KTT OKI di Istanbul, QS. Al-Isra’: 1-5 dan Al-Taubah: 71-72

QS. Al-Isra’ cukup erat kaitannya dengan tema OKI yang ingin mempertahankan tanah Yerussalem


Dalam kegiatan formal perlu diadakan sebuah acara, dan acara pun tidak akan pernah sempurna tanpa adanya susunan acara. Seperti halnya acara Maulid-an, Isra’ Mi’raj, dan lain sebagainya, semuanya memerlukan susunan acara yang tertata rapi, dari pembukaan, inti acara, dan penutupan. Karena susunan acara merupakan sebuah simbol atau sistem yang harus dilakukan agar acara itu menjadi berkah dan berjalan lancar.

Yang menjadi titik fokus dalam kasus ini adalah bagaimana sebuah pembacaan ayat suci Al-Qur’an, atau sering disebut “agar acara dapat berjalan lancar serta diberkahi Allah SWT” pada acara KTT (Konfrensi Tingkat Tinggi)  OKI (Organisasi Kerjasama Islam). Pada acara ini sang Qari membaca QS. Al-Isra’: 1-5 dan Al-Taubah: 71-72. Ada apa dengan ayat ini? Kenapa harus ayat ini? Dan apa yang terjadi jika membaca ayat tersebut?

Dilansir lewat MelayuPalinfo (2018), latar belakang KTT OKI, merupakan sebuah acara besar-besaran yang mana terdapat di dalamnya para pemimpin-pemimpin negara yang meliputi anggota ASEAN, atas undangan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan terkait pembahasan tentang pengembangan ekonomi dan budaya antar negara.

Namun, Tanggal 13 Desember 2017 lalu, OKI di Istanbul mengadakan konferensi besar-besaran lagi terkait membahas ‘suara’ Donald Trump kepada penduduk Palestina, tentang perebutan Ibu Kota Yerusalem sebagai ibu kota negara, pasca pemindahan Kedubes AS di Israel ke Yerusalem (Al-Quds), ditambah ‘pembantaian rakyat yang berada di jalur Gaza.

KTT ke-2 itu dihadiri oleh 57 perwakilan-perwakilan dari 40 negara. Fokus deklarasi OKI bahwa tidak mengizinkan pengubahan status dan kondisi Al-Quds untuk dimiliki yang bukan pemiliknya. Di antara kata sambutan yang diberikan adalah oleh Menteri Luar Negeri Maulud Jawush Oghlo menyatakan, “harus ada larangan kepada pihak Israel agar tidak melanjutkan tindakan pemindahan satus Yerusalem sebagai daerah mereka.” Seperti demikian cerita singkat acara KTT atau OKI di Istanbul yang berlangsung cukup singkat, hanya memakan waktu satu hari.

Singkat cerita, dalam sesi acara tersebut ada yang menarik, di mana sang Qari’ membaca QS. Al-Isra’: 1-5 dan Al-Taubah: 71-72, dan para hadirin terlihat merasa nyaman dan syahdu. Tanpa memiliki rasa keraguan memilih ayat tersebut untuk dibacakan di acara tersebut. Sepertinya ayat tersebut memiliki sesuatu yang sangat menarik atau mujarrab, karena hanya ayat tersebut yang Qari’ baca, tanpa menambahi ayat lain. Sepertinya Qari dan anggota OKI beranggapan hanya surah tersebut yang cocok untuk dilantunkan dalam acara tersebut.

Melihat dari makna teks, makna yang terkandung QS. Al-Isra’: 1-5: ayat ini menjelaskan tentang keadaan dan bagaimana proses Mikraj Nabi Muhammad SAW yang merupakan salah satu mukjizat nabi, keadaan Nabi Musa menerima Taurat sebagai petunjuk bagi kaumnya (Bani Isra’il), cerita Nabi Nuh sebagai orang yang banyak bersyukur, ramalan terhadap Bani Israil yang akan membuat kekacauan di bumi sebanyak dua kali dengan ditambahi rasa sombong, dan kejahatan mereka yang pertama akan dicegah Allah dengan hamba-hamba-Nya yang sangat kuat, dan itu pasti akan terjadi.

QS. Al-Taubah: 71-72: mejelaskan tentang sesama orang beriman harus saling tolong menolong, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan mencegah kemungkaran, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena Allah menjanjikan surga kepada hamba-Nya yang beriman baik laki-laki atau perempuan, akan dimasukkan ke surga ‘Adn dan kekal di dalamnya.

Jika dilihat, ayat QS. Al-Isra’ cukup erat kaitannya dengan tema OKI yang ingin mempertahankan tanah Yerussalem, karena pada ayat pertama menyebutkan kalimat Masjid Al-Aqsha yang berada di Baitul Maqdis, bagian dari wilayah Palestina. Dan ditambah dengan sebutan Yahudi akan membuat kerusakan di Bumi sebanyak dua kali, dan akan diramal bahwa kejahatan pertama mereka akan gagal dengan bantuan hamba-hamba Allah yang gagah perkasa. Mungkin ini maksud oleh anggota OKI ingin menjadi orang yang dimaksudkan ayat tersebut, yaitu orang yang bisa mencegah kerusakan-kerusakan atas perbuatan Yahudi.

Tapi yang menjadi kebingungan di sini adalah tentang QS. Al-Taubah: 71-72, ada apa dengan ayat ini? Jika dilihat dari pemaparan makna di atas, sepertinya tidak ada kaitannya sama sekali, karena hanya menyebutkan balasan kepada orang-orang beriman mendapatkan surga. Atau jangan-jangan ayat ini bisa membangkitkan semangat berperang? Atau jiwa jihad akan bisa berkobar dengan ayat tersebut? Seperti begitu. Berikut anilisisnya:

QS. Al-Isra’ : 1-5 QS. Al-Taubah: 71-72
Salah satu Jihad mempertahankan hak milik Saudara muslim, maka diadakan KTT dan OKI. Merupakan bentuk apresiasi bantuan kepada masyarakat Palestina untuk mempertahankan ibu kota mereka.
Menjadi hamba-hamba Allah yang kuat, dan mencegah kekacauan orang Yahudi. Demi mengharapkan rida Tuhan, dengan balasan Surga.
Menunjukkan kelebihan Palestina karena Muhammad SAW yang pernah melakukan Mi’raj dari Masjid Al-Aqsha, sebagai mukjizat dan kelebihan dari tempat suci tersebut. Dan mempertahankan Yerussalem sebagai ibu kota Plasetina.

Kesimpulan dari opini ini adalah bagaimana QS. Al-Isra’ (17): 1-5 dan QS. Al-Taubah (9): 71-72 bertranmisi terus dibacakan sampai sekarang, maksudnya surah-surah di atas akan tetap hidup dan tidak akan mati sampai pada abad 21-an, dan bertransformasi sampai-sampai tetap dibacakan di acara-acara besar dan berpengaruh.

Inilah bukti bahwa dengan Al-Qur’an orang Islam akan terus berdoa lewat lantunan ayat suci-Nya. Akibat yang didapat sampai pertengahan tahun 2018 setelah acara tersebut adalah tidak ada kicauan-kicauan Donald Trump terkait pemindahan Ibu kota Yerussalem, bisa jadi karena bacaan surah tersebut ditambah dengan bantaun Allah SWT.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
8
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Shulhi Alhadi Siregar
Muhammad Shulhi Alhadi Siregar adalah Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Hermeneutika Al-Qur’an UIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals