Warning: Creating default object from empty value in /var/www/html/wp-content/plugins/bp-posts-on-profile/includes/bp-postsonprofile-core.php on line 22

Warning: Creating default object from empty value in /var/www/html/wp-content/plugins/bp-posts-on-profile/includes/bp-postsonprofile-core.php on line 23

Warning: Creating default object from empty value in /var/www/html/wp-content/plugins/bp-posts-on-profile/includes/bp-postsonprofile-core.php on line 24

Warning: Creating default object from empty value in /var/www/html/wp-content/plugins/bp-posts-on-profile/includes/bp-postsonprofile-core.php on line 25
Penafsiran Al-Quran Setelah Rasulullah Wafat – ARTIKULA.ID

Penafsiran Al-Quran Setelah Rasulullah Wafat

Abu Bakar menerapkan Alquran terhadap suatu realitas yang terjadi dalam masyarkat dan berhasil meyakinkan bahwa Rasulullah benar-benar wafat.


Islam menjadikan Al-Quran sebagai sumber hukum utama untuk memutuskan suatu permasalahan. Semua persitiwa yang berkaitan dengan syariat Islam harus dicari dalam Alquran sebelum mencarinya di Hadits atau sumber hukum yang lain. Sebagai hukum tertinggi, Alquran menjadi pedoman hidup sepanjang zaman yang dijaga kemurniannya secara langsung oleh Allah seperti yang difirmankan dalam surah al-Hijr ayat 9:

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.

Umat muslim generasi awal—ketika Rasulullah masih hidup—dalam memahami Al-Quran tinggal menanyakan masalahnya langsung kepada Rasulullah. Wahyu akan turun kepada beliau untuk menjawab permasalahan yang diadukan oleh sabatnya. Sehingga, para sahabat tidak perlu menafisrkan makna Al-Quran selagi Rasulullah masih hidup.

Namun, permasalahan muncul ketika Rasulullah wafat dan penyampaian wahyu terhenti. Saat itu tidak ada lagi seorang panutan yang dapat dimintai fatwa mengenai permasalahan agama yang mereka hadapi. Mereka harus berusaha untuk memahami Alquran dengan pemahaman mereka sendiri. Hal ini merupakan sesuatu yang mengagetkan umat Islam, karena mereka belum siap kehilangan Rasulullah.

Berita tentang wafatnya Rasulullah sampai ke telinga sahabat-sahabat. Mereka bersedih atas hal itu, namun itu sudah menjadi ketentuan Allah. Salah satu sahabat dekat Rasulullah, Umar Ibn Khattab, tidak percaya akan kejadian ini. Ia menganggap bahwa Rasulullah hanya pergi sebentar dan akan kembali lagi berada di tengah-tengah mereka. Seperti yang dilakukan oleh Nabi Musa ketika meninggalkan kaumnya selama 40 hari dan akhirnya kembali lagi.

Umar Ibn Khattab mengancam siapapun yang mengatakan Rasulullah telah wafat akan ia penggal lehernya. Abu Bakar As-Shiddiq muncul untuk memediasi keadaan yang memanas. Ia mencoba meyakinkan Umar Ibn Khattab bahwa beliau sudah meninggal dengan membacakan surah Ali Imran ayat 144:

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul. Apakah jika dia wafat atau terbunuh kamu akan balik ke belakang (murtad)?

Abu Bakar menerapkan Alquran terhadap suatu realitas yang terjadi dalam masyarkat berhasil dan meyakinkan bahwa Rasulullah benar-benar wafat. Cara yang dilakukan Abu Bakar merupakan suatu penafsiran terhadap Alquran. Ingrid Matson dalam bukunya Ulumul Quran Zaman Kita, menyebutkan bahwa Abu Bakar merupakan orang pertama yang menafsirkan Alquran setelah Rasulullah wafat.

Terkait siapa orang yang pertama kali menafsirkan Alquran, dapat dilihat dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi No. 3250. Saat beliau masih hidup, ada seorang sahabat bernama Mu’adz Ibn Jabal, yang diutus untuk menjadi seorang hakim di Yaman. Rasulullah bertanya kepadanya “Bagaimana caramu memberikan keputusan, ketika ada permasalahan hukum?” Mu’adz menjawab “Aku akan memutuskan berdasarkan Kitabullah”.

Rasulullah bertanya lagi “Jika engkau tidak menemukan dalam Kitabullah?” Mu’adz menjawabnya “Aku akan menghukumi berdasarkan sunnah Rasul”. Rasulullah kembali bertanya “Jika engkau tidak menemukan dalam sunnah Rasul?” Mu’adz Ibn Jabal menjawabnya dengan mengatakan “Aku akan memutuskan dengan pendapatku”.

Dari potongan Hadits di atas dapat dipahami bahwa Mu’adz Ibn Jabal menggunakan pemahamannya untuk menafsirkan Alquran dan Hadits.  Muadz Ibn Jabal dapat dikatakan sebagai penafsir pertama dalam generasi Islam. Namun, jika dilihat dari kronologisnya, Abu Bakar merupakan sahabat yang pertama kali menfsirkan Al-Quran setelah Rasulullah wafat.

Pada tahap selanjutnya, yang menjadi permasalahan adalah siapa yang memiliki otoritas dalam menafsirkan Al-Quran? Setelah Rasulullah wafat para sahabat melakukan musyawarah untuk menentukan seseorang yang menggantikan kepemimpinannya yang disebut sebagai Khalifah. Namun, Khalifah tidak dianggap sebagai seseorang yang memiliki wewenang dalam menafsirkan Alquran.

Hal ini dikarenakan, fungsi dari Khalifah hanya menggantikan Rasulullah dalam hal politik, bukan sebagai penerima wahyu. Dengan demikian, para Khalifah mencari sahabat yang mengetahui tentang sebab-sebab turunnya wahyu untuk memahami makna dalam Alquran (Mattson, 2013). Salah satu sahabat Rasulullah yang memiliki keahlian dalam tafsir Alquran adalah Ibn Abbas yang didoakan langsung oleh beliau agar diberi pengetahuan dalam menafsirkan Alquran.

Sumber:
Mattson, Ingrid. 2013. Ulumul Quran Zaman Kita. Yogyakarta: Serambi.

 _ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

[zombify_post]

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Al-Qur'an dan Hadis

REKOMENDASI