Keistimewaan Bulan Zulhijah dalam Islam

Secara sosial bulan Zulhijah dengan kegiatan-kegiatan kolektif yang dilakukan masyarakat muslim memiliki orientasi mempererat keutuhan dan kohesi sosial masyarakat


alukhuwah.com

Bulan Haji atau Zulhijah adalah bulan terakhir di kalender Islam. Bulan ini merupakan salah satu bulan yang istimewa yang merupakan salah satu dari empat bulan dari 12 bulan dan merupakan bulan haram. 

Lantas, apakah kemuliaan bulan Zulhijah yang dikenal bulan haji ini? Sehingga di masyarakat hadir beragam cara untuk memuliakannya?

Biasanya di akhir bulan Zulkaidah (Dzulqa'dah) dan awal bulan Zulhijah (Dzulhijjah) sebagian masyarakat muslim akan melakukan ibadah puasa (sunnah) sebagai bentuk pemuliaan atas bulan ini. Hal tersebut terutama terkait keutamaan bulan ini yang di dalamnya tedapat 10 hari istimewa. 

Puasa yang dalam kebiasaan Nabi saw. ada dua hari yakni tanggal 8 dan 9 Zulhijah yang dikenal dengan puasa Tarwiyah dan Arafah. Momentum kemuliaan tersebut disempurnakan dengan berpuasa 10 hari. 

Hal ini juga sebagaimana Nabi Musa a.s. yang melakukan tirakat sebelum mendapatkan wahyu dan bertemu langsung dengan Allah Swt. Namun karena puasa di tanggal 10 Zulhijah haram hukumnya, maka diambillah sehari di bulan sebelumnya, yakni hati terakhir di bulan Zulkaidah, untuk menggenapkan 10 hari . Dengan demikian, hitungan puasa untuk memuliakan bulan haji ini berjumlah sepuluh hari lamanya.

Lantas, apakah kemuliaan bulan Zulhijah yang dikenal bulan haji ini? Sehingga di masyarakat hadir beragam cara untuk memuliakannya?

Selain itu, di bulan ini merupakan puncak ibadah haji di Arafah yakni tanggal 9 kemudian dilanjutkan hari raya Idul Qurban dan hari-hari tasyrik

Baca juga: Amalan Utama di Bulan Dzulhijjah

Hal lainnya adalah karena pada bulan terkahir di penanggalan hijriyah ini terdapat beragam peristiwa penting yang sarat akan nilai-nilai luhur di dalamnya.

Keistimewaan bulan di atas sebagaimana dengan keistimewaan hari Jum'at yang dikenal dengan sayyidul ayyam atau tuannya hari. 

Hal tersebut sebagaimana sabda Nabi saw. dalam hadis yang diriwayatkan Abu Said al-Khudri dari al-Bayhaqi yang menyebut bahwa bulan Ramadan adalah tuannya bulan sedangkan bulan yang paling agung kemuliaannya adalah bulan Zulhijah. Dengan demikian, kemuliaan bulan terakhir ini berada setelah Ramadan.

Keistimewaan bulan Zulhijah juga diabadikan dalam al-Quran. Hal tersebut sebagaimana dalam Q.S. al-Fajr (89): 1-2.

وَالۡفَجۡرِۙ * وَلَيَالٍ عَشۡرٍۙ 

Demi fajar * demi malam yang sepuluh.

Redaksi dalam ayat tersebut terkait dengan sumpah Allah Swt. yang tentunya memiliki arti tersendiri. 

Bahkan dalam sebuah hadis dikatakan bahwa 10 hari tersebut lebih mulia daripada berperang di jalan Allah. Dengan kata lain, keutamaan bulan haji ini adalah sama dengan mereka yang berjihad dan tidak kembali lagi atau mati syahid.

Sebagaimana maklum, puncak ibadah haji juga ada di bulan mulia ini. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang menyatakan haji adalah arafah yang kegiatannya berlangsung pada tanggal 9 Zulhijah. 

Hal inilah yang menjadi alasan kemudian kenapa disunnahkan untuk berpuasa sejak tanggal 8 dan 9 yang nilai pahalanya dapat menghapuskan dosa dalam setiap tahunnya. 

Ibadah puasa ini memang dikhususkan bagi mereka yang belum mampu untuk pergi menunaikan ibadah haji. Sedangkan bagi mereka yang haji, harus berada di Arafah sejak pagi sampai sore. Dengan demikian, bagi yang haji mereka menjalankan wukuf di Arafah dan tidak disunnahkan berpuasa.

Dari paparan di atas dapat dimengerti mengapa puasa merupakan amal mulia yang lazim dilakukan bulan ini. Yang dilakukan tidak hanya pada tangal 8 dan 9 saja. 

Sebagaimana dijelaskan di atas, di kalangan masyarakat tertentu memang ada yang menjalankan puasanya 10 hari dengan cara 9 hari di bulan Zulhijah dan sehari di bulan Zulkaidah karena ada hari yang diharamkan yakni ketika hari raya Idul Adha pada tanggal 10.

Kebiasaan ini juga yang diamalkan oleh beberapa tokoh tenama seperti Kiai Miftahul Fattah Amin, Pengasuh Pondok Pesantren al-Amin Tunggul Paciran Lamongan, berikut keluarga dan santri serta masyarakat di daerah Lamongan. Selain beliau, menurut penuturan seorang santri di PP Darussunnah Ciputat, almarhum KH. Ali Mustafa Ya’qub juga mempraktikkan hal yang sama.

Dengan demikian bisa kita katakan bahwa "malam yang berjumlah sepuluh" merupakan bagian dari mulianya bulan Zulhijjah. Hal tersebut merupakan interpretasi yang dilakukan oleh ulama dalam memahami ayat QS. Al-Fajr di atas. 

Setidaknya begitulah kebanyakan ulama memahaminya bahwa kemuliaan tersebut hanya ada di bulan Zulhijah dan sebagian kecil mufassir yang makna 10 hari dalam ayat tersebut menafsirkan dengan bulan Ramadhan dan Muharram. 

Terlebih lagi, keistimewaan bulan Zulhijah bisa diperkuat sebagai bagian dari bulan yang dimuliakan karena pada bulan Haji ini di dalamnya terdapat perintah berkurban. Dengan demikian, keutamaan 10 hari dalam ayat tersebut memang lebih banyak mengindikasikan terkait bulan Haji ini.

Tidak mengherankan pula kenapa kebanyakan masyarakat menjaga kebaikan tersebut dengan cara berpuasa selama 10 hari lamanya.

Adanya keyakinan umat muslim akan kemuliaan bukan ini juga direspsi oleh masyarakat dengan beragam pemaknaan. Setidaknya di masyarakat sering kita jumpai memilih bulan ini sebagai hari untuk melangsungkan pernikahan dan atau walimah al-ursy

Baca juga: Idul Adha Menggugah Jiwa Kasih Sayang dan Pengorbanan

Selain kegiatan tersebut juga terjadi banyaknya walimatul safar bagi mereka yang sedang menjalankan ibadah haji. Begitu juga dengan beragam kegiatan lainnya seiring dengan perayaan idul kurban seperti khataman Al-Qur'an dan lain sebagainya. 

Artinya, secara sosial bulan Zulhijjah dengan kegiatan-kegiatan kolektif yang dilakukan masyarakat muslim memiliki orientasi untuk mempererat keutuhan dan kohesi sosial masyarakat. 

Dengan demikian, keistimewahan bulan Zulhijah tidak sekadar simbol belaka namun juga sarat dengan nilai-nilai sosial yang semakin meyakinkan bahwa bulan ini memang diliputi banyak kemuliaan dan keberkahan. [DK]

*Artikel ini pertama kali ditayangkan pada tanggal 3 Agustus 2019
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! 

Anda juga bisa mengirimkan naskah Anda tentang topik ini dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bias juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Alfatih Suryadilaga
Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag. M.Ag. adalah Wakil Dekan Bidang Akademik Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga (2020-2024). Beliau juga menjabat sebagai Ketua Asosasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA) dan Ketua Yayasan Pondok Pesantren al-Amin Lamongan Jawa Timur. Karya tulisan bisa dilihat https://scholar.google.co.id/citations?user=JZMT7NkAAAAJ&hl=id.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals