Dinamika Jamaah Literasi Sahabat Pena Kita

Sahabat Pena Kita (SPK) adalah organisasi literasi, yakni himpunan para penulis, metamorphosis dari Sahabat Pena Nusantara (SPN).


Sumber gambar: pxhere.com

Sahabat Pena Kita (SPK) adalah organisasi literasi, yakni himpunan para penulis, metamorphosis dari Sahabat Pena Nusantara (SPN). Perubahan itu karena ada kemacetan dalam gerak roda organisasi. Bermula dari pengunduran diri Ketua SPN disusul pengunduran diri salah seorang pendirinya karena kesibukan studi S3 di Luar Negeri. Untuk keluar dari kebekuan tersebut pengurus SPN berinisiatif menyelenggarakan rapat khusus di Surabaya.

Di antara keputusan rapat khusus di Surabaya ialah menginventarisasi anggota aktif SPN dan menampungnya dalam wahana baru bernama Sahabat Pena Kita. Nama itu juga menyiratkan semangat bahwa organisasi ini benar-benar milik kita; dari kita, dengan kita, dan untuk kita, sekaligus meneguhkan kesetaraan antar sesama anggota, baik yang senior maupun yunior.

Langkah berikutnya ialah menentukan ketua sementara SPK. Forum mengusulkan agar ketua sementara dijabat oleh anggota SPK paling tua. Akan tetapi, beliau tidak berkenan. Akhirnya, tak ada pilihan lain, saya harus menerimanya. Langkah berikutnya ialah mengaktifkan kembali kepengurusan SPN melalui grup WA Pengurus SPK sebagai media untuk bermusyawarah dan mengambil keputusan guna menentukan langkah-langkah ke depan.

Semangat SPK ialah memelihara khazanah warisan SPN yang baik dan berusaha menghasilkan karya-karya yang lebih baik. Hal yang dipandang sangat mendesak ialah menyelenggarakan Rapat Anggota SPK untuk memilih Ketua dan membentuk kepengurusan baru. Atas dasar pertimbangan jarak dan kemudahan sarana transportasi diusulkan kopdar dilaksanakan di Kota Yogyakarta bertempat di Wisma Sargede Jl. Pramuka, milik Bu Rika Budi Antawati.

Terdorong oleh keinginan untuk memperoleh tambahan pengalaman dan manfaat salah seorang pengurus SPK mengomunikasikan gagasan kopdar di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, UNISA. Alhamdulillah gayung bersambut. Agenda Kopdar pun dirancang sedemikian rupa, menjadi dua sesi, yakni sesi seminar bersama sivitas akademika UNISA dengan sertifikat yang dikeluarkan oleh Rektor UNISA dan Ketua SPK bagi peserta yang mengikutinya dan sesi kopdar khusus anggota dan calon anggota SPK. Dengan segala dinamikanya Kopdar ke-1 SPK dapat terselenggara dengan saksama atas dukungan civitas akademikanya yang luar biasa, hingga terpilih ketua baru dan pengurus harian lainnya.

Melalui pengantar seminar itu saya memotivasi semua anggota SPK agar terus berkarya. Dengan catatan pengantar itu saya berharap pemikiran tersebut dapat dirawat dan terus ditumbuhsuburkan. Di antara inspirasi dan motivasi yang saya maksud adalah sebagai berikut.

Bahwa Allah swt menurunkan wahyu perdana kepada Rasul-Nya berupa perintah untuk membaca. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Bacalah lagi dengan mengharap anugerah Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan pena apa yang belum diketahuinya. (QS 96:1-5). Hal itu niscaya menginspirasi kita untuk menjadi mitra kerja Tuhan dalam mencerdaskan kehidupan umat manusia dengan menulis.

Bahwa Allah swt telah mengajarkan kepada manusia kemampuan berbahasa untuk menjelaskan. Allah Yang Maha Pengasih. Dialah yang telah mengajarkan Al-Quran. Yang telah menciptakan manusia. Mengajarkan kepadanya kemampuan menjelaskan. (QS 55:1-4). Menjadi tugas kita mengembangkan ketrampilan mengomunikasikan gagasan dan ide-ide kepada sesama secara tertulis.

Pepatah Yunani menyatakan, Verba volant, scripta manent – Kata-kata lisan lenyap menguap, tulisan abadi menetap. Untuk mengabadi kita niscaya membaca dan menulis. Dalam pandangan Helen Keller para pujangga semua negara adalah penerjemah keabadian.

Benjamin Franklin pernah berpesan, “Jika tak ingin dilupakan setelah meninggal dunia, lakukanlah sesuatu yang patut ditulis atau tulislah apa yang patut dibaca.” Senafas dengan itu Pramoedya Ananta Toer berkata, “Menulislah, jika tidak menulis, engkau akan tersingkir dari panggung peradaban dan dari pusaran sejarah.” Menurut Sayyid Quthb, sebuah peluru hanya bisa menembus satu kepala, sedangkan sebuah buku dapat menembus ribuan, bahkan jutaan kepala.

Saya berusaha meyakini bahwa dengan ilmu hidup menjadi mudah, dengan iman hidup menjadi terarah, dan dengan amal hidup menjadi melimpah. Fakta menunjukkan bahwa kita belajar berbicara dengan berbicara dan kita belajar membaca dengan membaca. Maka, kita belajar menulis dengan menulis. Menulis untuk mengikat makna, menghimpun ide, dan menebar gagasan. Menulis adalah menebar pengetahuan dan mendialogkan kebenaran.

Penulis tahu betapa banyak kehidupan berubah karena buku. Penulis buku membantu pembaca menemukan rencana Tuhan untuk maju. Sebuah langkah sederhana yang semua orang bisa melakukannya, yakni sehari menulis selembar tulisan, setahun jadi sebuah buku. Andaikata seluruh pikiran, pengetahuan, perasaan, dan perbuatan, serta pengalaman kita ditulis, niscaya membuahkan ratusan buku.

Buku adalah guru dan sumber ilmu. Buku adalah kepanjangan tangan guru. Buku yang bervisi tak akan pernah mati. Buku adalah teman setia di setiap ruang dan waktu. Buku adalah jendela dunia, barometer zaman, dan penggerak perubahan. Buku adalah surat lebih tebal kepada kawan-kawan, kata Jean Paul.

Kemauan seseorang untuk menulis meningkatkan kemampuannya menyusun buku. Menjadi penulis adalah tanggung jawab, bukan pilihan. Penulis buku adalah co-worker Tuhan dalam mengembangkan peradaban. Teruslah tumbuh menjadi penulis yang lebih baik, handal, dan berbuah lebat. Tugas penulis adalah mendeskripsi, mengategorisasi, menginterpretasi, dan mengobjektivikasi, serta mengontekstualisasi fakta dan data.

Menulis buku tanda terima kasih kepada guru. Menulis buku adalah sebuah petualangan yang menantang dan perjuangan yang menyenangkan. Menulis buku untuk keabadian, kedamaian, kebahagiaan, dan persaudaraan. Untuk menulis buku butuh membaca buku setiap waktu guna menambah bekal ilmu. Menulis buku tak perlu bakat, sebab, bakat tak lain adalah kesabaran dan ketekunan yang lama.

Menulis buku bagaikan Bimbo menyanyikan lagu.
Menulis buku bagaikan Beethoven menggubah lagu.
Menulis buku bagaikan dirigen mengatur irama lagu.
Menulis buku bagaikan Michelangelo memahat batu.
Menulis buku bagaikan Tuhan berfirman sejak dahulu.
Menulis buku bagaikan Afandi melukis wajah sang Ibu.
Menulis buku bagaikan malaikat menyampaikan wahyu.
Menulis buku bagaikan chef meracik bumbu sesuai menu.
Menulis buku bagaikan Ronaldo menendang bola tanpa ragu.
Menulis buku bagaikan desainer merancang dan membuat baju.
Menulis buku bagaikan menggesek biola menghasilkan suara merdu.

SAHABAT PENA KITA

Sahabat Pena Kita
Rumah singgah bersama
Mengasah daya cipta
Mengabdi untuk bangsa.

Mari bergandeng tangan
Bergerak beriringan
Singkirkan segala rintangan
Wujudkan karya idaman.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Chirzin
Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. adalah guru besar Tafsir Al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Tim Revisi Terjemah al-Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an) Badan Litbang Kementrian Agama RI.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals