikro kosmos dan makro kosmos menempati posisi yang penting dalam etika Jawa. Sebab tanpa adanya keselarasan di dalam sikap hidup pribadi seseorang, apalagi terhadap sesamanya tentu manusia akan terjebak pada hawa nafsu yang membuatnya tidak mampu legowo. Maka dengan nilai-nilai yang dianutnya sebagai orang Jawa Pariyem (hlm: 132:133) mengatakan bahwa:

“Di depan Gusti Allah hak kita sama
Harkat kemanusiaan kita tak berbeda
Di sorga Gusti Allah tidak bertanya:
Pangkatmu apa, harta karunmu berapa?
Kowe bangsawan apa kere gelandangan?

Di sorga Gusti Allah hanya bertanya: 
Kebajikanmu apa, imanmu bagaimana?
Kowe serakah tamak apa suka berkorban? 

Di pengadilan penghabisan kita ditimbang
Hakim dan jaksanya tak main sogok-sogokan
Yang bangsawan dan yang gelandangan
Waktu lahir sama-sama telanjang badan

Yang dilakukan ialah meratapi alam
Meratapi pahit getirnya kehidupan
Yang kaya-raya dan yang miskin papa
Waktu hidupnya sama-sama punya luka

Yang dilakukan ialah mengolah beban 
Mengolah beban yang mematangkannya
Yang presiden dan yang tani dagang
Waktu mati pun sama-sama sendirian 
Bukankah orang hidup, kata nenek moyang 
Kita, adalah ibarat orang mampir ngombe?”

Dari sini Pariyem sebagai representasi orang Jawa secara tidak langsung ingin berbicara mengenai sepi ing pamrih yang memuat sebuah kerelaan untuk tidak mengejar kepentingan-kepentingan sendiri tanpa perhatian terhadap masyarakatnya. Sebab bagi Pariyem pengabdian atau kebajikan terhadap sesama lebih penting daripada harta dan kedudukan.

Bagi orang Jawa sikap batin dan tindakan yang tepat dalam masyarakat didasari oleh paham tentang tempatnya di masyarakat. Sebab siapa yang mengerti tempatnya dalam masyarakat, dia juga memiliki sikap batin yang tepat untuk bertindak. Sebagaimana yang dikatakan Pariyem (hlm: 65), bahwa:

“Saya tak mau memperlakukan orang 
Di hadapan banyak orang 
Kendati saya dipermalukan orang
Di hadapan banyak orang 
Itu kurang pekerti namanya
Itu tidak baik buntutnya

Apabila saya nekad mempermalukan orang 
Hubungan insaniah pun menjadi renggang
Ya ya, mencipta hubungan di dalam cinta
Lebih gampang ketimbang kita memelihara”

Dua hal di atas terkait falsafah hidup orang Jawa yang dipresentasikan oleh sosok Pariyem dalam novel ‘Pengakuan Pariyem’. Memang tidak merangkum secara keseluruhan mengenai kehidupan orang Jawa yang begitu luas, apalagi hal itu berkenaan dengan batin yang notabenya tidak selamanya bisa dituliskan melalui kata-kata. Tapi setidaknya dari sosok Pariyem ini, sedikit banyaknya kita bisa mengetahui tentang dasar orang Jawa di dalam berinteraksi baik dengan Tuhannya maupun dengan sesamanya.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals