Partikel-Partikel Ayat Al-Quran Dalam Ihya Ulumuddin

Sebab al-Quran adalah sumur energi utama dalam menggerakkan laku-laku ruhani umat


Kitab Ihya Ulumuddin adalah magnum opus yang ditulis oleh cendekiawan muslim tersohor Imam Abu Hamid al-Ghazali. Kitab dengan genre tasawuf ini memuat topik bahasan ilmu keislaman yang cukup komprehensif mulai dari fiqih, teologi sampai rubrik-rubrik tasawuf itu sendiri. Singkatnya, tema‐tema bahasan yang ada di dalamnya memang memantulkan visi sang penulis untuk mengaktifkan kembali cagar ilmu keislaman dalam laku yang aktual.

Imam Ghazali membagi kitab ini ke dalam 4 kuadran. Kuadran yang pertama berbincang seputar ubudiah pada para pengkajinya. Setelah selesai dengan persoalan ubudiah dilanjut pada kuadran berikutnya yaitu kuadran tentang adat kebiasaan yang berkelindan dengan laku muamalah sehari‐hari. Selanjutnya pada kuadran ketiga Imam Ghazali mulai masuk pada dimensi tasawuf dengan membahas al‐muhlikat atau sesuatu yang membahayakan seorang hamba. Terakhir dalam kuadran kitab ini ditutup dengan perbincangan seputar al‐munjiyat atau hal‐hal yang dapat menyelamatkan seorang hamba.

Salah satu keunikan dari sistematika yang diaplikasikan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab ini adalah sebaran partikel ayat-ayat al-Quran di dalamnya. Hampir setiap bab dalam bahasan kitab Ihya diawali oleh ayat-ayat al-Qur’an. Atau minimal di dalamnya terdapat sisipan partikel ayat yang biasa bergandeng atau beriringan dengan hadis atau qaul sang penulis.

Dalam kuadran pertama bab awal tentang pengetahuan (al-‘ilm), pengajaran (al-ta’lim) dan pembelajaran (al-ta’allum), Imam Ghazali mengetengahkan beberapa ayat di antaranya yang paling awal adalah Q.S. Ali Imran ayat 13. Dalam syarah ayat tersebut diterangkan bahwa hendaklah kita mengamati bagaimana Tuhan mengawali persaksian ketauhidan diri-Nya mulai dari Dia, para malaikat-Nya dan ahli ilmu. Bagi Imam Ghazali, ini adalah suatu prestise yang sangat besar bagi para pemilik pengetahuan.

Selanjutnya pada kuadran kedua yang diwali dengan bahasan seputar santapan (al-aklu) Imam al-Ghazali mengetengahkan Q.S. al-Mu’minun ayat 51 sebagai ayat pertama yang dikutip. Bagi beliau ayat tersebut merupakan legitimasi bahwa aktifitas makan adalah aktifitas religius. Namun dengan catatan selama makan tersebut dalam takaran qadr al-hajat (sesuai kebutuhan) dan dipergunakan untuk kepentingan pengetahuan, amal, dan pengukuhan ketakwaan.

Adapun dalam kuadran ketiga Imam Ghazali memulainya dengan bahasan seputar hati. Ayat pertama yang dikutip olehnya adalah Q.S. al-Hasyr ayat 19. Beliau juga menegaskan dari ayat tersebut bahwa makrifat kita pada hati dan segala hakikat kelembutannya adalah hal yang primer dalam agama dan asas utama jalan para salik.

Dalam kuadran keempat Imam Ghazali membukanya dengan bahasan taubat. Setelah cukup disuguhi beberapa paragraf yang terselip di dalamnya beberapa hadis, muncullah ayat pertama yang berkait kelindan dengan tema tersebut pada Q.S. al-Nur ayat 31 dilanjut dengan Q.S. al-Tahrim ayat 8 dan Q.S. al-Baqarah ayat 222. Ayat yang pertama merupakan ‘agitasi’ taubat secara general, yang kedua mulai masuk pada kualitas taubat itu sendiri yakni yang ikhlas karena Allah bersih dari berbagai kotoran ruhani, sedang ayat yang terakhir adalah tentang keutamaan orang yang melakukan pertaubatan di mana Allah akan menghujani orang tersebut dengan cinta-Nya.

Hadirnya partikel-partikel ayat al-Quran dalam bahasan-bahasan Kitab Ihya Ulumuddin menunjukkan ciri khas kepenulisan Imam Ghazali sendiri. Pasalnya menurut Ulil Abshar Abdalla salah satu cendekiawan muslim yang mengampu pengajian daring kitab Ihya saat ini cukup jarang seorang ahli filsafat sekaligus sufi yang menulis kitab dengan sistematika yang demikian baik itu seperti al-Farabi maupun Ibnu Sina. Terlebih pensyarahan ayatnya itu terasa sangat segar dengan aroma corak isyari.

Selain itu hadirnya partikel-partikel ayat al-Quran yang diketengahkan oleh Imam Ghazali memang selaras dengan visi utamanya menghidupkan kembali pengetahuan-pengetahuan agama di tengah-tengah umat. Sebab al-Quran adalah sumur energi utama dalam menggerakkan laku-laku ruhani umat. Di samping itu menurut Gus Ulil bahwa dalam penulisan Ihya, Imam Ghazali selalu menyisipkan kiasan-kiasan yang terasa hidup. Semua pembahasan yang bersifat teoritis, di tangannya menjadi hidup. Sebab Imam Ghazali mengungkapkannya dengan berbagai bentuk metafor yang bisa mengaktifkan imajinasi setiap pembacanya. Oleh karena itu, kombinasi antara partikel ayat al-Quran dengan metafor yang renyah menjadi sebuah sajian yang sangat menggiurkan untuk dinikmati oleh ruhani.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Cecep Jaenudin

Cecep Jaenudin lahir di Majalengka, 2 Juli 1993. menyelesaikan studi magister pendidikan bahasa arab di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Anggota di GESTURE (Global Institute for Humanity and Culture). Saat ini aktif menimba sekaligus menyemai pengetahuan di Al-Azhar Yogyakarta.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals