Berdakwahlah dengan Sikap!

Agama bukan oral tapi moral kehidupan, sehingga ajaran agama begitu mudah diterima dan diamalkan tanpa perpecahan.


Menyeru orang untuk berbuat baik merupakan kewajiban setiap manusia. Berdakwah melalui mimbar pengajian merupakan cara yang efektif dan sudah dilakukan secara turun temurun oleh para pelaku dakwah untuk menyampaikan seruan agama. Dakwah zaman dulu cenderung konvensional karena tidak didukung oleh teknologi. Dakwah tanpa publikasi dan bayaran. Ikhlas menyebarkan ilmu benar-benar untuk mengajak kebaikan.

Di era media sosial seperti sekarang ini, dakwah bisa diakses oleh siapapun dan kapanpun. Tim kreatif holic sang juru dakwah dapat mengunggah setiap sesi dakwah di media sosial seperti Youtube, Facebook dan Whatshap. Konten dakwah pun bisa diakses di mana saja dan kapanpun. Para juru dakwah dengan kecerdasan dan retorikanya dapat mengurai berbagai permasalahan agama yang disertai dengan dalil-dalil agama yang begitu hafal, fasih dan meyakinkan.

Masyarakat pun dengan cepat bisa mengenal sosok sang juru dakwah, walaupun tidak bertatap muka secara langsung. Pendakwah punya ratusan bahkan jutaan follower di media sosial yang turut serta mendokrak popularitasnya. Para pendakwah dengan wawasan agama luas yang dilatarbelakangi oleh berbagai ideologi, menjadi fenomena tersendiri, para juru dakwah di Indonesia.

Berbekal pemahaman agama dari sumber sahih yang diyakini kebenarannya, para juru dakwah begitu lantang berdakwah tanpa melihat keanekaragaman ideologi yang ada di masyarakat. Dengan mengedepankan pemahamannya sendiri, para juru dakwah mendoktrin jamaahnya untuk taklid padanya. Perbedaan pandangan di kalangan para juru dakwah pun menyebarluas, sehingga lontaran sanjungan, kritikan bahkan hujatan dan cemoohan pun terjadi di kolom comment media sosial.

Loading...

Mereka disanjung karena satu kesepahaman dengan dirinya, mereka dihujat dan dikritik karena dianggap berseberangan dengan pemahaman golongannya. Orang tanpa ilmu dan etika membabibuta melalui tulisan komentarnya. Media dakwah seharusnya menjadi media membawa kebaikan dan rahmat berubah menjadi media ujaran kebencian.

Setiap pendakwah punya jamaah fanatik sendiri, sehingga keberadaannya begitu eksklusif. Sang juru dakwah zaman now berbeda dengan juru dakwah zaman old seperti Walisongo misalanya. Para Walisongo bisa diterima oleh semua kalangan masyarakat, dengan modal dakwah yang konvensional dan kuno, hanya lewat halaqoh-halaqoh dan sikapnya yang “menabi”, mampu menarik orang untuk menjalankan ajaran agama.

Islam besar bukan karena lantangnya sang Nabi menyampaikan dakwahnya yang keras dari mimbar-mimbar pengajian, tetapi Islam besar dan bisa diterima oleh masyarakat karena sikap sang Nabi. Sang Nabi mengajarkan agama dengan bijak dan santun tanpa mendoktrin tetapi menuntun. Dalam riwayat dikabarkan, suatu ketika sang Nabi melihat orang Baduy yang kencing di tempat suci yaitu Masjid, sang Nabi tidak menghardiknya tapi sang Nabi mengambil segayung air kemudian membersihkan air kencing orang Baduy tersebut. Dakwah Nabi hanya dengan sikap tersebut orang Baduy langsung masuk Islam.

Sikapnya yang rendah hati, toleran, dan bersahaja, sehingga ajaran agama begitu menyentuh hati. Sikap yang bijak mampu membius orang untuk menjalankan ajaran Islam. Perjalanan dakwah sang Nabi ditiru oleh sang Wali. Walisongo mampu mengislamkan Indonesia bukan dari mimbar-mimbar pengajian tapi dari sikap-sikap yang begitu indah.

Kedekatannya bersama masyarakat, dakwah sang Wali bisa diterima oleh semua kalangan baik itu, petani, buruh, pedagang sampai penguasa sekalipun. Halaqah mimbar pengajian hanya sebagian kecil dari metode dakwah sang Wali, tetapi karena sikapnyalah, Islam bisa membumi di Nusantara.

Ajaran agama yang diimplementasikan dalam bentuk sikap, ternyata jauh lebih berhasil dari pada ajaran melalui mimbar. Agama bukan oral tapi moral kehidupan, sehingga ajaran agama begitu mudah diterima dan diamalkan tanpa perpecahan. Masyarakat tidak pernah bingung dengan ajaran agama yang disampaikan sang Wali karena dibungkus oleh kecintaan bukan kebencian.

Agama bukan hanya berbicara masalah benar dan salah, karena kalau agama hanya berkutat pada masalah benar dan salah maka pada akhirnya akan saling menyalahkan atas nama agama. Sebagian Para juru dakwah mempunyai pemahaman yang dianggap paling benar dan sahih menurut dirinya sendiri, sehingga dengan mudah menyalahkan orang lain. Masih banyak ajaran agama yang bisa dikaji selain mengkaji benar dan salah. Kebenaran hanya milik Allah SWT, bukan milik manusia.

Berdakwah harus mengedepankan persamaan bukan perbedaan. Seorang juru dakwah jangan menganggap bahwa, ketika berbeda dengan orang lain dan mencari pembenaran yang sahih akan dianggap yang paling hebat dalam ilmunya. Mencari-cari perbedaan pandangan hanya menguras energi karena perbedaan pandangan dalam masalah agama sudah dididkusikan oleh para ulama terdahulu.

Perbedaan adalah rahmat, maka sampaikanlah ajaran agama dengan melihat persamaan, karena dengan persamaan akan muncul kebersamaan sehingga terhindar dari perpecahan. Berdakwah untuk menyampaikan kebaikan bukan untuk menyampaikan ujaran kebencian. Sikap yang baik di masyarakat merupakan media dakwah yang sangat luar biasa. Walahua’lam.

Loading...

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
1
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
3
Wooow
Keren Keren
4
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Hakiman

HAKIMAN. SPd.I, MP.d. Dosen PAI FITK IAIN Surakarta.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals