Sisi Gelap Sang Akhi: Analisa Kejiawaan Mahasiswa Berprestasi Pelaku Pelecehan Seksual

Banyak mahasiswi yang berharap punya suami seperti dirinya sehingga banyak pula mahasiswa yang iri dengannya


Picture: edited from suaramuhammadiyah/okezone

Dunia pendidikan nasional kembali “heboh” dengan berita kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang mahasiswa berprestasi salah satu kampus swasta tertua di Yogyakarta. Sampai saat ini kasus demi kasus yang dilakukannya pun semakin terungkap. Selain berpestasi secara akademik, akhi kita ini juga populer di kalangan mahasiswa dan mahasiswi karena akhlaknya yang baik, sopan, santun, penyabar, ramah, murah senyum, rajin menabung, religius, ibadahnya bagus, hafalannya baik, suaranya merdu, selalu memberikan motivasi, suami idaman banget deh pokoknya.

Dengan segala kepopulerannya tersebut, dengan mudah ia mendekati perempuan yang menarik perhatiannya. Maka wajarlah jika korbannya mayoritas merupakan adik tingkatnya di kampus, organisasi, bahkan fansnya.

Ibarat kamu yang jomblo ini tiba-tiba di-mention sama Chelsea Islan, atau siapa pun artis idolamu, di akun media-sosialnya, pasti membuat hatimu cenat-cenut bahkan kejang-kejang. Itulah yang terjadi pada para korban. Mereka kaget bukan main ketika idolanya men-DM atau nge-chat mereka. Dia yang hanya bisa aku lihat di acara-acara, dia yang kata-katanya selama ini memotivasiku untuk semakin giat beribadah dan belajar. Sekarang kok dia nge-chat aku? Ihh, mimpi apa aku semalam?!!

Terlepas dari segala motif atau jenis-jenis pelecehan apa saja yang dilakukannya, di sini saya coba uraikan dari sudut kejiwaan manusia. Menurut Freud, bapak Psikoanalisis, di dalam diri kita ini terdapat sisi gelap dari diri kita. Sisi gelap ini menyimpan keinginan kita untuk melakukan segala perilaku menyimpang di kehidupan nyata, misalnya membunuh, menyiksa seseorang, melakukan aktivitas seksual yang menyimpang seperti memperkosa dan “bermain kasar”, atau segala fantasi seksual liar lainnya.

Sisi gelap ini sangatlah liar. Meskipun kita terus menekan agar sisi gelap ini tidak muncul namun terkadang ia masuk ke kesadaran kita karena terpancing oleh dunia luar. Ketika melihat orang yang dibenci dapat membuat kita berfantasi untuk membunuh orang tersebut atau membuat kita bermimpi-buruk.

Semua orang punya sisi gelapnya, ada kita yang lain dalam diri kita yang terus mencoba memberontak ke alam kesadaran. Dalam kasus tertentu, dorongan sisi gelap ini dapat mengganggu aktivitas normal kita. Untuk mempermudah penyebutan soal sisi gelap diri kita ini, saya akan sebut itu sebagai alter ego atau diri (kita) yang lain – terlepas dari penggunaan istilah tersebut dalam artian populer, yakni kepribadian ganda.

Dewasa ini dengan adanya media sosial, sebenarnya kita terbantu untuk menyalurkan keinginan-keinginan jahat dalam diri kita. Di media sosial kita bisa menciptakan identitas baru, identitas untuk mewadahi alter ego kita. Lewat identitas baru itu kita bisa menghujat orang sesuka hati, mengomentari tubuh seseorang, mengomentari keadaan sosial-politik-budaya seenaknya, bahkan melakukan bisnis esek-esek asik tanpa khawatir akan ketahuan identitas asli.

Karena alter ego itu dalam beberapa waktu tertentu akan mendorong untuk masuk ke kesadaran, dan terkadang sangat memaksa sehingga dapat mengganggu aktivitas harian, menyalurkannya membuat diri kita merasa plong.

Lewat identitas baru itulah kita dapat menyalurkannya tanpa memengaruhi citra baik identitas asli kita. Masalahnya tidak semua orang mampu me-­manage diri kapan harus menjadi diri yang asli, kapan harus menjadi diri yang lain. Akhirnya mereka melakukan hal-hal buruk dengan identitas aslinya.

Tidak jarang ada dokter yang dikenal sebagai pribadi yang baik, ternyata ia seorang psikopat yang menyembunyikan mayat korbannya. Atau juga seorang ilmuwan yang memiliki rasa benci yang amat mendalam kepada manusia membuatnya jadi seorang teroris –yang dianggapnya sebagai wadah untuk menyalurkan keinginan gelapnya. Pun masih banyak pula kasus serupa lainnya yang terjadi baik di dunia nyata maupun yang digambarkan secara apik dalam cerita fiksi.

Bagi orang-orang yang memang di kehidupan aslinya tidak punya tanggung jawab terhadap apa pun, pengangguran, jomblo, atau memang berprofesi sebagai penjahat, identitas aslinya diketahui keburukannya pun tidak jadi masalah. Namun yang jadi masalah ialah ketika seorang public figure, tokoh agama, dan orang-orang yang memiliki beban moral karena ia dituntut untuk selalu ideal, melakukan perbuatan yang buruk maka otomatis akan runtuh segala citra baik yang telah dibangunnya.

Inilah yang terjadi pada akhi kita yang kasusnya sedang ramai dibicarakan belakangan ini. Ia dikenal sebagai mahasiswa pintar dan saleh. Ia jadi panutan mahasiswa-mahasiswa, tidak hanya di kampusnya bahkan di kampus lain. Karena kepopulerannya ini ia pun sering diminta untuk mengisi acara, baik seminar motivasi sampai acara keagamaan. Karena kesalehannya pula ia disebut sebagai seorang ustadz. Banyak mahasiswi yang berharap punya suami seperti dirinya sehingga banyak pula mahasiswa yang iri dengannya.

Namun disebabkan ia memanfaatkan panggung popularitasnya sebagai jalan untuk menyalurkan alter-egonya, maka ketika kasusnya terungkap, hancurlah segala reputasi dan citra baik yang telah dibuatnya selama ini.

Padahal kan, kalau dia mau, dia bisa membuat  identitas baru untuk dirinya yang lain. Menyalurkan segala keinginan seksualnya “di dunia yang lain” dengan orang-orang yang tidak mengenalnya di mana ia bisa aman menunjukkan keganasannya tanpa takut ketahuan siapa dirinya yang asli.

Kalau pendapat tersebut dianggap munafik diakibatkan akhi kita ini sudah dikenal sebagai seorang yang religius, maka jalan yang utama tentu ia harus mampu menekan keinginan sisi gelap dalam dirinya. Dalam bahasa agamanya ya dengan cara berpuasa. Atau jika menekan sisi gelap merupakan hal yang amat sulit maka ternatif lain yang bisa saya tawarkan adalah ya nikah dong, akhi!  []

_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jadi, bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! 

Anda juga bisa mengirimkan naskah Anda tentang topik ini dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannyadi sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.iddi sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Ilham Maulana

Master

Alumni Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Seorang pemerhati individu.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals