Manifestasi Kepercayaan terhadap Hari Akhir di Kehidupan Sosial

Apakah lantas setiap muslim otomatis pasti benar-benar percaya dengan adanya hari akhir tersebut?


alam-semesta
Sumber gambar: Pixhere.com

Allah tidak menghendaki dari manusia kalimat-kalimat yang dituturkan, tetapi yang dikehendaki-Nya adalah karya-karya nyata (Sayyid Quthb)

Apakah hari akhir atau kehidupan setelah kehidupan di dunia ini benar-benar ada? Bagi seorang muslim, sebagaimana penganut agama samawi lainnya, tentu dengan tegas akan mengatakan bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang wajib untuk diyakini.

Jika begitu, apakah lantas setiap muslim otomatis pasti benar-benar percaya dengan adanya hari akhir tersebut? Sekilas tampaknya pasti begitu. Namun untuk memastikannya, seharusnya ada satu pertanyaan penting yang harus dijawab terlebih dahulu: Bagaimanakah manifestasi atau perwujudan dari kepercayaan terhadap hari akhir tersebut menurut standar Al-Quran?

Baca Juga: Kapan Hari Kiamat Terjadi Menurut Al-Qur’an dan Hadis?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari perhatikan pembukaan QS. Al-Mâ’un (107) berikut:

اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِ

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan ad-din?”

Kata “ad-dîn” dalam ayat di atas sangat populer diterjemahkan dengan “agama”, namun, seperti yang dikemukakan oleh M. Quraish Shihab (1996:107), kata tersebut juga dapat bermakna “pembalasan”. Menurutnya, pendapat terakhir tersebut didukung oleh pengamatan yang menunjukkan bahwa ketika Al-Qur’an menggandeng kata  “ad-dîn” dengan kata “yukazzibu” maka konteksnya adalah pengingkaran terhadap adanya hari kiamat.

Hal ini misalnya bisa dilihat dalam QS. Al-Infitâr (82): 9 dan QS. At-Tîn (95): 7. Dengan demikian, ayat di atas dapat diartikan dengan “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan hari pembalasan?” Dalam konteks makna tersebutlah ayat ini sangat relevan dengan pembahasan dan pertanyaan kita di atas.

Menurut sebagian riwayat, QS. Al-Mâ’un di atas turun berkenaan dengan sikap Abu Sufyan atau sebagian menyebut Abu Jahal, yang setiap pekannya menyembelih seekor unta. Suatu hari, ada seorang anak yatim datang kepadanya untuk meminta sedikit makanan dari daging unta yang telah disembelih. Alih-alih memperoleh apa yang diminta, anak yatim tersebut justru mendapatkan hardikan dan diusir.

Sikap enggan untuk memberikan bantuan kepada anak yatim atau orang yang membutuhkan seperti yang terlihat dalam riwayat yang dikomentari oleh Al-Quran tersebut karena mereka menduga tidak ada keuntungan sedikit pun bagi mereka jika mereka mengulurkan tangan mereka bagi orang-orang miskin tersebut.

Dari QS. Al-Mâ’un di atas kita juga seharusnya bisa mendapatkan sebuah penegasan bahwa keimanan akan eksistensi hari akhir bisa dilihat perwujudannya dalam kehidupan sosial. Jadi jelas bahwa seseorang yang berkata bahwa dia percaya dengan hari akhir tersebut tidak cukup menjadi bukti bahwa ia benar-benar percaya sebelum kepercayaan tersebut memberikan perubahan dalam diri dan kehidupan sosialnya.

Terkait hal ini, Sayyid Quthb dalam tafsirnya, Fî Zilâl al-Qur’ân, menuliskan:

“Hakikat pembenaran ad-dîn bukannya ucapan dengan lidah, tetapi ia adalah perubahan dalam jiwa yang mendorong kepada kebaikan dan kebajikan terhadap saudara-saudara sekemanusiaan, terhadap mereka yang membutuhkan pelayanan dan perlindungan. Allah tidak menghendaki dari manusia kalimat-kalimat yang dituturkan, tetapi yang dikehendaki-Nya adalah karya-karya nyata, yang membenarkan (kalimat yang diucapkan itu). Sebab jika tidak, maka itu semua hampa tidak berarti di sisi-Nya dan tidak dipandang-Nya.”

Baca Juga: Diskursus Eskatologi yang Sepi

Artinya, perwujudan keimanan terhadap hari akhir dalam kehidupan sosial bagi seorang mukmin adalah sebuah keharusan dan ia menjelma menjadi jati diri. Selain dalam Al-Quran, tuntutan seorang mukmin tersebut juga dijelaskan dalam banyak hadis Nabi, misalnya sebagaimana yang terlihat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari berikut:

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata benar atau diam. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia menghormati tamunya.” (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah)

Sekilas mungkin apa yang dijelaskan dalam hadis di atas terlihat “sepele”, namun justru dari hal “remeh-temeh” tersebut mengandung nilai yang luhur. Bukankah seorang yang meyakini adanya hari pembalasan idealnya akan selalu menjaga ucapannya karena dia tahu bahwa semua yang dia ucapkan akan ada pertanggungjawabannya di kehidupan akhirat nanti?

“Siapa yang mengerjakan (walau) sebesar zarrah (dari kebaikan), maka dia akan melihat (ganjarannya)” (QS. Al-Zilzal/99: 7)–Demikian juga sebaliknya sebagimana yang terbaca dalam QS. Al-Zilzal/99: 8.

Pun, bukankah seorang yang percaya dengan adanya hari pembalasan akan dengan senang hati berbuat baik kepada sesamanya, termasuk kepada tamunya, meskipun hal tersebut terlihat tidak menguntungkan secara materi karena dia yakin bahwa kebaikannya tersebut merupakan investasi yang akan menyelamatkannya di akhirat kelak?

Orang-orang seperti demikian merupakan kelompok manusia yang benar-benar yakin bahwa pada hari akhir nanti tidak ada yang dapat mengelak, tidak juga ada yang bisa menyembunyikan sesuatu di hadapan pengadilan yang Maha Agung.

Mereka juga meyakini bahwa di kehidupan nanti, di pengadilan Ilahi tersebut, akan diadakan terhadap pribadi mukallaf –siapa pun dan dari mana pun ia berasal:

“Tidak ada satu pun di langit dan di bumi kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang seorang hamba. Sesungguhnya Tuhan telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah dengan sendiri-sendiri.” (QS. Maryam/19: 93-95)

Hal ini pula yang menjadi salah satu bukti bahwa dalam ajaran Islam tidak ada pemisahan antara upacara ritual (ibadah mahdah) dan ibadah sosial, atau membiarkannya berjalan sendiri-sendiri, keduanya bagai dua sisi koin yang tidak dipisah satu dengan yang lainnya.

Mengutip apa yang dikatakan oleh M. Quraish Shihab (1996:108), ajaran ini –sebagaimana terlihat dari QS. Al-Mâ’un di atas –menekankan bahwa ibadah dalam pengertiannya yang sempit sekali pun dalam jiwanya terkandung dimensi sosial. Sehingga jika jiwa ajaran tersebut tidak dipenuhi, maka pelaksanaan ibadah-ibadah oleh seorang muslim tidak akan banyak artinya. Wallâhua’lam.

Editor: Ainu Rizqi
 _ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals