Reformasi Saudi, Reformasi Cuan

Transformasi ini bisa saja terkesan represif dan otoriter, namun begitulah cara Saudi mengelola negara yang masyarakatnya berkarakter tribalisme


Sumber gambar: serambinews.com

Transformasi sosial dan diversifikasi ekonomi yang dilakukan Saudi, sebagaimana Visi 2030 yang digaungkan Muhammad bin Salman (MBS), telah mengubah citra negara tersebut. Saudi yang dikenal konservatif mulai bergeser ke arah yang lebih permisif dan profan.

Permisif ditandai dengan keterbukaan Saudi dengan budaya-budaya yang sebelumnya dicap tabu. Dan profan dibuktikan dengan desakralisasi agama di ruang publik, yang selama ini dimotori oleh ustaz-ustaz militan dan polisi syariah yang bertangan besi.

Walhasil, sakralitas agama yang dibidani Wahabi dimentahkan oleh keinginan kuat kerajaan untuk bertransformasi, terutama di sektor sosial-ekonomi. Ustaz-ustaz Wahabi tidak berkutik sama sekali. Selain karena mereka dihidupi negara, iklim pemerintahan juga tidak mentolerir bahasa protes.

Karenanya, transformasi ini bisa saja terkesan represif dan otoriter, namun begitulah cara Saudi mengelola negara yang masyarakatnya berkarakter tribalisme. Artinya, tindakan represif bisa saja relevan bagi masyarakat dengan tensi ego kesukuan yang tinggi.

Baca Juga: Mengais Persatuan di Tengah Tumpukan Kekisruhan Politik

Buktinya, masyarakat cukup girang menyambut perubahan Saudi. Riuhnya konser musik, smart city Laut Merah, reformasi kurikulum, dan posisi perempuan dalam public policy mengonfirmasi hal itu.

Pemugaran sektor pendidikan juga sangat diprioritaskan. Slot riset dibuka seluas-luasnya. Artefak yang selama ini terkubur dan hampir tidak diperhatikan digali oleh para arkeolog. Untuk hal ini, Saudi menggandeng Rusia. Semata-mata dilakukan untuk menghadirkan keajaiban kuno Arab Saudi kepada dunia (arabnews.com).

Selain itu, perubahan kurikulum dilakukan dengan menyaring konten bernuansa kebencian dan menggantinya dengan konten Islam yang humanistik dan moderat.

Mengutip Mohamed Asiri, peneliti pendidikan Saudi, tujuan reformasi kurikulum adalah untuk menciptakan generasi yang patriotis, toleran, dan mendorong kebebasan berpikir.

Saudi dan Politik Luar Negeri

Saudi paham betul, Visi 2030 akan sulit terwujud jika membatasi pergaulan internasional. Karenanya, pembenahan bukan hanya di wilayah domestik, walakin juga di kancah global. Iran bisa jadi pengecualian, sepertinya.

Amerika, China, Rusia, Perancis, Korsel, dan banyak negara lainnya telah melakukan grand project dengan Saudi. Barangkali Israel kedepannya juga digandeng. Sebab potensi negara sinagoge itu sangat besar, dan Saudi membutuhkan itu. Sekat ideologi tidak lagi penting, yang penting cuan. Agaknya demikian petuah yang dipegang Saudi kini.

Baca Juga: Saudi yang Dulu, Bukanlah yang Sekarang

Pernah dalam suatu wawancara, Dubes Saudi untuk US, Turki bin Faisal Al-Saud, ditanya: “Is China a better friend to Saudi Arabia than the United States is? Not necessarily a better friend, but a less complicated friend.”

Orientasi politik luar negeri Saudi tentu saja berangkat dari potensi dan kepentingan nasional. Pertama, posisi Saudi sebagai jantung dunia Arab dan Islam. Kedua, kemampuan investasi, dan ketiga, posisi geografis Saudi yang strategis.

Betapa Saudi begitu fleksibel dan pragmatis dalam membangun kerja sama dengan negara-negara. Sikap demikian wajar saja jika melihat daftar panjang projek Visi 2030, seperti NEOM, The Red Sea Project, AIUIa, King Salman Park, Green Riyadh, Sakaka Solar Power Plant, Composite Aerostructure Factory, Riyadh Sports Boulevard, Low Power Research Reactor (LPRR), Water Desalination Project Using Solar Power, dan banyak lagi lainnya.

Semua daftar projek di atas berbicara inovasi. Wujud refleksi historis mereka atas pencapaian dan kejayaan Islam di masa lalu yang tak mungkin pernah tercapai tanpa adanya bid’ah-bid’ah yang inovatif. Artinya, inovasi hampir mustahil dilakukan jika wacana publik masih monoton pada wacana khilafiyah dan per-bid’ah-an. Sikap beragama publik direformasi, Saudi betul-betul melangkah jauh meninggalkan wajah lamanya. Wajah yang jumud dan konservatif. Good bye the old Saudi.

Editor: Ainu Rizqi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Mahmud Wafi

Master

Mahmud Wafi, adalah seorang pekerja sosial, juga merangkap sebagai santri Senin malam di Nitipuran.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals