Bulan Rajab dalam Tradisi Islam dan Agama Samawi

Rajab adalah salah satu bulan yang mulia dalam Islam... Dalam sejarahnya masyarakat sebelum Islam juga menghormati Bulan Rajab.


syariahislam.com

Bulan ini sudah memasuki bulan Rajab. Dalam bulan tersebut setidaknya terdapat peristiwa penting yang dialami oleh Rasulullah saw. Peristiwa ini dikenal dengan nama Isra’ Mi’raj yaitu sebuah perjalanan yang panjang dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dan ke sidratul muntaha langit ke tujuh untuk mendapatlak perintah sholat lima waktu. Dengan perisiwa ini pula masyarakat Islam di seluruh dunia memperingatinya. 

Atas dasar peristiwa ini, maka menjadikan bulan ini sebagai bulan yang baik dan penuh hikmah. Oleh karena itu diperlukan pengetahuan atas bulan ini sebagaimana yang ada dalam Al-Qur’an dan Hadis. Dengan demikian, akan menjadikan pemahaman yang utuh atas bulan Rajab ini di antara umat Islam yang ada.

Rajab adalah salah satu bulan yang mulia dalam Islam. Hal ini sebagaimana  tercantum dalam QS. al-Taubah (9): 37 dan beberapa hadis yang menjelaskan ayattersebut. Dengan demikian, Rajab adalah salah satu bulan yang mulia dari empat bulan yang mulia dari 12 bulan yang ada.

Dalam sejarahnya masyarakat sebelum Islam juga menghormati Bulan Rajab. Hal tersebut sebagaimana dikatakan Imam Baihaqi. Hal ini diperkuat dengan pendapat Ibn Juzi’ yang menyebut keutamaan di dalamnya. Keutamaan tersebut adalah dari asal usul namanya yang sangat agung dan mulia. Selain itu bisa bermakna tuli atau al-ashamm. Alasan yang terakhir terkait gencatan senjata dalam masa itu sehingga peperangan tidak ada dalam bulan tersebut. Dengan demikian Rajab merupakan bulan yang penuh keagungan dengan beragam peristiwa yang ada di dalamnya.

Kemuliaan bulan Rajab ini juga di dukung oleh Nabi Muhammad saw. Hal tersebut dapat dilihat hadis riwayat Anas ibn Malik dari al-Baihaqi. Dalam hadis tersebut dijelaskan pilihan Allah swt. dari bulan-bulan adalah bulan Rajab. Bulan tersebut adalah bulan Allah swt. Siapa saja yang memuliakannya maka termasuk di dalam mengagungkan perintah Allah swt. Jika hal tersebut dilakukan maka Allah swt. memasukkan surga yang penuh kenikmatan dan sekaligus mendapatkan ridha Allah swt. Dengan demikian Bulan Rajab bagi umat Islam adalah bulan yang penting karena ridha Allah swt. hadir di dalamnya.

Dalam bulan tersebut menurut bangsa Arab pra Islam juga sangat mulia. Hal ini dikarenakan pada bulan tersebut selalu diadakan gencatan senjata yakni dengan cara meletakkan tombak dan anak panah dan tidak mengasahnya. Sehingga bulan ini menjadikan rasa aman di jalan-jalan. Sehingga dari ini bulan tersebut bulan tuli karena situasi pada bulan itu tidak terdengar hiruk pikuk peperangan sehingga yang ada adalah ketenangan. Dengan demikian bulan Rajab merupakan bulan yang aman oleh masyarakat luas

Tradisi menjaga keamanan dilanjutkan oleh Rasulullah saw. Hal ini setidaknya dalam sejarah peperangan dalam Islam tidak ditemukan. Kecuali jika terpaksa akibat diserang oleh musuh terlebih dahulu. Hal ini juga sesuai dengan perintah Allah swt. dalam QS. al-Ma’idah (5): 2 untuk memuliakan bulan yang mulia. Dengan demikian, ajaran Islam melanjutkan kebiasaan masyarakat Arab dalam hal tersebut.

Puasa adalah kebiasaan Rasulullah saw. dalam  bulan tersebut. Hal itu  terkait erat pada hadis riwayat Muslim dari Ibn Abu Bakar ibn Abu Syaibah dari Sahih Muslim. Nabi menjalankan puasa-puasanya di bulan ini lebih banyak dari bulan lain selain bulan Ramadhan. Dengan demikian, puasa menjadi bagian penting dalam bulan ini.

Tradisi lain dalam bulan Rajab afalah menyembelih binatang atau dikenal dengan alfara’ dan athirah. Istilah pertama lebih sering dikenal  sebagai tradisi menyembelih binatang anak pertama untuk persembahan kepada Tuhan-Nya. Tujuannya tidak lain keberkahan rizki. Sedangkan athirsh ini berbeda dengan sebelumnya yakni terkait erat dengan nadzar. Tradisi ini kemudian ditiadakan dalam Islam berdasar hadis sahih riwayat Abu Hurairah. Dengan demikian tradisi menyembelih binatang seperti masa sebelum Islam.

Namun pendapat lain ada yang mengatakan yang dilarang adalah al-fara’ saja. Hal ini berdasarkan hadis riwayat dari Abu Dawud dari Mikhnaf ibn Sulaym (hadis no. 2788). Hadis tersebut menjelaskan tentang setiap penghuni rumah memiliki persembahan (adhiyah wa athirah). Kemudian Rasulullah saw. bertanya tentang athirah. Kemudian beliau menjawab yang dikenal manusia dengan Rajabiyyah. Dengan demikian praktek athirah dalam Islam masih ditemukan dengan hadis tersebut.

Rasulullah saw. berdakwah di masyarakat sebelum Islam datang dengan tetap memberikan keluasan atas praktek yang ada. Hal tersebut setidaknya dapat dilhat dari adanya perbedaan hadis di atas.

Namun pendapat yang paling kuat adalah yang pertama yakni meniadalan kedua peraktek tersebut yang terjadi di bulan Rajab. Bisa saja masih berlakunya kedua persembahan tersebut ketika nabi berdakwah di awal yakni ketika umat Islam belum banyak. Sehingga dari hal ini menarik minat masyarakat untuk memeluk ajaran Islam. Dengan demikian, dalam konteks ini semangat Islam dalam hal kegiatan persembahan diperluas yakni tidak pada bulan Rajab saja melainkan pada bulan-bulan lain.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
9
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Alfatih Suryadilaga
Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag. M.Ag. adalah Wakil Dekan Bidang Akademik Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga (2020-2024). Beliau juga menjabat sebagai Ketua Asosasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA) dan Ketua Yayasan Pondok Pesantren al-Amin Lamongan Jawa Timur. Karya tulisan bisa dilihat https://scholar.google.co.id/citations?user=JZMT7NkAAAAJ&hl=id.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals