Beridul Adha di Masa Korona

Korona membuat kita makin beriman kepada Tuhan yang tak terlihat, tapi selalu melihat kita.


idul_adha_di_masa_korona
Ilustrasi Idul Adha di masa korona (Sumber: surabaya.go.id)

Hari ini kita merayakan Idul Adha dalam kepungan Korona. Kita harus menjaga kesehatan dan kebersihan dengan saksama: mencuci tangan pakai sabun, menggunakan masker, menjaga jarak aman, menghindari kerumunan, dan menghindari mobilisasi yang tidak berarti.

Pandemi Korona memaksa sebagian besar dari kita untuk bekerja dari rumah, putra-putri kita juga belajar jarak jauh dengan segala suka dukanya. Pandemi memaksa Lembaga Pendidikan mengubah strategi pembelajaran di sekolah. Pemerintah, seperti Pemda DIY (Kamis, 17/6/2021) resmi memutuskan untuk menunda rencana Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta untuk seluruh tingkat Pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga level Perguruan Tinggi.

Pembelajaran online pun menjadi pengalaman baru bagi peserta didik maupun para pendidik. Masing-masing memerlukan penyesuaian tersendiri. Guru menyiapkan bahan ajar dan metode pembelajaran sesuai dengan situasi dan kondisi. Pembelajaran online memerlukan sarana dan prasarana.

Di sisi lain, peran orang tua murid juga dituntut lebih, salah satunya bertanggung jawab memfasilitasi sarana belajar anak, terutama alat komunikasi, baik komputer maupun telepon genggam. Lebih dari itu, harus disadari bahwa sarana pembelajaran secara online rawan disalahgunakan untuk kegiatan di luar belajar. Oleh karena itu anak perlu pendamping dalam menggunakan sarana komunikasi, dan orang tua niscaya menjalin komunikasi dengan guru atau sekolah dan sebaliknya.

Bagaimanapun catur pusat Pendidikan Islam tidaklah tunggal: di rumah, sekolah, masyarakat, dan masjid. Rumah adalah tempat belajar anak-anak pertama kali, bahkan sebelum ia lahir ke dunia, yang disebut pendidikan prenatal. Apa saja yang dilakukan sang ibu ketika janin berada dalam kandungan berpengaruh kepadanya. Apa saja yang dikonsumsi ibu berpengaruh terhadap pertumbuhan jasmani janin, bahkan rohaninya. Orang tua menjadi role model bagi putra-putri sepanjang hayatnya.

Baca juga: Quranic Parenting: Pola Asuh Anak Perspektif Al-Quran

Begitu pula para guru, tokoh masyarakat, dan para ustadz yang bertanggung jawab. Guru identik dengan figur yang “digugu lan ditiru”; diindahkan dan dicontoh. Ki Hajar Dewantara merumuskan karakter guru dalam sistem among: Ing ngarsa asung tuladha, ing madya mangun karsa; tut wuri handayani – di depan memberi teladan; di tengah menggerakkan; di belakang memberi dukungan. Guru sejati memperlakukan murid-murid seperti anaknya sendiri.

Bagai petani, guru mencurahkan perhatian pada benih yang telah ia tebar; memupuk, menyirami dan menyianginya. “Awalnya aku hanyalah butiran-butiran kemungkinan. Gurukulah yang membuka dan mengembangkan kemungkinan itu.” Demikian kesaksian Helen Keller. Guru menginspirasi murid untuk bercita-cita, sekurang-kurangnya menjadi seperti dirinya.

Hal ini mengingatkatkan penulis pada satu riwayat yang menceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah saw memasuki masjid dan menemukan dua majelis, yakni majelis dzikir dan majelis ilmu. Rasulullah saw bersabda, “Kedua majelis ini bagus. Majelis dzikir mengingat Allah swt dan bermohon kepada-Nya, sedangkan majelis ilmu membahas tentang ilmu. Saya adalah guru, dan saya memilih majelis ilmu.” Rasulullah saw pun bergabung dengan majelis ilmu tersebut.

Nabi Muhammad Saw berpesan, “Didiklah anak-anakmu dengan sebaik-baiknya, karena mereka adalah amanat Tuhan kepadamu.” Dengan redaksi yang serupa Umar bin Khathab berkata, “Didiklah anak-anakmu dengan saksama, karena mereka akan hidup di zaman bukan zamanmu.”

Begitulah, seyogyanya orang tua berkewajiban mengenalkan anak kepada Tuhannya, membantu anak menemukan rencana Tuhan untuk dirinya, serta mengarahkan anak, tetapi tidak memaksanya. Hal itu pun berlaku sepanjang masa, meskipun di saat Korona.

Ibadah Kurban dan Berkah Korona

Kurban adalah sebentuk ketaatan kepada Allah swt berupa penyembelihan sapi dan/atau kambing pada 10 Dzulhijjah dan hari-hari tasyrik dengan mengharap ridha Allah swt semata.

Baca juga: Pandemi Sebagai Medan Ziarah-Haji

Kurban adalah simbol kasih sayang, kesetiakawanan, dan kepedulian terhadap nasib sesama. Dengan Idul Adha Allah swt menginspirasi untuk saling menyapa, berbagi, dan silaturahmi.  Allah swt berfirman dalam Al-Quran,

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ  

Sungguh, telah Kami berikan kepadamu sumber yang melimpah. Maka, shalatlah untuk Tuhanmu dan berkurbanlah. Sungguh, orang yang membenci engkau,- dialah yang putus dari harapan masa depan. (QS Al-Kautsar/108:1-3).

Al-kautsar artinya karunia yang tak terbatas; rahmat dan segala kebaikan, kearifan, dan wawasan yang diberikan kepada semua insan.

Pengalaman kurban pertama kali di muka bumi adalah ujian terhadap kedua putra Nabi Adam. Yang satu berkurban dengan ogah-ogahan dan yang seorang berkurban dengan penuh ketakwaan. Allah swt menerima kurban yang kedua. Sedangkan kurban umat Islam adalah warisan Nabi Ibrahim as. Allah swt berfirman,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ فَلَمَّآ أَسۡلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ وَنَٰدَيۡنَٰهُ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 

Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, nyatalah kesabaran keduanya. Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.  Sungguh ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu pujian yang baik di kalangan orang-orang yang datang kemudian. “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” (QS 37:102-109).

Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail mengandung pesan untuk berbagi sumber, kesempatan, dan semangat memelihara warisan kemanusiaan, dengan mengalahkan kepentingan pribadi, keluarga, dan golongan, maupun fanatisme sempit lainnya.

Penyembelihan ternak tahunan membuahkan keseimbangan ekosistem, membuka peluang memperoleh rezeki dari pengadaan hewan, pemeliharaan, penyediaan pakan, dan sarana  transportasi, serta pemotongan.

Penyembelihan hewan kurban simbol pemotongan syahwat duniawi dan sikap mental syaithani yang mengalir dalam diri. Allah swt berfirman,

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمۡ لِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُحۡسِنِينَ  

Yang sampai kepada Allah bukan daging atau darahnya, melainkan ketakwaan kamu. Demikianlah Ia memudahkannya kepada kamu supaya kamu mengagungkan Allah atas bimbingan-Nya kepada kamu; dan sampaikan berita baik kepada semua orang yang telah berbuat baik.(QS Al-Hajj/22:37).

Jadi hakikat Allah swt menurunkan agama adalah untuk membebaskan manusia dari penderitaan, agar mereka dapat berdiri bebas di hadapan Tuhan secara benar dan menjaga diri dari perbuatan aniaya.

Bagaimanapun dalam hidup ini kekayaan dan kekuasaan bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk mewujudkan kesejahteraan, kemakmuran, dan keselamatan.  Kekuasaan adalah ujian; apakah untuk menegakkan keadilan dan keselamatan atau sebaliknya.

Manusia niscaya berkorban untuk meraih kehidupan yang bermakna. Setiap pengorbanan adalah investasi. Jer basuki mawa bea… Tak ada pengorbanan tulus yang sia-sia.

وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ وَأَنَّ سَعۡيَهُۥ سَوۡفَ يُرَىٰ ثُمَّ يُجۡزَىٰهُ ٱلۡجَزَآءَ ٱلۡأَوۡفَىٰ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ

Bahwa yang diperoleh manusia hanya apa yang diusahakannya. Bahwa usahanya akan segera terlihat. Kemudian ia akan diberi balasan pahala yang sempurna. Bahwa kepada Tuhamu tujuan akhir. (QS An-Najm/53:38-42).

Dari ibadah kurban, setidaknya kita juga mendapat pelahjaran bahwa hidup tidaklah bearti untuk diri sendiri, tetapi juga harus untuk orang lain.

Selain itu, kita juga dijarkan tentang keharusan untuk memperlakukan pihak lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Tak seorang pun boleh diperlakukan dan berlaku semena-mena.

Dengan begitu kita berusaha mewujudkan aturan yang adil, di mana setiap orang memiliki kesempat­an yang sama untuk meraih prestasi.

Begitulah seharusnya kita sebagai hamba yang beriman agar mengambil pelajaran dari ibadah kurban, sebagaimana kita juga dituntut mengambil hikmah dari segala hal yang ada di hadapan kita:

Tuhan menciptakan samudera, manusia membuat kapal untuk mengarunginya.
Tuhan menciptakan malam, manusia membuat lampu untuk meneranginya.
Tuhan menciptakan aneka barang tambang, manusia menggali dan memanfaatkannya.
Tuhan memerintahkan salat, manusia membuat masjid untuk bersujud di dalamnya.
Tuhan memerintahkan haji, manusia menghimpun bekal untuk menempuh perjalanan ke Rumah-Nya.

Lantas bagaimana dengan korona? Bukankah kita bisa mengait banyak berkah dari Korona?

Korona memotivasi kita rajin berolah raga.
Korona membuat orang kreatif dalam segala.
Korona mengubah dunia pendidikan tanpa diduga.
Korona membuat kita peduli dan membantu sesama.
Korona membuat kita percaya adanya virus yang tak kasat mata.
Korona membuat kita makin yakin adanya setan yang tak tampak, tapi suka menggoda.
Korona membuat kita makin percaya kepada malaikat pencatat amal kita.
Korona membuat kita makin beriman kepada Tuhan yang tak terlihat, tapi selalu melihat kita.

Editor: Dona Kahfi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda,jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Chirzin
Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. adalah guru besar Tafsir Al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Tim Revisi Terjemah al-Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an) Badan Litbang Kementrian Agama RI.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals