Rekonstruksi Tafsir Muhammad Abid Al-Jabiri

Adanya hubungan antara misi dakwah Nabi Muhammad Saw. dengan Al-Qur’an mendorong al-Jabiri untuk mengeksplorasi hubungan tersebut


Al-Jabiri merupakan seorang tokoh spesialis epistemologi Bangsa Arab asal Maroko Tenggara kelahiran 27 Desember 1935. Selain itu, Beliau juga pernah berkecimpung dalam dunia perpolitikan hingga dari politik pula ia dijebloskan ke penjara pada bulan Juli tahun 1964, karena ia dituduh berkonspirasi melawan Negara melalui partai Istiqlal.

Pada tahun yang sama beliau keluar dari penjara dan memulai berkelana dalam dunia pendidikan secara serius, namun sebelum ia dipenjara pada tahun 1959 ia sempat mengenyam pendidikan di Universitas Damaskus, pada bidang filsafat. Dan kebetulan saat sedang bergulat dengan dinamika pemikiran intelektual, dunia Arab sedang mengalami goncangan-goncangan identitas atas pelbagai persoalan-persoalan yang dimunculkan oleh kaum modernis. Dengan latar belakang inilah al-Jabiri hadir dengan membawa pemikirannya untuk memberikan solusi atas kesenjangan antara tradisi dan modernitas.[1]

Pada awal pemikirannya secara khusus Al-Jabiri mengkritik permasalahan formasi nalar Arab al-Jabiri yang pada kesimpulannya beliau membagi pada tiga klasifikasi epistemologi: bayani, burhani, dan ‘irfani. Adapun kritik struktur nalar Arab diarahkan pada tiga unsur: kritik nalar epistemologi, kritik nalar politik, dan kritik nalar akhlak. Hal tersebut bisa kita lihat pada beberapa kitab karya beliau, semisal: Takwin al-‘Aql al-Arabi (Formasi Nalar Arab) mulai terbit tahun 1984 M dan sebagainya. Tidak berhenti pada satu permasalahan, pada kesempatan lain beliau juga memperhatikan masalah kajian Al-Qur’an yang menjadi objek utamanya.

Salah satu pemikirannya adalah mengenai redefenisi Al-Qur’an, dalam mendefinisi ulang Al-Qur’an, beliau mengutip definisi Al-Qur’an dari ulama klasik terdahulu. Semisal, Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril, tertulis dalam mushaf, diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas, membacanya dinilai ibadah. Tetapi secara khusus, menurut beliau, bahwa definisi demikian memuat tujuan-tujuan yang dogmatis dan ideologis.

Hingga beliau sampai pada kesimpulan bahwa Al-Qur’an, lebih dari definisi di atas, adalah nash yang mengalami beberapa fase yang terbentuk pada masa dakwah Nabi selama kurang lebih dua puluh tiga tahun, sejak pertama kali Nabi menerima wahyu dan menyampaikannya kepada umat manusia hingga Nabi meninggal.[2] Dari kesadaran adanya hubungan antara misi dakwah Nabi Muhammad dengan Al-Qur’an mendorong al-Jabiri untuk mengeksplorasi hubungan tersebut.

Oleh karena itu, menurut al-Jabiri bahwa metode yang paling tepat untuk memahami hal tersebut adalah menggunakan susunan Al-Qur’an berdasarkan tartib nuzuli yang tidak lain tujuannya adalah untuk menjadikan Al-Qur’an kontemporer untuk dirinya sendiri, dan kontemporer untuk masa kekinian.

Dalam bukunya yang berjudul Nahnu wa at-Turats, Al-Jabiri menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut, antara lain: membersihkan Al-Qur’an dari selubung ideologi, pembacaan yang objektif[3] dan pembacaan yang berkelanjutan. Yang pertama, mengenai membebaskan Al-Qur’an dari kepentingan ideologi karena kita tahu bersama bahwa pemaknaan Al-Qur’an dari tafsir tidak luput dari yang namanya kepentingan mufassir pada masanya, bisa berbentuk ideologi, kemudian kepentingan antar golongan dan lain sebagainya.

Kedua, pembacaan objektif, metode ini dapat dicapai dengan cara yang disebut oleh al-Jabiri sebagai (القارئُ عن المقرؤ  فصل) yang artinya seorang pembaca harus melepaskan diri dari pengaruh objek-terbaca. Ada beberapa langkah yang dapat memperkuat pemaknaan objektif terhadap Al-Qur’an, yakni pendekatan struktural, analisis historis, dan kritik ideologi.

Setelah melalui pemaknaan yang objektif, langkah yang selanjutnya adalah pembacaan lanjutan, melaui langkah ini diharapkan teks menjadi kontemporer untuk pembaca. Di sinilah diperlukan pembacaan yang berkelanjutan (الاستمرارية) di mana seorang pembaca harus berhubungan secara berkelanjutan dengan makna obyektif dengan menjadikan kekinian kita sebagai pijakan.[4]

Ketiga langkah di atas harus disinergikan secara seimbang agar pembacaan terhadap teks Al-Qur’an mendapatkan pemahaman dan manfaat yang berarti untuk kehidupan sekarang, tanpa harus melemparkan teks tersebut jauh dari dirinya (لنفسه معاصرا) dan tidak “terpengaruh” oleh ideologi para mufassir masa lalu. Agar kita sebagai pembaca mampu mendapatkan keotentikan Al-Qur’an sebagai teks murni dan dapat dibumikan di era kekinian inilah yang biasa kita sebut al-Qur’an sholih likulli zaman wa makan. ***

[1]Said Ali Setyawan, “Metodologi Penafsiran Tartib Nuzuli al-Jabiri” dalam Jurnal Farabi Volume 13 Nomor 1 Juni 2016, hlm 139-140

[2]Aksin Wijaya, Nalar Kritis Epistemologi Islam (Ponorogo: KKP (KomunitasKajian Proliman), 2012), hlm. 189.

[3]Muhammad Abid al-Jabiri, Nahn wa al-Turas: Qiraah Muashirah fii
Turaatsina al-Falsafi, hlm. 21.

[4]Muhammad Abid al-Jabiri, Nahn wa al-Turas: Qiraah Muashirah fii
Turaatsina al-Falsafi, hlm. 25.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Andy Rosyidin

Andy Rosyidin adalah alumnus MIN 5 Buleleng,  MTsN Patas,  MA Nurul Jadid Paiton Probolinggo Program Keagamaan angkatan 21(el-fuady)  dan saat ini tengah menempuh S1 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir. Penulis asal Penyabangan,  Gerokgak, Buleleng, Bali ini adalah mahasiswa yang sering bergelut dengan dunia kepenulisan terutama Essay dan Paper. Saat ini menetap di Ponpes LSQ Ar-Rahmah Bantul Yogyakarta. Bisa dihubungi melalui Email: [email protected] dan No Hp: 081238128430

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals