Penafsiran Alquran Setelah Rasulullah Wafat

Abu Bakar menerapkan Alquran terhadap suatu realitas yang terjadi dalam masyarkat dan berhasil meyakinkan bahwa Rasulullah benar-benar wafat.


Islam menjadikan Alquran sebagai sumber hukum utama untuk memutuskan suatu permasalahan. Semua persitiwa yang berkaitan dengan syariat Islam harus dicari dalam Alquran sebelum mencarinya di Hadits atau sumber hukum yang lain. Sebagai hukum tertinggi, Alquran menjadi pedoman hidup sepanjang zaman yang dijaga kemurniannya secara langsung oleh Allah seperti yang difirmankan dalam surah al-Hijr ayat 9:

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.

Umat muslim generasi awal—ketika Rasulullah masih hidup—dalam memahami Alquran tinggal menanyakan masalahnya langsung kepada Rasulullah. Wahyu akan turun kepada beliau untuk menjawab permasalahan yang diadukan oleh sabatnya. Sehingga, para sahabat tidak perlu menafisrkan makna Alquran selagi Rasulullah masih hidup.

Namun, permasalahan muncul ketika Rasulullah wafat dan penyampaian wahyu terhenti. Saat itu tidak ada lagi seorang panutan yang dapat dimintai fatwa mengenai permasalahan agama yang mereka hadapi. Mereka harus berusaha untuk memahami Alquran dengan pemahaman mereka sendiri. Hal ini merupakan sesuatu yang mengagetkan umat Islam, karena mereka belum siap kehilangan Rasulullah.

Berita tentang wafatnya Rasulullah sampai ke telinga sahabat-sahabat. Mereka bersedih atas hal itu, namun itu sudah menjadi ketentuan Allah. Salah satu sahabat dekat Rasulullah, Umar Ibn Khattab, tidak percaya akan kejadian ini. Ia menganggap bahwa Rasulullah hanya pergi sebentar dan akan kembali lagi berada di tengah-tengah mereka. Seperti yang dilakukan oleh Nabi Musa ketika meninggalkan kaumnya selama 40 hari dan akhirnya kembali lagi.

Umar Ibn Khattab mengancam siapapun yang mengatakan Rasulullah telah wafat akan ia penggal lehernya. Abu Bakar As-Shiddiq muncul untuk memediasi keadaan yang memanas. Ia mencoba meyakinkan Umar Ibn Khattab bahwa beliau sudah meninggal dengan membacakan surah Ali Imran ayat 144:

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul. Apakah jika dia wafat atau terbunuh kamu akan balik ke belakang (murtad)?

Abu Bakar menerapkan Alquran terhadap suatu realitas yang terjadi dalam masyarkat berhasil dan meyakinkan bahwa Rasulullah benar-benar wafat. Cara yang dilakukan Abu Bakar merupakan suatu penafsiran terhadap Alquran. Ingrid Matson dalam bukunya Ulumul Quran Zaman Kita, menyebutkan bahwa Abu Bakar merupakan orang pertama yang menafsirkan Alquran setelah Rasulullah wafat.

Terkait siapa orang yang pertama kali menafsirkan Alquran, dapat dilihat dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi No. 3250. Saat beliau masih hidup, ada seorang sahabat bernama Mu’adz Ibn Jabal, yang diutus untuk menjadi seorang hakim di Yaman. Rasulullah bertanya kepadanya “Bagaimana caramu memberikan keputusan, ketika ada permasalahan hukum?” Mu’adz menjawab “Aku akan memutuskan berdasarkan Kitabullah”.

Rasulullah bertanya lagi “Jika engkau tidak menemukan dalam Kitabullah?” Mu’adz menjawabnya “Aku akan menghukumi berdasarkan sunnah Rasul”. Rasulullah kembali bertanya “Jika engkau tidak menemukan dalam sunnah Rasul?” Mu’adz Ibn Jabal menjawabnya dengan mengatakan “Aku akan memutuskan dengan pendapatku”.

Dari potongan Hadits di atas dapat dipahami bahwa Mu’adz Ibn Jabal menggunakan pemahamannya untuk menafsirkan Alquran dan Hadits.  Muadz Ibn Jabal dapat dikatakan sebagai penafsir pertama dalam generasi Islam. Namun, jika dilihat dari kronologisnya, Abu Bakar merupakan sahabat yang pertama kali menfsirkan Alquran setelah Rasulullah wafat.

Pada tahap selanjutnya, yang menjadi permasalahan adalah siapa yang memiliki otoritas dalam menafsirkan Alquran? Setelah Rasulullah wafat para sahabat melakukan musyawarah untuk menentukan seseorang yang menggantikan kepemimpinannya yang disebut sebagai Khalifah. Namun, Khalifah tidak dianggap sebagai seseorang yang memiliki wewenang dalam menafsirkan Alquran.

Hal ini dikarenakan, fungsi dari Khalifah hanya menggantikan Rasulullah dalam hal politik, bukan sebagai penerima wahyu. Dengan demikian, para Khalifah mencari sahabat yang mengetahui tentang sebab-sebab turunnya wahyu untuk memahami makna dalam Alquran (Mattson, 2013). Salah satu sahabat Rasulullah yang memiliki keahlian dalam tafsir Alquran adalah Ibn Abbas yang didoakan langsung oleh beliau agar diberi pengetahuan dalam menafsirkan Alquran.

Sumber:
Mattson, Ingrid. 2013. Ulumul Quran Zaman Kita. Yogyakarta: Serambi.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals