Meneguhkan Melayu di Abad Milenial

Orang Melayu punya masa lalu, selayaknya pula orang Melayu mesti punya masa kini dan masa depan. Takkan Melayu Hilang di Bumi.


Dua dasawarsa terakhir, dunia mengalami perkembangan teknologi informasi yang relatif pesat. Jika dulu orang harus berjalan jauh untuk mengakses informasi tertentu, saat ini dunia ada dalam genggaman. Seseorang bisa mengetahui banyak hal dalam waktu singkat, cukup dengan menggunakan sebuah alat bernama smartphone. Sebagian orang mengatakan bahwa ini adalah era posmodern, sebagian lagi mengatakan era industri 4.0, sementara sebagian lainnya mengatakan era disrupsi, bahkan tak sedikit yang menyebut saat ini dengan era milenial.

Apa itu milenial? Istilah milenial awalnya merupakan suatu istilah yang dipopulerkan oleh sejarawan Amerika bernama William Strauss dan Neil Howe. Penggunaan istilah ini kemudian berkembang luas setelah media-media mainstream menggunakannya pada beberapa kesempatan. Sebenarnya belum ada kategorisasi demografi yang khusus membatasi istilah ini secara spesifik, akan tetapi secara umum cohort milenial dikatakan sebagai generasi yang lahir antara awal 1980 sampai dengan 1995. Generasi ini oleh media dikonstruksikan sebagai pribadi yang memiliki karakter individual, narsistis, ketergantungan tinggi terhadap teknologi (gawai), berpikiran terbuka, ekspresif, bebas secara hakiki, fleksibel, dan penduduk dunia maya. Jika dihitung berdasarkan kronologi usia, generasi milenial saat ini berusia antara 24 sampai dengan 39 tahun. Eranya milenial adalah saat ini hingga sepuluh tahun ke depan, sampai mereka digantikan oleh generasi yang lebih muda.

Apa yang berubah? Berbagai hasil riset dan studi ilmu sosial mengatakan bahwa dampak perkembangan teknologi informasi pada era ini terhadap individu dan masyarakat adalah perubahan yang holistik terutama dari sisi kultural. Perubahan ini menciptakan suatu kondisi seolah masyarakat tercerabut dari budayanya (disruption process), tetapi sebenarnya masyarakat yang meninggalkan budayanya secara sukarela karena nilai-nilai yang ditawarkan oleh limpahan informasi tersebut membuat mereka merasa lebih bahagia dan terlena. Perubahan ini tidak hanya dirasakan oleh generasi muda di mancanegara saja tetapi juga di Nusantara, salah satunya adalah generasi muda Melayu.

Melayu adalah sebutan bagi suku bangsa yang hidup menyebar di sekitar wilayah pesisir Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Filipina, dan Thailand. Dahulu orang-orang Melayu hidup terpisah pulau tetapi disatukan oleh laut. Masuknya pengaruh agama Islam membuat peradaban Melayu menjadi sangat maju, akan tetapi peradaban tersebut mengalami kemunduran ketika kolonialisme menancapkan kuku di bumi Melayu. Apa yang kita lihat ada pada masyarakat Melayu saat ini hanyalah potongan-potongan kecil dari sisa-sisa kejayaan peradaban masa lalu, yang tenggelam oleh waktu karena banyak dari generasi ini tidak lagi memiliki memori akan hal itu. Pertanyaan terbesarnya adalah, dengan kondisi yang ada saat ini bagaimana Melayu akan dapat bertahan di masa yang akan datang.

Menilik Sejarah: Islam sebagai Kearifan Orang Melayu

Setiap suku bangsa seyogyanya memiliki kearifan atau local wisdom yang lahir dari interaksi mereka dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Kearifan ini lekat erat dengan sistem kepercayaan (belief system) pada suatu etnis sebagai bagian dari tujuh unsur kebudayaan yang dicetuskan oleh Koentjaraningrat, seperti halnya Fanomba Adu pada orang Nias, Kaharingan pada orang Dayak, Pemenah pada suku Karo, dan lain-lain. Setiap masyarakat pada dasarnya memiliki bentuk kearifan yang berbeda-beda sebagai wujud dari tatanan sosial ideal yang sesuai dengan konteksnya. Kearifan ini menjadi referensi spiritual bagi terbentuknya institusi-institusi dalam sistem sosial masyarakat, terutama pada institusi keluarga, ekonomi, pendidikan, politik, dan hukum (adat).

Sebagaimana suku bangsa lainnya, Melayu juga memiliki kearifan tersendiri yang merupakan pengejawantahan dari ajaran Islam. Kearifan ini tidak hanya dipraktikkan sebagai jalan hidup, tetapi juga gaya hidup. Mulai dari cara berpakaian, berperilaku, ibadah, cara bertutur, pola berdagang, kesenian, sampai dengan politik dan bentuk pemerintahan (kesultanan). Semuanya berlandaskan atas asas keislaman yang bersumber dari Al-Quran, hadis, dan ijmak ulama. Inilah yang sebenarnya menjadi khazanah sejati dalam peri kehidupan orang Melayu.

Sejarah membuktikan bahwa kejayaan Islam di masa lalu adalah abad-abad keemasan bagi Melayu, sedangkan kejatuhan Islam karena kolonialisme dan proses sosial lain yang terjadi dalam rentang sejarah setelahnya adalah kemunduran total bagi peradaban Melayu. Wajar jika kita tidak menyadarinya, sebab selama kurang lebih 350 tahun penjajahan di bumi Nusantara pengetahuan dari masa lalu tersebut tidak tersampaikan selama 17 generasi. Orang Melayu yang dulu disatukan oleh lautan, hidup terkekang menjadi orang pulau yang terbelakang. Beragam literatur karya para cendekiawanhilang entah kemana, yang tersisa hanyalah tradisi lisan yang disampaikan dari generasi ke generasi dan sangat terbatas oleh kemampuan imajinasi. Akibatnya ketika Nusantara bebas dari penjajahan, kita seolah memulai semuanya kembali dari titik peradaban yang paling awal bahkan hingga saat ini.

 Aral Melayu di Era Milenial

Pasca kemerdekaan Republik Indonesia, Melayu seolah menjadi suku bangsa yang marjinal. Ada di mana-mana, tersebar di seluruh Nusantara, tapi tidak banyak berperan dalam pembangunan. Ibarat buih di lautan, bahkan hingga sekarang. Apa sebabnya? Karena sebagian besar generasi muda Melayu yang ada saat ini tidak memiliki ghirah sebagai seorang anak Melayu. Mereka seolah tak bangga menjadi anak Melayu, karena memang selama ini yang mereka tahu adalah bahwa Melayu itu seperti yang dikonstruksikan dalam berbagai catatan sejarah yang ditulis oleh para penjajah. Tidak adanya ghirah sebagai anak Melayu menjadikan mereka pribadi-pribadi yang tidak berdaya secara mental dan spiritual. Membangkitkan kembali ghirah inilah yang menjadi tantangan terbesar bagi orang Melayu di era milenial. Jika sudah bangkit ghirah-nya, kesadaran terhadap identitas sebagai referensi kultural akan bangkit secara simultan dengan munculnya kesadaran untuk menjadi lebih maju dan berkembang.

Di era ini ada banyak sekali hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kapasitas dan keberdayaan, salah satunya melalui jalur pendidikan. Dengan pendidikan yang layak disertai dengan pemahaman terhadap ajaran Islam, kebangkitan Melayu di era milenial bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan. Sekadar menghidupkan kembali seni budaya dan tradisi orang Melayu di masa lalu tidak akan pernah bisa mengembalikan kejayaan suku bangsa Melayu. Itu hanya menciptakan suatu perasaan romantisme akan mirror image Melayu yang pernah ada, tetapi tidak menghadirkan kembali esensi dari budaya itu sendiri. Khazanah Melayu itu tidak hanya sebatas seni dan tradisinya, tetapi lebih kepada keseluruhan cara hidup yang dipraktikkan berdasarkan asas-asas keislaman.

Sebagai generasi muda Melayu kita harus menyadari bahwa budaya Melayu terjepit di tengah-tengah ekologi pemikiran (ecology of thoughts) yang sangat rumit. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi mengakibatkan dunia seolah tidak berbatas (borderless), seseorang bisa mengakses informasi apapun, kapanpun dan dimanapun, nilai-nilai sosial saling berkontestasi dan saling bercampur satu dengan yang lain, manusia kehilangan kemampuan untuk menilai mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang salah mana yang benar, mana yang wajar dan mana yang tidak wajar. Banyak orang tua yang khawatir tentang bagaimana generasi kita akan menghadapi situasi sosial yang terjadi saat ini, apakah khazanah Melayu yang dulu dipraktikkan oleh para pendahulu masih akan bertahan, berkembang, atau bahkan mati? Hanya waktu yang mampu menjawabnya.

Ketika ditanya tentang wacana untuk merevitalisasi khazanah Melayu yang terdisrupsi, Modalnya apa dan bagaimana? Pertama, Bahasa Melayu masih dipakai di Indonesia secara resmi dan bahasa persatuan. Dalam kajian Antropologi linguistik, bahasa merupakan salah satu media konstruksi budaya. Kedua, ajaran Islam sejak dahulu hingga sekarang tidak berubah, masih tetap berpegang pada Al-Quran, hadis, dan ijmak ulama. Itu saja sudah lebih dari cukup untuk merevitalisasi nilai budaya Melayu menjadi sesuatu yang utuh. Ketiga, Melayu sejak awal memiliki kemampuan resiliensi yang tinggi serta respon yang sangat adaptif terhadap sesuatu yang baru. Sifat dasar Melayu adalah tidak pernah menolak perubahan, pembaharuan, dan kemajuan.

Di masa lalu ketika seseorang ingin hidup di tanah Melayu, ia harus meninggalkan semua identitas lamanya, termasuk suku, marga serta agamanya lalu kemudian memeluk agama Islam dan tunduk pada hukum adat Melayu. Sepanjang itu pula, berbagai macam orang dari penjuru bumi datang dan berikrar di hadapan para Sultan untuk menjadi orang Melayu. Mereka masuk membawa beragam pengetahuan, lalu berasimilasi, membangun suatu konstruksi baru tentang budaya Melayu dan mengembangkannya sampai ke puncak peradaban tertinggi. Ini membuktikan bahwa gerak budaya Melayu adalah perubahan yang sifatnya progresif dan terarah, sebagaimana yang diajarkan dalam Islam. Ini menyadarkan kita bahwa sebenarnya kita tidak perlu mengada-adakan nilai-nilai tertentu untuk merekonstruksi budaya Melayu yang ideal di era milenial, sebab Islam sudah cukup menjadi pondasi dan referensi kearifan bagi masyarakat Melayu di masa lalu, di masa kini, dan di masa yang akan datang.

Mengapa Islam menjadi referensi yang sangat penting? Ada dua alasan: Pertama, karena orang yang telah masuk ke dalam agama Islam diharapkan akan memahami arti dari ukhuwah islamiyah yang menjadi modal sosial (social capital) terbesar yang dimiliki oleh umat Islam; kedua, Islam adalah pagar yang membatasi perubahan sosiokultural dalam proses perkembangan peradaban Melayu pada tataran tertentu. Dalam artian, peradaban Melayu dapat berkembang menjadi seperti apapun sampai batas imajinasi manusia, selama itu masih dalam batas yang diperkenankan oleh ajaran Islam. Prinsip ini masih sangat relevan digunakan untuk mewujudkan ide tentang Melayu yang maju dan berkembang. Seseorang bisa mempelajari apapun yang menurutnya dapat memberi manfaat bagi orang banyak, dan di saat yang bersamaan ia juga memiliki naluri (sense) untuk memilah mana yang baik dan buruk dengan batasan yang telah ditetapkan. Ibarat kata pepatah Melayu, “Ambil baiknya, tinggalkan yang buruk”.

Pada akhirnya, maju mundurnya suatu peradaban sangat ditentukan oleh kualitas generasi yang hidup pada masa itu. Jika dulu peradaban Melayu berkembang pesat, itu semua dikarenakan mereka memiliki banyak generasi unggul di masanya. Generasi yang unggul memiliki akar budaya yang kuat sebagai suatu prinsip dan pedoman hidup yang dipegang teguh. Meski kini peradaban tersebut sebatas memori kolektif yang hanya dimiliki oleh sebagian orang saja, tetapi setidaknya kita tahu bahwa itu pernah terjadi (success story) dan tidak menutup kemungkinan untuk diwujudkan kembali. Orang Melayu punya masa lalu, selayaknya pula orang Melayu punya masa kini dan masa depan. Dengan generasi muda yang kuat sebagai simpul yang menjembatani antara kearifan di masa lalu dengan kearifan di masa kini, “Takkan Melayu hilang di bumi”.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
4
Keren
Terkejut Terkejut
2
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals