Realitas Qurban: Energi Tasawuf dan Proyeksi Kesejahteraan

Melalui qurban, umat islam sejatinya sedang menghilangkan sekat-sekat hierarki strata dan diferensiasi sosial


Usai sudah umat muslim menunaikan salat Idul Adha, namun perayaannya masih saja tetap syahdu bergema. Takbir, tahlil, dan tahmid masih gencar mengetuk pintu-pintu tabir suci tauhid keagungan Allah Swt. Alunan itu pun tak henti-hentinya memenuhi penjuru bumi, langgar, mushala dan masjid menjadi saksi bisu tanpa terikat janji. Seakan-akan manusia sebagai hamba, rindu berat ingin segera berjumpa dengan kekasih sejatinya di yaumil jaza.

Kerinduan hamba yang telah payah itu pun harus segera terobati, terlebih lagi terkadang kesadaran total terus-menerus menagih janji syukur terhadap nikmat Allah yang telah begitu banyak dikaruniakan kepadanya. Dan nyatanya kerinduan itu pun memerlukan pembuktian riil dalam wujud persembahan hewan qurban sebagai tanda keimanan dan ketaqwaan.

Abu Bakar Ar-Razi menegaskan bahwa wujud iman dalam hati seorang mukmin dianalogikan layaknya sebatang pohon yang memiliki tujuh dahan, satu dahan berpangkal pada hatinya, sedang buahnya adalah keinginan yang baik. Satu dahan berujung pada lidahnya, sementara buahnya adalah perkataan yang jujur. Satu dahan berpangkal pada kakinya, sedang buahnya adalah berjalan menuju shalat berjamaah. Satu dahan berpunca pada kedua tangannya, sementara buahnya adalah memberi sedekah. Satu dahan berhulu pada kedua matanya, sedangkan buahnya adalah memandang pada pelajaran-pelajaran (ibrah atas suatu kejadian). Satu dahan berasas pada perutnya, sementara buahnya adalah memakan yang halal sekaligus meninggalkan barang yang ragu akan hukumnya (syubhat). Dan satu dahan lagi berpangkal pada jiwanya, sementara buahnya adalah meninggalkan segenap kehendak syahwat. (Durratun Nasihin: 420).

Dalam kontinuitas kehidupan memang demikian seharusnya sunatullah terjadi. Bukankah kerinduan di antara sesama manusia saja hanya akan sirna apabila melalui perjuangan dan pengorbanan? Sekat ruang dan waktu terkadang menjadi ujian sekaligus meneguhkan kematangan perasaan dan keyakinan.

Ranumnya anggur hanya akan semakin lezat dinikmati tatkala matang dalam proses, meski cawan-cawan yang penuh dahaga itu berderet setiap waktu dan kian menganga. Layaknya jiwa yang terus meronta-ronta untuk senantiasa mendapat karunia dan merasa tenang berada di haribaan-Nya. Terlebih lagi, kerinduan sebagai wujud kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya, bukankah harus diimplementasikan dengan segenap kesungguhan tanpa memilah-milah? Sekalipun segala yang disayangi—harta, jabatan dan segenap kesenangan harus sirna.

Dalam konteks sirnanya segenap perasaan memiliki (posesif) ini sejatinya makna hakiki dari pelaksanaan qurban berlaku. Ikhlas dalam melepaskan semua hal yang dicintai di dunia untuk semata-mata mendekatkan diri sekaligus mengharap ridha Allah Swt. Sebab bagaimanapun, manusia haruslah menyadari dan mengakui, bahwa sebanyak dan secinta apa pun terhadap perhiasaan dunia, sejatinya semua itu hanyalah titipan. Tidak ada perhiasaan dunia yang bersifat kekal, relativitas menjadi hukum abadi dalam dunia fana.

Bukankah titipan dengan leluasa dapat diambil setiap waktu oleh sang pemiliknya? Sementara yang dititipi sedikit pun tidak akan pernah mampu untuk jumawa. Ah, manusia saja yang terkadang rakus dan tamak akan dunia, terlahir dibalut dengan kemiskinan, namun kian beranjak dewasa dirinya diliputi hasrat kemaruk, ini dan itu semuanya ingin dikuasainya. Padahal tatkala mati, tidak sedikit pun membawa perhiasaan yang dicita-citakannya, melainkan hanya dibalut kain kafan beberapa jengkal dan amal baik perbuatannya.

Pemaknaan ikhlas sebagai bentuk menerima segala hal titipan dari Sang Maha Kaya, dalam terminologi orang Jawa disebut dengan istilah sadermi titipan. Dengan adanya penghayatan dan kesadaran terhadap proses itu pula, yang menjadi alasan mengapa orang Jawa memiliki filosofi hidup sangkan paraning dumadi dan nrima ing pandum. Dalam menjalani hidup di dunia ini seharusnya manusia mampu melakukan nyungsang balik bawana.

Sementara dalam doktrin tasawuf, Al-Ghazali dalam magnum opusnya Ihya Ulumuddin menegaskan bahwa moral ikhlas dan ridha termasuk sebagai maqamat yang harus dilalui oleh seorang sufi untuk mencapai derajat insan kamil (sempurna secara zahir dan batin, kehadiran akhlak terpuji sebagai cerminan) (Imam Al-Ghazali: 210).

Ikhlas dalam tasawuf ini sudah barang tentu hanya akan tercapai oleh seorang sufi dengan menepuh jalan thariqah. Di pihak lain, tidak dapat dipungkiri pula bahwa dalam maqamat sendiri terdapat beragam pendapat kaum sufi mengenai susunan dan hierarki dalam metode sufistik yang harus dilalui. Namun, perbedaan pendapat ini hanyalah sesuatu hal yang wajar, sebab tasawuf berpijak pada dzauq atau perasaan batin (Imam Fuadi, 2004: 21).

Berbeda halnya tatkala ikhlas sebagai tujuan akhir dalam qurban. Ikhlas dalam melakukan qurban ini berarti memungkinkan semua mukmin dapat mencapainya, meskipun tanpa menempuh jalan thariqah tertentu layaknya sufi. Sebab yang terpenting adalah melakukan qurban dengan kemurnian niat yang tulus dan penuh kesungguhan. Hal ini menandakan bahwa Allah memberi kemudahan bagi setiap umat yang hendak mendekati-Nya, mencapai keridhaan-Nya. Kesempataan untuk senantiasa melatih diri bersikap ikhlas dalam segala tindakan baik inilah yang dimaksud oleh penulis sebagai tasawufnya orang mukmin.

Selain qurban, perayaan Idul Adha nyatanya juga disertai dengan adanya larangan untuk berpuasa di hari raya dan tiga hari sesudahnya, disebut hari tasyrik. Pengharaman puasa pada empat hari ini tidak lain adalah tanda bagaimana Sang Pencipta memproyeksikan kesejahteraan umatnya. Dapat dikatakan selama empat hari dalam perayaan tersebut sebagai upaya terbaik manusia untuk memperbaiki asupan gizi. Bagaimana mungkin daging qurban yang melimpah ruah akan disia-siakan begitu saja. Bukankah itu pemborosan yang hakiki?

Allah berfirman dalam surah al-Isra ayat 26-27: “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepda Tuhan-nya”.

Adanya qurban dan pengharaman puasa sejatinya bukan semata-mata soal pemerataan dan mengkomplitkan asupan gizi (kesejahteraan kesehatan), namun sekaligus berimbas pada upaya kesejahteraan sosial dan ekonomi.

Bagaimana tidak, coba saja dibayangkan. Melalui qurban, umat islam sejatinya sedang menghilangkan sekat-sekat hierarki strata dan diferensiasi sosial, di mana mereka yang kaya dan miskin sama-sama akan merasakan dan mencicipi makanan yang sama, olahan serba daging. Mereka yang telah mampu berqurban sejatinya sedang berbagi rezeki kepada sesama. Sehingga nikmat yang telah dikaruniakan Allah kepada personal, turut dinikmati pula oleh orang lain. Keadaan ini mencerminkan kesejahteraan sosial.

Sementara berlimpah ruahnya daging qurban berdampak pula pada meningkatnya komoditas kebutuhan dapur, utamanya berbagai perlengkapan untuk mengolah daging. Misalnya saja, rempah-rempah sebagai bumbu penyedap rasa, tusuk sate, arang sampai dengan gas lpg yang harus siap siaga dalam kondisi penuh.

Hal yang demikian, tidak menutup kemungkinan warung-warung sekitar akan lebih sering dikunjungi oleh para pembeli. Tidak terkecuali bagi mereka yang tidak suka dengan daging, mungkin mereka lebih suka menjual dagingnya ke tetangga di sebelah rumah. Dalam keadaan ini sejatinya qurban telah mendongkrak kesejahteraan ekonomi masyarakat. Sebab di satu sisi, selama perayaan qurban berlangsung kebutuhan ekonominya akan tercukupi, sejahtera.

Namun sejatinya di balik qurban terdapat ibrah yang lebih penting, di mana Allah sesungguhnya sedang menguji manusia dengan segenap nikmat-Nya yang tidak terhingga. Sehingga pertanyaan besarnya adalah, apakah manusia akan tetap bersyukur tatkala dilimpahi kesejahteraan batin dan zahir pada hari-hari perayaan idul Adha? Semoga kita semua tergolong hamba-Nya yang mendapat ridha-Nya kelak di akhirat sana.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Roni Ramlan

Roni Ramlan, S. Ag. adalah mahasiswa aktif Pascasarjana IAIN Tulungagung. Aktif di organisasi Lentera (Lintas Edukasi Kajian Rumah Tangga).

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals