Kesalahan-kesalahan Para Filosof Menurut Al-Ghazali

"..dalam bukunya The Incoherence of the philosophers (Tahafut al-Falasifah), Al-Ghazali membentangkan dua puluh pernyataan yang ia coba buktikan kesalahannya.."


Al-Ghazali merupakan tokoh penentang dan penyanggah falsafah yang paling brilian. Oliver Leaman dalam Pengantar Filsafat Islam menulis bahwa Al-Ghazali seringkali menyerang para filosof dengan dasar argumen yang mereka pergunakan sendiri, sambil menyampaikan pendapatnya secara filosofis dengan menyatakan bahwa tesis-tesis utama mereka adalah tidak benar dilihat dari sudut-sudut dasar logika itu sendiri.

Sebagai contoh, dalam bukunya The Incoherence of the philosophers (Tahafut al-Falasifah), Al-Ghazali membentangkan dua puluh pernyataan yang ia coba buktikan kesalahannya.

Dalam Tahafut al Falasifah, Imam Ghazali mengatakan bahwa para filosof telah banyak mengungkapkan argumentasi yang bertentangan dengan Al Qur’an sehingga dia menganggap para filusuf telah mengingkari Al Qur’an bahkan Imam Ghozali mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang kafir.

Adapun hal-hal yang dilanggar oleh para filsuf menurut Al Ghazali ada 20 persoalan yaitu 16 dalam bidang metafisika dan 4 dibidang fisika namun dari 20 hal itu 17 hal digolongkan dalam Ahl al-Bida’ dan berkenaan dengan 3 hal lainnya para filusuf dikatakan sebagai orang kafir.

Perincian 20 persoalan di atas adalah sebagai berikut :

  1. Alam qadim
  2. Keabadian alam, masa dan gerak
  3. Konsep Tuhan sebagai pencipta alam dan bahwa alam adalah produk ciptaan-Nya; uangkapan ini bersifat metaforis (Tuhan sebagai pencipta bukan penggerak)
  4. Demonstrasi/pembuktian eksistensi Penciptaan alam (pembuktian tentang penciptaan alam)
  5. Argumen rasional bahwa Tuhan itu satu dan tidak mungkin pengandaian dua wajib al wujud (mereka melakukan pengandaian dalam memberikan argomentasi)
  6. Penolakan akan sifat-sifat Tuhan.
  7. Kemustahilan konsep genus (jins) kepada Tuhan.(allah terbagi kedalam al-jin)
  8. Wujud Tuhan adalah wujud yang sederhana, wujud murni, tanpa kuiditas atau esensi.
  9. Argumen rasional bahwa Tuhan bukan tubuh
  10. Argumen rasional tentang sebab dan Pencipta alam. Tidak ada perubahan yang ada hanyalah penciptaan
  11. Pengetahuan Tuhan tentang selain diri-Nya dan Tuhan mengetahui species dan secara universal.
  12. Pembuktian bahwa Tuhan mengetahui diri-Nya sendiri
  13. Tuhan tidak mengetahui perincian segala sesuatu (juziyyat) melainkan secara umum.
  14. Langit adalah mahluk hidup dan mematuhi Tuhan dengan gerak putarnya. (bergerak dengan kemauanya)
  15. Tujuan yang menggerakkan?
  16. Jiwa-jiwa langit mengetahui partikular-partikular yang bermula?
  17. Kemustahilan perpisahan dari sebab alami peristiwa-peristiwa
  18. Jiwa manusia adalah substansi spiritual yang ada dengan sendirinya, tidak menempati ruang, tidak terpateri pada tubuh dan bukan tubuh.
  19. Jiwa manusia setelah terwujud tidak dapat hancur, dan watak keabadiannya membuatnya mustahil bagi kita membayangkan kehancurannya (tidak mungkin hancur).
  20. Penolakan terhadap kebangkitan Jasmani.

Tujuh belas di antaranya menimbulkan bid’ah karena dianggap menyimpang dari ajaran yang asli, yakni Alquran. Dan, tiga di antaranya benar-benar membuktikan apa yang ia kategorikan sebagai orang yang kafir, bahkan dengan tuduhan yang lebih berat lagi.

Tiga hal tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Tentang Qidamnya Alam

Al-Ghazali berpendapat bahwa pemikiran para filosof tentang metafisika bertentangan dengan ajaran Islam. Untuk itu, ia mengecam secara langsung dua tokoh Neo-Paltonisme muslim, Ibnu Sina dan Al-Farabi dalam masalah alam tidak bermula (qadim), Tuhan tidak mengetahui perincian sesuatu yang bersifat partikular dan tidak adanya kebankitan jasmani.

Di kalangan pemikir Yunani seperti Aristoteles, alam adalah qadim dalam arti kata tidak ada awalnya. Paham ini juga dianut para filosof muslim seperti Ibnu Sina dan Al Farabi. Mereka membuat beberapa alasan yaitu: pertama, Mustahil secara mutlak yang baharu muncul dari yang qadim dan kedua, Tuhan lebih dahulu daripada alam.

Tentang penciptaan alam, Al-Ghazali mempunyai konsep yang sangat berbeda dari konsepsi yang dimiliki para filosof Muslim. Para filosof Muslim, diwakili oleh Ibnu Sina dan al-Farabi, berpendapat bahwa alam itu azali, atau qadim, yakni tidak bermula dan tidak pernah ada. Sementara itu, Al-Ghazali berpikir sebaliknya.

Al-Ghazali menegaskan bahwa alam semesta ini adalah ciptaan tuhan dan oleh karena itu alam semesta ini bersifat baru al-Ghazali membedakan tuhan dengan alam semesta yaitu dengn keqadimanya dan kebaruan alam, oleh sebab itu wujud tuhan yang qodim menjadi sebab bagi wijud yang baru, dan sesuatu yang baru membutuhkan terhadap sesuatu yang menjadikannya.

Bagi Al-Ghazali, bila alam itu dikatakan qadim, mustahil dapat dibayangkan bahwa alam itu diciptakan oleh Tuhan. Jadi paham qadim-nya alam membawa kepada simpulan bahwa alam itu ada dengan sendirinya, tidak diciptakan Tuhan. Dan, ini berarti bertentangan dengan ajaran Alquran yang jelas menyatakan bahwa Tuhanlah yang menciptakan segenap alam (langit, bumi, dan segala isinya).

Bagi Al-Ghazali, alam haruslah tidak qadim dan ini berarti pada awalnya Tuhan ada, sedangkan alam tidak ada, kemudian Tuhan menciptakan alam, alam ada di samping adanya Tuhan.

Sebaliknya, bagi para filosof Muslim, paham bahwa alam itu qadim sedikit pun tidak dipahami mereka sebagai alam yang ada dengan sendirinya. Menurut mereka, alam itu qadim justru karena Tuhan menciptakannya sejak azali/qadim. Bagi mereka, mustahil Tuhan ada sendiri tanpa mencipta pada awalnya, kemudian baru menciptakan alam.

Gambaran bahwa pada awalnya Tuhan tidak mencipta, kemudian baru menciptakan alam, menurut para filosof Muslim, menunjukkan berubahnya Tuhan.

Tuhan, menurut mereka, mustahil berubah, dan oleh sebab itu mustahil pula Tuhan berubah dari pada awalnya tidak atau belum mencipta, kemudian mencipta. Luar, karena kehendak sendiri itulah yang menjadi sumber dari pembedaan itu, tuhan memilih saat tertentu bagi penciptaan alam semesta, tidak ada cara dalam menjelaskan pilihan tuhan dalam hal apapun.

Al-Ghazali menjawab alasan-alasan para filosof tersebut dengan membedakan antara iradat yang qadim dengan apa yang dikehendakinya. Kehendak Allah yang azali adalah mutlak, artinya bisa memilih sewaktu-waktu tertentu, bukan waktu lainnya, tanpa ditanyakan sebabnya karena sebab tersebut adalah kehendakNya sendiri. Kalau masih ditanya sebabnya, maka artinya kehendak Tuhan itu terbatas tidak lagi bebas.

Tuhan lebih dahulu daripada alam bukan dari segi zaman melainkan dari segi zat, seperti terdahulunya bilangan satu dari dua, atau dari segi kausalitasnya, seperti dahulunya gerakan seseorang atas gerakan bayangannya, sedang gerakan tersebut sebenarnya sama-sama mulai dan sama-sama berhenti, artinya sama dari segi zaman.

Berarti Tuhan lebih dahulu daripada alam dan zaman, dari segi zaman, bukan dari segi zat, maka artinya sebelum wujud alam dan zaman tersebut, sudah terdapat suatu zaman dimana (tidak ada) murni terdapat didalamnya sebagai hal yang mendahului wujud alam.

Mengenai pandangan yang keliru dari para filosof ini, Al-Ghazali mengungkapkan pendapatnya sebagaimana ia paparkan dalam bukunya yang berjudul Munqidh min adh-Dhalal bahwa “kekeliruan para filosof terdapat dalam ilmu-ilmu metafisik. Karena ternyata mereka tidak dapat memberikan bukti-bukti yang pasti menurut persyaratan yang mereka perkirakan ada dalam logika.

Maka, dalam banyak hal mereka berbeda pendapat dalam persoalan-persoalan metafisik. Ajaran Aristoteles tentang masalah-masalah ini, sebagaimana yang dilansir oleh Farabi dan Ibnu Sina, mendekati inti pokok ajaran filsafat Islam”.

  1. Tentang Pengetahuan Tuhan

Mengenai pengetahuan Tuhan, para filosof berpendapat bahwa Tuhan tidak mengetahui hal-hal kecil kecuali yang dengan cara kulliy. Dengan alasan yang baru ini dengan segala peristiwanya selalu berubah, sedangkan ilmu selalu bergantung kepada yang diketahui atau dengan kata lain perubahan perkara yang diketahui menyebabkan perubahan ilmu. Kalau ilmu berubah, yaitu dari tahu menjadi tidak tahu, atau sebaliknya berarti Tuhan mengalami perubahan, sedangkan perubahan pada zat Tuhan tidak mungkin terjadi.

Misalnya pada peristiwa gerhana matahari, sedangkan sebelumnya tidak gerhana dan gerhana akan hilang. Sebelumnya kita mengetahui gerhana itu tidak ada dan ketika terjadi gerhana pengetahuan kita berubah jadi mengetahui adanya gerhana, lalu ketika gerhana berlalu, pengetahuan kita berubah jadi mengetahui tidak ada gerhana lagi. Dari contoh ini bisa menunjukkan pengetahuan yang satu bisa menggantikan pengetahuan yang lain.

Tuhan mengetahui gerhana dengan segala sifat-sifatNya, pengetahuan yang azali, abadi dan tidak berubah-ubah seperti hukum alam yang menguasai terjadinya gerhana. Jadi Ilmu Tuhan mengetahui sejak azali karena sebab-sebab yang ditimbulkan oleh sebab-sebab lain yang sifatnya juz’i.

Menurut Al-Ghazali, Ilmu adalah suatu tambahan atau pertalian dengan zat, artinya lain dari zat. Kalau terjadi perubahan pada tambahan tersebut, maka zat Tuhan tetap dalam keadaan-Nya yang biasa, sebagaimana halnya kalau ada yang berdiri di sebelah kanan kita kemudian ia berpindah ke sebelah kiri kita, maka sebenarnya yang berubah adalah kita bukan Dia.

  1. Tentang Bangkitnya Jasmani

Para filosof berkeyakinan bahwa alam akhirat adalah alam keruhanian, bukan materil. Karena perkara keruhanian lebih tinggi nilainya daripada alam materil. Karena itu pikiran tidaklah mengharuskan adanya kebangkitan jasmani, surga atau neraka serta segala isinya.

Pada intinya menurut mereka mustahil manusia dibangkitkan kembali dengan jasad yang semula, sebab jasad tersebut telah hancur dan terurai menjadi bahan makanan dan menjadi bagian dari tubuh makhluk lain seperti hewan, tumbuhan atau bahkan manusia lainnya.

Ada dua puluh pemikiran filosof yang disanggah oleh Imam Ghozali. Dari kedua puluh pemikiran tersebut ada tiga masalah yang dianggap menjadikan seseorang dianggap kafir. Yakni masalah keazalian alam, masalah tentang Allah yang tidak mengetahui partikular yang tercipta dari individu-individu dan pengingkaran terhadap kebangkitan raga.

Kendati demikian, Imam Ghozali menegaskan bahwa dia tidak ingin terlibat dalam pengkafiran serta menilai mana yang benar dan mana yang salah agar pembahasan tentang dua puluh pemikiran para filosof tidak menyimpang.

Dalam rangka menangkis serangan Al-Ghazali terhadap paham qadim-nya alam, Ibnu Rusyd menegaskan bahwa paham itu tidak bertentangan dengan ajaran Alquran. Bahkan sebaliknya, pendapat para teolog yang mengatakan bahwa alam diciptakan Tuhan dari tiada, justru tidak mempunyai dasar dalam Alquran.

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
4
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
4
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Rizal Mubit

Rizal Mubit, S.HI., M.Ag. adalah Peneliti Farabi Institute dan dosen di Institut Keislaman Abdullah Faqih Gresik. Ia telah menulis sejumlah buku bertema keislaman.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals