Pengaruh Teks Terhadap Psikologis Nabi

"..teks memberikan dampak signifikan terhadap psikologi nabi saw. dan sahabat.."


Sebagai hudan li al-nas, al-Qur’an dalam sejarah yang panjang berdialektika dengan penerima wahyu pertama dan budaya masyarakat Arab secara keseluruhan.

Rumusan asbab al-nuzul (sebab turunnya ayat) oleh al-Wahidi kemudian hadir merespon pentingnya historitas al-Qur’an dalam menginterpretasikan teks ayat itu sendiri.

Setidaknya untuk mengetahui kemukjizatan retoris al-Qur’an yang mensyaratkan pengetahun tentang konteks wacana, yang terdiri dari wacana (khitab), pelaku wacana (mukhatib), dan objek wacana (mukhatab).

Sebuah kalimat tanya yang sama misalnya, bisa saja bermakna penetapan (taqrir), atau ejekan (taubikh). Sebaliknya, pun kalimat perintah berpeluang diartikan sebagai pembolehan (al-ibahah) atau ancaman (al-tahdid). Kesemuanya, bergantung pada maksud dari konteks wacana.

Demikianlah pentingnya pendekatan konteks sosio historis dalam memahami konteks yang diinginkan oleh pengarang teks.

Konteks Sosio-Historis

Dalam pandangan pemikir Islam kontemporer,embrio kajian sosio historis berawal dari sikap skeptis terhadap sebab nuzul sebelumnya yang dianggap belum mampu menyingkap makna di balik kehendak pengarang teks itu sendiri.

Belakangan, asbab al-nuzul makro menjadi solutif sekaligus pengembangan dari yang sebelumnya.

Jika fokus sebelumnya terkait dengan peristiwa-peristiwa partikular/spesifik yang kemudian teks turun memberi respon, maka asbab al-nuzul makro memandang jauh secara keseluruhan segala yang melingkupi relasi-relasi pewahyuan tersebut.

Teks dan Psikologis Nabi

Tulisan pendek ini, tidak untuk menjelaskan secara keseluruhan kondisi sosio historis yang melingkupi turunnya teks, melainkan mengambil satu contoh dari sub bab pembahasan nabi saw. dengan kondisi dan perkembangan psikologisnya berinteraksi dengan teks.

Salah satu contoh yang cukup menarik adalah bagaimana kisah bahtera nabi Nuh dalam surah Hud ayat 25-29 dan kisah nabi Yusuf dalam surah Yusuf mempengaruhi kondisi psikologis nabi dan sahabatnya, yang juga oleh ulama disinyalir turun sebelum nabi beranjak dari Mekah ke Madinah.

Dua cerita ini menggambarkan eksodus dari suatu tempat ke tempat lainnya. Nuh dengan kapalnya berimigrasi ke negara antah berantah, sedang Yusuf dan koloninya bereksodus ke tanah Mesir.

Cerita ini kemudian berakhir bahagia (happy ending) dan memiliki peran sentral, sekaligus sangat dibutuhkan nabi dan sahabatnya sebagai motivasi berhijrah.

Mengingat mental bullying yang diterima nabi, hingga penyerangan fisik dan pengasingan terhadap sahabat tertentu. Tentunya, kedua surah ini (cerita ini) penting untuk menginspirasi dan memantapkan hati nabi untuk berhijrah, meninggalkan kampung halaman, merantau layaknya cerita sebelumnya, dengan harapan berakhir dengan kisah yang sama, yakni bahagia.

Atau, konteks cerita Ashab al-Kahfi dan perjumpaan nabi Musa-Khidir dalam surah al-Kahfi yang oleh al-Jabiri digolongkan masuk periode akhir Mekah, ketika umat Islam mulai mencari relasi dengan kabilah-kabilah di luar Quraisy, dan bersiap untuk hijrah.

Dua konteks cerita ini pun berperan penting menyebarkan pesan sabar dalam kegelisahan nabi, apalagi sahabat yang secara mentalitas berada dalam tekanan bayang-bayang kafir Quraisy.

Tentang sahabat yang sesegera mungkin ingin meninggalkan Mekah, namun di lain pihak pikirannya dalam ambang kegelisahan, bahwa pergi sesungguhnya adalah wujud dari melarikan diri dan ketidakberdayaan.

Cerita Ashab al-Kahfi kemudian hadir menjadi penghibur sekaligus memberi penjelasan, bahwa melarikan diri sesungguhnya adalah bentuk kesabaran ideal bagi mereka yang belum mampu melawan kejahatan dengan perlawanan nyata.

Sementara cerita nabi Musa-Khidir menjadi pelajaran untuk sabar dan tidak bertindak gegabah. Melihat sebagian besar sahabat nabi adalah orang Arab asli yang secara umum tidak tidak dapat menerima pelecehan ataupun penghinaan, karena menjunjung tinggi kehormatan dirinya.

Pada akhirnya, sejarah menjadi bukti tentang akhir bahagia kisah hijrah nabi bersama sahabat. Pesan moril cerita ashab al-kahfi, juga nabi Musa-Khidir untuk bersabar terealisasi dengan fathul Mekah dan berdiri kokohnya Islam di kemudian hari.

Demikianlah, bagaimana teks memberikan dampak signifikan terhadap psikologi nabi saw. dan sahabat, sekaligus bagaimana cerita nabi saw. bersama sahabat berdialektika dengan teks, memberikan pola tersendiri dalam memahami ayat.

Wallahu a’lam.

(Tulisan ini terinspirasi dan banyak mengutip dari Buku Pintar Sababun Nuzul dari Mikro hingga Makro oleh Mu’ammar Zayn Qadafy).

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
6
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
3
Wooow
Keren Keren
5
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Hadidarma Tri

Ahmad Tri Muslim HD, S.Ag adalah Alumni Tafsir Hadis Khusus Makassar dan PP. Al Urwatul Wutsqaa Sidrap, Sulawesi Selatan.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals