Islam Menjunjung Harkat dan Martabat Perempuan Melalui Risalah Kenabian Muhammad saw.

Setiap tanggal 8 Maret diperingati hari perempuan internasional atau international women's day.


indowarta.com

Setiap tanggal 8 Maret diperingati hari perempuan internasional atau international women’s day. Hal ini diperingati karena mengingat sejarah perjuangan perempuan di Amerika Serikat dalam memperjuangkan hak-haknya akan rendahnya upah dan lingkungan kerja yang tidak manusiawi.

Mereka ini adalah perempuan pekerja di perusahaaan garmen pasa 8 Maret tahun 1857. Dengan demikian, peringatan tersebut merupakan bagian dari upaya memberdayakan perempuan atas segala hak-haknya sebagaimana halnya dengan kaum laki-laki.

Kesetaraan gender merupakan isu utama yang menjadikan perempuan untuk maju di era kekinian. Hal ini disebabkan masih banyaknya perempuan yang menjadi beban dalam pembangunan.

Sehingga perempuan seringkali dialamatkan sebagai  sosok yang tertinggal dan terbelakang. Dengan demikian, melalui pemberdayaan perempuan inilah diharapkan sosok dan kehadirannya dapat menjadi pendukung dan penyokong kemajuan suatu bangsa dan negara.

Muhammad saw. sebagai seorang utusan Allah swt. menjadikan perubahan mendasar bagi kemanusiaan. Hal ini setidaknya dapat dilihat praktek-praktek yang terjadi di masyarakat yang jauh dari ketidakadilan secara kemanusiaan. Hal inilah menjadikan Muhammad saw. sebagai seorang pahlawan dalam menjadikan masyarakat yang beradab.

Jahiliyah adalah sebuyan atas praktek inilah. Sehingga menjadikan perilaku masyarakat semakin baik. Dengan demikian, kelahiran Muhammad saw. inilah menjadikan Islam sebagai sebuah pengubah tradisi yang kurang baik.

Sejarah panjang kehadiran perempuan dalam sejarahnya menjadikan perempuan sosok yang terhinakan. Hal inilah yang menjadikan perempuan sosok kehadirannya tidak diinginkan. Mereka ini dikubur hidup-hidup.

Kenyataan ini direkam dalam QS. al-Nahl (16) : 57-59 dan al-Takwir (81): 8-9. Masa kelam inilah yang  menjadikan Islam lahir dengan Muhammad saw. membawa pesan perubahan untuk kemanusiaan dan jagad alam semesta.

Hak-hak atas waris perempuan juga dihargai dalam Islam. Hal ini membedakan fenomena sebelum Islam bahwa perempuan tidak mendapatkan hak tersebut. Q.S. al-Nisa’ (4): 11. Dengan dasar itulah, Islam menjadi agama pertama yang menghargai hak atas perempuan tentang kewarisan ini.

Islam sebagai agama membawa rahmat menjadikan perempuan dapat hidup dan memiliki kemampuan yang sama. Hal ini setidaknya dalam berbagai hal baik peribadatan maupun pekerjaan. Dengan pola cara inilah Islam memberikan martabat yang sama antara laki-laki dan perempuan.

Secara sosial peran perempuan dan laki-laki dalam ajaran Islam memiliki kesamaan dalam perannya. Hanya peran tertentu yang kodrati seperti menstruasi, hamil, dan menyusui tidak dapat ditukarkan dalam hal ini.

Namun, peran atas hal yang terkait dengan perempuan dapat digantikan dengan laki-laki dalam kehidupan rumah tangga. Kenyataan ini seperti menjadikan hubungan yang baik antara laki-laki dan perempuan berjalan dengan baik. Dengan demikian, melalui rumah tangga sosok perempuan dan laki-laki menjadi mitra sejajar di antara mereka.

Sebagai jenis kelamin inilah perempuan menjadi pihak yang rentan atas segala penyakit yang mematikan. Setidaknya sebagaimana riset Irwan Abdullah bahwa melalui menstruasi dan rahim perempuan memiliki penyakit yang berbahaya dan mematikan.

Proses yang terkait erat kepemilikan yang khas dalam jenis kelamin inilah menjadkan  perempuan menjadi pihak yang lemah.  Dengan demikian, secara kodrati dan sosial perlu melakukan keberpihakan atasnya untuk menjadikan harkat dan martabatnya semakin baik.

Kenyataan di atas didukung banyaknya korban atas perempuan yang diakibatkan atasnya. Hal inilah diperlukan upaya yang serius berbagai pihak untuk meminimalisir korban di atas.

Secara sosial dan individu seorang yang berdekatan dengan perempuan harus menjadikan mereka sebagai pihak yang diuntungkan dengan beragam kegiatan yang baik. Dengan demikian menjadikan perempuan sebagai sebuah bagian dari kebaikan bersama menjadi tujuan utama dalam hal ini.

Kemajuan Islam dalam meningkatkan martabat perempuan terkadang tereduksi dengan konsep poligami. Serangan beragam pendapat inilah yang sering dialamatkan kepada Nabi Muhammad saw. Hal inilah yang menjadikan Islam dianggap menjadi tidak ramah kepada perempuan.

Namun, jika hal ini dianggap sebagai sebuah perubahan besar dalam sejarah pada zaman dahulu merupakan lompatan yang dahsyat. Pada masa tersebut seorang dapat memiliki isteri lebih dari satu bahkan sampai delapan dan lebih dari itu. Kenyataan inilah yang menjadikan isu ini tetap ada sampai sekarang. Dengan demikian, image negatif tersebut dibangun bukan pada perubahan besar yang terjadi di zamannya.

Kenyataan di atas seharusnya dipahami dengan prinsip dasar dalam perkawinan sebagaimana lanjutan ayat yang diklaim sebagai yang memperbolehkan praktek poligami. Hal ini dikaitkan dengan keadilan yang menjadi ide pokok dalam persoalan perkawinan dengan lebih dari satu ini.

Dalam ayat lain dijelaskan bahwa tidak mungkin seorang berlaku adil di antara beberapa isteri yang dipunyai walaupun ingin melakukannya. Oleh karenanya prinsip inilah yang ditinggalkan oleh mereka yang berencana melakukan tindakan ini. Dengan demikian, secara historis dan prinsip keadilan dalam Islam menjadikan praktek ini tidak ditemukan.

Perbudakan merupakan isu lain atas Islam yang negatif. Hal ini setidaknya beragam pendapat yang menganggap praktek tersebut menjadikan Islam kejam dan tidak manusiawi. Hal inilah yang sering dibidik jika menelanjangi Islam. Namun, jika praktek tersebut dijadikan Islam sebagai sebuah melegalkan praktek tersebut tidaklah benar. Islam bertahap meminimalisir adanya praktek tersebut.

Secara nyata dan fakta historis banyaknya praktek ini sejak zaman jauh sebelum Islam datang seperti zaman Yunani, Mesir dan sebagainya. Hal inilah senyatanya Islam memiliki konsep menegaskan  pengentasan masalah ini. Dengan demikian, persoalan perbudakan inilah Islam selangkah lebih maju dalam mengentaskannya.

Fenomena di atas merupakan sebuah perubahan besar pada zamannya. Hal ini juga didukung pernyayaan Syed Ameer Ali dalam bukunya The Spirit of Islam yang menunjukkan kemajuan hal ini.

Setidaknya tema-tema perbudakan dan poligami. Keduanya merupakan sebuah lompatan besar dalam sejarah kemanusiaan. Dengan demikian, Islam mengangkat perempuan sebagai pihak yang diberdayakan dari sistem yang ada pada masa tersebut.

Risalah kenabian Muhammad saw. sebagaimana tergambar di atas menjadikan pujian dari beragam kalangan. Hal ini setidaknya menempatkan sosok Muhammad sebagai orang pertama yang berpengaruh di dunia.

Pengakuan ini setidaknya atas dasar beragam isu yang terentaskan di atas sehingga nilai kemanusiaan dapat ditegakkan dengan baik. Dengan demikian, Islam yang dibawa oleh Muhammad merupakan bagian dalam menegakkan kehidupan manusia yang paripurna.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Alfatih Suryadilaga

Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag. M.Ag. merupakan Asosiate Professor dalam Matakuliah Hadis di Prodi Ilmu Hadis Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang menjabat sebagai Kaprodi Ilmu Hadis dan Ketua Asosasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA). Selain itu, sebagai Ketua Yayasan Pondok Pesantren al-Amin Lamongan Jawa Timur. Karya tulisan bisa dilihat  https://scholar.google.co.id/citations?user=JZMT7NkAAAAJ&hl=id.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals